Ilustrasi


{ فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ

عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى} [النازعات: 37 – 41]

  1. Adapun orang yang melampaui batas, [An Nazi’at:37]
  2. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, [An Nazi’at:38]
  3. maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). [An Nazi’at:39]
  4. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, [An Nazi’at:40]
  5. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). [An Nazi’at:41]

===

Adapun orang yang melampaui batas dalam kesesatan – 37

Dan mengutamakan kehidupan dunia yang fana’ (tidak kekal, hanya sementara) dibanding kehidupan akhirat yang abadi -38

Maka neraka lah tempat tinggal tetapnya yang ia tinggal padanya -39.

Dan adapun orang yang takut posisinya di hadapan Tuhannya, dan menahan dirinya dari mengikuti nafsunya terhadap yang diharamkan Allah, – 40, maka sesungguhnya surga lah tempat menetap yang ia tinggal padanya. – 41 (Al-Mukhtashar fi Tafsiril Qur’an, Markaz Tafsir, Riyadh, hal 584).

***

Betapa ruginya bila di dunia ini tidak takut kepada Allah Ta’ala, bahkan lebih memilih kesenangan dunia ataupun jabatan yang belum tentu diperoleh, itupun pakai mempermainkan agama Allah…  Na’udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian).

Sudah dalam Islam yang benar pun, yang berat adalah menahan nafsu dengan aneka godaannya. Nafsu serakah, bahkan nafsu yang dapat membatalkan amal-amal kebaikan, misalnya riya’, pamer kebaikan, pencitraan dan sebagainya… itu semua sangat merugikan untuk di akherat kelak. Dirasa sudah beramal banyak, tahu2 muspra sirna sia-sia, akibat riya’, pamer dan semacamnya.

Mari kita berhati-hati dalam hidup di dunia ini. Ikuti perintah Allah yang disampaikan RasulNya, jauhi apa yang dicegah. Termasuk yang paling dicegah adalah mengadakan ibadah2 bikinan, bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dikenal dengan sebutan bid’ah. Itu wajib dijauhi, bukan malah dibela mati-matian atau bahkan dipasarkan dan dibesar-besarkan.

Cukuplah kita mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan setia semampu kita. Itu sudah dijamin oleh Allah Ta’ala.

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [آل عمران: 31]

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali ‘Imran:31]

Katakanlah -wahai Rasulullah- jika kalian cinta Allah benar-benar, maka ikutilah apa yang aku bawa (Islam) secara lahir batin, maka kalian akan mencapai kecintaan Allah, dan Allah mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah adalah Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat di antara hamba-hambaNya, Maha Kasihsayang dengan mereka. (Al-Mukhtashar fi Tafsiril Qur’an, Markaz Tafsir, Riyadh, hal 54)

Dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semampu masing-masing, tanpa menambahi apa yang telah ditetapkannya, tanpa menguranginya pula, Insya Allah selamat dunia akherat. Karena telah dalam kadaan takut kepada Allah dan menahan hawa nafsu dari segala yang diharamkan. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 789 kali, 1 untuk hari ini)