NASIB PILU Gadis Surabaya Korban Rudapaksa Pendeta, Gagal Nikah, Trauma Berat & Nyaris Bunuh Diri



Penampakan HL, Pendeta yang Rudapaksa Jemaatnya/ foto riauonline

 

SURABAYA – Seorang gadis Surabaya berinisial IW (26), diduga korban pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang tokoh agama pendeta selama 17 tahun bernasib pilu.

Kasus rudapaksa yang terjadi begitu lama tersebut membuat gadis Surabaya itu gagal nikah dengan calon suaminya.

Padahal, acara pernikahannya tinggal menghitung hari. Tak hanya gagal nikah, dia juga mengalami traumaa berat hingga nyaris bunuh diri.

Kasus pendeta perkosa gadis di Surabaya tersebut terungkap ketika IW menolak ajakan orang tuanya melakukan acara sakral pernikahan di tempat ibadah yang dipimpin pendeta tersebut.

 

IW memberontak ketika orang tuanya terus memaksanya melangsungkan pernikahan di sana.

Mengetahui perilaku anaknya yang tak biasa, orang tuanya pun menginterogasi. IW pun akhirnya mengaku. 

Kini kondisi IW memprihatinkan.

 

Hal itu diungkapkan oleh perwakilan keluarga IW, Jeannie Latumahina kepada awak media di Mapolda Jatim, Senin (2/3/2020).

Menurutnya, IW saat ini harus menanggung beban psikis setelah diduga menjadi korban rudapaksa pendeta berinisial HL, di sebuah tempat ibadah Kota Surabaya.

Dia diduga menjadi korban kekerasan seksual setelah dirudapaksa berkali-kali oleh HL, sejak usianya sembilan tahun hingga kini berusia 26 tahun.


Penulis: Luhur Pambudi
Editor: Iksan Fauzi


Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul NASIB PILU Gadis Surabaya Korban Rudapaksa Pendeta, Gagal Nikah, Trauma Berat & Nyaris Bunuh Diri, https://surabaya.tribunnews.com/.

SURYA.co.id | Selasa, 3 Maret 2020 19:57

***

Dalam Islam ada ketegasan

{الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ } [النور: 3]

3. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. [An Nur:3]

 

Hukum Islam Mengenai Kasus Pemerkosaan

By  Ustadz Ammi Nur Baits Mar 21, 2011



Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Pak Ustadz,

  1. Apa hukuman bagi pelaku pemerkosaan dan pelaku aborsi, menurut hukum Islam?
  2. Jika tidak ditemukan empat orang saksi dalam kasus pemerkosaan tersebut, apakah ada cara lain untuk menjerat pelaku?

Jazakumullahu khairan katsira (semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan yang banyak).

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Hukum Islam untuk kasus pemerkosaan ada dua:

Pertama: Pemerkosaan tanpa mengancam dengan menggunakan senjata.

Orang yang melakukan tindak pemerkosaan semacam ini dihukum sebagaimana hukuman orang yang berzina. Jika dia sudah menikah maka hukumannya berupa dirajam, dan jika belum menikah maka dia dihukum cambuk 100 kali serta diasingkan selama satu tahun. Sebagian ulama mewajibkan kepada pemerkosa untuk memberikan mahar bagi wanita korban pemerkosaan.

Imam Malik mengatakan, “Menurut pendapat kami, tentang orang yang memperkosa wanita, baik masih gadis maupun sudah menikah, jika wanita tersebut adalah wanita merdeka (bukan budak) maka pemerkosa wajib memberikan mahar kepada sang wanita. Sementara, jika wanita tersebut adalah budak maka dia wajib memberikan harta senilai kurang sedikit dari harga budak wanita tersebut. Adapun hukuman dalam masalah ini hanya diberikan kepada pemerkosa, sedangkan wanita yang diperkosa tidak mendapatkan hukuman sama sekali.” (Al-Muwaththa’, 2:734)

Imam Sulaiman Al-Baji Al-Maliki mengatakan, “Wanita yang diperkosa, jika dia wanita merdeka (bukan budak), berhak mendapatkan mahar yang sewajarnya dari laki-laki yang memperkosanya. Sementara, pemerkosa dijatuhi hukuman had (rajam atau cambuk). Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam Al-Laits, dan pendapat yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Sementara, Abu Hanifah dan Ats-Tsauri mengatakan, ‘Dia berhak mendapatkan hukuman had, namun tidak wajib membayar mahar.'”

Kemudian, Imam Al-Baji melanjutkan, “Dalil pendapat yang kami sampaikan, bahwa hukuman had dan mahar merupakan dua kewajiban untuk pemerkosa, adalah bahwa untuk hukuman had ini terkait dengan hak Allah, sementara kewajiban membayar mahar terkait dengan hak makhluk ….” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’, 5:268).

Kedua: Pemerkosaan dengan menggunakan senjata.

Orang yang memerkosa dengan menggunakan senjata untuk mengancam, dihukumi sebagaimana perampok. Sementara, hukuman bagi perampok telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)

Dari ayat di atas, ada empat pilihan hukuman untuk perampok:

  1. Dibunuh.
  2. Disalib.
  3. Dipotong kaki dan tangannya dengan bersilang. Misalnya: dipotong tangan kiri dan kaki kanan.
  4. Diasingkan atau dibuang; saat ini bisa diganti dengan penjara.

Pengadilan boleh memilih salah satu di antara empat pilihan hukuman di atas, yang dia anggap paling sesuai untuk pelaku dan bisa membuat efek jera bagi masyarakat, sehingga bisa terwujud keamanan dan ketenteraman di masyarakat.

Harus ada bukti atau pengakuan pelaku

Ibnu Abdil Bar mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa orang yang melakukan tindak pemerkosaan berhak mendapatkan hukuman had, jika terdapat bukti yang jelas, yang mengharuskan ditegakkannya hukuman had, atau pelaku mengakui perbuatannya. Akan tetapi, jika tidak terdapat dua hal di atas maka dia berhak mendapat hukuman (selain hukuman had). Adapun terkait wanita korban, tidak ada hukuman untuknya jika dia benar-benar diperkosa dan dipaksa oleh pelaku. Hal ini bisa diketahui dengan teriakannya atau permintaan tolongnya.” (Al-Istidzkar, 7:146)

Syeikh Muhammad Shalih Munajid memberikan penjelasan untuk keterangan Ibnu Abdil Bar di atas, “Jika tidak terdapat bukti yang menyebabkan dia berhak mendapat hukuman had, baik karena dia tidak mengakui atau tidak ada empat orang saksi, maka (diberlakukan) pengadilan ta’zir (selain hukuman had), yang bisa membuat dirinya atau orang semisalnya akan merasa takut darinya.” (Disarikan dari Fatawa Al-Islam, Tanya-Jawab, diasuh oleh Syekh Muhammad Shaleh Munajid, fatwa no. 72338).

Dijawab oleh Tim Dakwah Konsultasi Syariah
Artikel www.KonsultasiSyariah.com


https://konsultasisyariah.com/3966-hukum-kasus-pemerkosaan.html

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.656 kali, 1 untuk hari ini)