Ketika sebagian orang yang mengaku Islam tidak mengindahkan peringatan Allah bahwa orang mukmin/ muslim itu bersaudara, maka terjadilah pengkhianatan. Para pengkhianat itu justu bersaudaranya bukan dengan orang Islam tetapi dengan orang kafir. Maka terjadilh “himpunan” orang-orang kafir dengan para pengkhianat (munafiq) tersebut.

Bentuk itu masih ditambah jadi lebih kompleks pula, karena pengkhianat itu bukan hanya terdiri dari yang “bersaudara” dengan orang kafir asli, namun ada juga yang berkomplot dengan kafir yang bertudung Islam, di antaranya syiah. Syiah itu mengaku Islam tapi qiblatnya bukan Ka’bah, namun Karbala di Irak yang ada kuburan Husein radhiyallahu ‘anhu. Hingga sejutaan orang syiah Iran berhaji dan wuquf arafahnya bukan di Makkah dan Arafah, namun di Karbala.

Nah, pengkhianat yang berwala’ (loyal) kepada syiah (yang memusuhi Islam secara aqidah keyakinan maupun secara fisik berupa membantai Umat Islam) itu lebih sulit lagi dihadapinya, karena syiah itu sendiri mengaku Islam, sedang pendukungnya itu sendiri ketika mau dikatakan sebagai orang syiah ya memang amaliahnya bukan secara syiah.

Itulah kompleksitas warna-warni kafirin dan munafiqin masa kini. Hingga hampir saja para ulama dan tokoh Islam pun terjebak (atau bahkan sudah terperangkap?) permainan kompleksitas warna-warni kafirin dan munafiqin itu.

Oleh karena itu, Umat Islam sangat perlu menghadapi kenyataan pahit ini dengan merujuk kepada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Peringatan Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ أَوْلِياَءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فيِ اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ

t73.  Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu[625], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. ((QS Al-Anfal: 73)

[625]  yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

اْلمُناَفِقُوْنَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ أيَدْيِهْمِ ْنَسُوْا اللهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ هُمُ اْلفَاسِقُوْنَ

  1. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 67).

[648]  Maksudnya: berlaku kikir

إِنَّ اْلمُناَفِقِيْنَ فيِ الدَّرْكِ اْلأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْراً -145- إِلاَّ الَّذِيْنَ تاَبُوْا وَأَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللهِ وَأَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ للهِ فأولئك مع المؤمنين وسوف يؤت الله المؤمنين أجرا عظيما

  1. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
  2. Kecuali orang-orang yang Taubat dan mengadakan perbaikan[369] dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka Karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.(QS An-Nisaa’: 145, 146)

[369] mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ(أحمد ، وابن أبى الدنيا فى ذم الغيبة ، وابن عدى ، ونصر فى الحجة ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، والضياء عن عمر. قال الألباني في ” السلسلة الصحيحة ” 3 / 11 : إسناده صحيح )

Dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya yang paling saya takuti dari apa yang aku takuti atas ummatku adalah setiap orang munafik yang sangat pandai bicara. (HR Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ibnu ‘ِِِAdi, Nashr, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ad-Dhiyaa’; dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah juz 3/ 11).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.624 kali, 1 untuk hari ini)