.

Na’udzubillaah…! NU Bolehkan Zina di Tempat Pelacuran

(Ini Bahasa Jawa, disusul dengan Bahasa Indonesia di bagian bawah).

Dipun kuwatosaken, NU klebet kaum ingkang ing lebet hadits Bukhari kasebut menghalalkan zina. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung saking ingkang mekaten. Padahal zina punika piyambak ancamannya ing akherat dahsyat sanget, apalagi menghalalkannya.
Ing lebet hadits shahih ditegaskan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ – وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ ».

Artinya ” Ada 3 golongan (manusia) yang Allah tak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat & tak mensucikan mereka -Abu Muawiyah berkata, dan tak melihat kepada mereka-, & bagi mereka siksa yang sangat pedih, yaitu ; Orang tua yang berzina, raja yang pendusta (pembohong) & orang miskin yang sombong” [Hadits shahih riwayat Muslim 1/72 dari jalan Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diatas]
Zina yaiku pandamel haram miturut Islam, bahkan klebet dosa ageng, lan pelakunipun kenging hukuman had. pelaku zina muhson (ingkang sampun nate rabi) dipun hukum pejahi kaliyan cara dirajam yaiku dilempari sela ngantos pejah. Lan pelaku zina ingkang dereng nate rabi mila hukumanipun didera/dijilid utawi dipuncemethi kaping 100 uga dipunbucal salebetipun sataun.

lebet Islam, nyelaki zina kamawon mboten angsal, apalagi nglampahi zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]

Artinya ” Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) & seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa: 32]
Ayatnya jelas, nanging katingalipun NU nubruk nash Al-Quran punika. ing antawis teks saking hasil pembahasane NU yaiku:
Untuk meminimalisir penularan HIV, salah satu Strategi Nasional dalam penanggulangan HIV dan AIDS yang sedang dikembangkan adalah membentuk organisasi komunitas yang akan menjadi wadah bagi mereka untuk turut berpartisipasi dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Salah satu yang sudah terbentuk dengan fasilitasi KPAN adalah Organisasi Pekerja Seks Indonesia (OPSI) yang menghuni tepat-tempat lokalisasi. Ini bisa dipahami, karena organisasi ini dibentuk oleh negara, maka kehadiran dan aktivitasnya menjadi legal. Tindakan-tindakan stigmatik dan kriminalisasi terhadap mereka menjadi tidak bisa dibenarkan. ((Sumber: Hasil Bahtsul Masail Diniyah Lembaga Kesehatan NU tentang Penanggulangan HIV-AIDS/Red. Ulil H) .

Punapa kok NU ing mriki kasebut nubruk nash?

Amargi ing lebet kaidah sampun dipun tepang, mboten enten ijtihad beserta nash (teks dalil ingkang pertela). dados, ijtihad mboten dipunbetahaken nalika sampun enten teks ayat utawi hadits ingkang tegas utawi pertela jarwinipun. lebet hal niki haramnya zina punika kinantenan tegas ayatnya. mila mboten enten ijtihad malih, apalagi ngantos nubruk nash.

Kenekatan NU ingkang ngangsalaken lokalisasi pelacuran, ngerteni alias ngangsalaken bahkan terkesan mendukung lokalisasi pelacuran mawi praktek zina ingkang piyambake sedaya anggep legal punika sami kaliyan menghalalkan zina, bahkan nginggihi/ nyetujoni legalnya zina. langkung saking punika bahkan NU nggadhahi pamanggih, mboten dipun leresaken stigmatisasi (nganggep awon) dhumateng organisasi lonthe ing ndalem praktek zinanipun ing lokalisasi, amargi legal. Na’udzubillah. NU sampun menghalalkan zina uga sisan mengharamkan benci dhateng kemunkaran, kemaksiatan ingkang sakedahipun dibenci bahkan diberantas. Taksih pantaskah piyambake sedaya ngaken organisasi Islam bahkan berlabel ulama?

Punika jelas mungsuhi nash Al-Quran babagan zina. uga punika pertela mboten klebet ingkang kasebut “ijtihad ingkang klintu”, ingkang taksih angsal pahala setunggal, nanging justru kenging ancaman ayat:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (١١٥)

115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115).
[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

Kanthi hasil pembahasan ing NU ingkang mendukung lokalisasi pelacuran lan praktek pelacuran ing lebetipun punika menawi mangkenipun enten lokalisasi uga para pelacur ingkang bersandarkan rujukan ing menika mila para pandamel keputusan punika badhe angsal dosa uga dosa saking para pelaku pelacuran tanpa ngirangi saking dosanipun.

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ .

Dan barang siapa yang melakukan/ memunculkan di dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah (tradisi atau perilaku yang buruk) lalu diikuti orang-orang sesudahnya, maka ia akan ikut mendapatkan dosa mereka, tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa yang mereka peroleh.” (H.R. Muslim).

Dados mboten angsal “pahala setunggal amargi kalepatan ijtihad” nanging angsal dosa uga taksih ugi angsal dosa saking tiyang ingkang niru mempraktekkan zina (ingkang dihalalaken ing pembahasane NU punika) tanpa ngirangi saking dosanipun para pelakunipun. Saibo mengerikannya. Lan punika bahayanya, taksih ugi berbahaya dhateng Umat Islam, ing antawisipun badhe nyebaraken sesakit, ndhatengaken azabe Allah, nuwuh suburakem peredaran minuman keras, narkoba, lan manusia-manusia dayyuts (tiyang ingkang mboten ngraos cemburu dhateng tingkh keji keluarganya) ingkang sanget sanget diancam dening Nabi shallalahu‘alaihi wa sallam.

Ing lebet hadits:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخُبْثَ

Dari Salim bin Abdillah bin Umar bahwa dia mendengar (bapak)nya berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tiga golongan yang Allah mengharamkan surga atas mereka: pecandu khamer, anak yang durhaka kepada orang tua, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian.” (Hr Ahmad, Dishahihkan Oleh Al-Albani Dalam Shahih Al-Jami’ Nomor 3052, Dalam Al-Jami’ As-Shaghir Wa Ziyadatuh Nomor 5363).
Dipun kuwatosaken, NU klebet kaum ingkang ing lebet hadits Bukhari kasebut ngalalaken zina. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung saking ingkang mekaten.

Imam Al-Bukhari sampun meriwayatkan sacara mu’allaq (tergantung, mboten kasebataken sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ngendika:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari). Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kaping kalih: pirantos-pirantos musik punika disandingkan kaliyan ingkang sampun mesti haramnya yaiku zina uga khamar (minuman keras), sakupami pirantos musik punika mboten diharamkan mila mesti mboten disandingkan kaliyan zina uga khamr punika.

(Fatawa Islam, Soal uga wangsul juz 1 halaman 916, kaliyan bimbingan SyaikhMuhammad Shalih al-Munajid. Sumber wwwislam-qacom soal nomor 12647).

Sanget dipun prihatinaken, NU katingal menjerumuskan badan uga umat dhateng dalan sanes Islam, bahkan ingkang dipun awisi sanget dening Allah Ta’ala. Napa piyambake sedaya ngrupikaken kempalan tiyang-tiyang ingkang nantang Allah? Wallahu a’lam.

(nahimunkar.com)

***

(Bahasa Indonesia)

Na’udzubillaah…! NU Bolehkan Zina di Tempat Pelacuran

Dikhawatirkan, NU termasuk kaum yang di dalam hadits Bukhari disebut menghalalkan zina. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung dari yang demikian. Padahal zina itu sendiri ancamannya di akherat sangat dahsyat, apalagi menghalalkannya.
Dalam hadits shahih ditegaskan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ – وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ ».

Artinya ” Ada 3 golongan (manusia) yang Allah tak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat & tak mensucikan mereka -Abu Muawiyah berkata, dan tak melihat kepada mereka-, & bagi mereka siksa yang sangat pedih, yaitu ; Orang tua yang berzina, raja yang pendusta (pembohong) & orang miskin yang sombong” [Hadits shahih riwayat Muslim 1/72 dari jalan Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diatas]

Zina adalah perbuatan haram dalam Islam, bahkan termasuk dosa besar dan pelakunya terkena hukuman had. Pelaku zina muhson (yang sudah pernah nikah) dihukum bunuh dengan cara dirajam yaitu dilempari batu sampai mati. Sedangkan pelaku zina yang belum pernah nikah maka hukumannya didera/dijilid atau dicambuk 100 kali dan dibuang selama setahun.

Dalam Islam mendekati zina saja tidak boleh, apalagi melakukannya.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]

Artinya ” Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) & seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa: 32]

Ayatnya sudah jelas, namun tampaknya NU menabrak nash Al-Qur’an itu. Di antara teks dari hasil bahasan NU adalah:

Untuk meminimalisir penularan HIV, salah satu Strategi Nasional dalam penanggulangan HIV dan AIDS yang sedang dikembangkan adalah membentuk organisasi komunitas yang akan menjadi wadah bagi mereka untuk turut berpartisipasi dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Salah satu yang sudah terbentuk dengan fasilitasi KPAN adalah Organisasi Pekerja Seks Indonesia (OPSI) yang menghuni tepat-tempat lokalisasi. Ini bisa dipahami, karena organisasi ini dibentuk oleh negara, maka kehadiran dan aktivitasnya menjadi legal. Tindakan-tindakan stigmatik dan kriminalisasi terhadap mereka menjadi tidak bisa dibenarkan. ((Sumber: Hasil Bahtsul Masail Diniyah Lembaga Kesehatan NU tentang Penanggulangan HIV-AIDS/Red. Ulil H) .

Kenapa NU di sini disebut menabrak nash?

Karena dalam kaidah telah dikenal, tidak ada ijtihad beserta nash (teks dalil yang jelas). Jadi, ijtihad tidak dibutuhkan ketika sudah ada teks ayat atau hadits yang tegas atau jelas maknanya. Dalam hal ini haramnya zina itu sudah jelas tegas ayatnya. Maka tidak ada ijtihad lagi, apalagi malah menabrak nash.

Kenekatan NU yang membela lokalisasi pelacuran, memahami alias membolehkan bahkan terkesan mendukung lokalisasi pelacuran serta praktek zina yang mereka anggap legal itu sama dengan menghalalkan zina bahkan menyetujui legalnya zina. Lebih dari itu bahkan NU berpendapat tidak dibenarkan stigmatisasi (menganggap buruk) terhadap organisasi pelacur dalam praktek zinanya di lokalisasi, karena legal. Na’udzubillah. NU telah menghalalkan zina dan sekaligus mengharamkan benci terhadap kemunkaran, kemaksiatan yang seharusnya dibenci bahkan diberantas. Masih pantaskah mereka mengaku organisasi Islam bahkan berlabel Ulama?

Itu jelas melawan nash Al-Qur’an tentang zina. Dan itu jelas bukan termasuk yang disebut “ijtihad yang salah”, yang masih mendapat pahala satu, namun justru terkena ancaman ayat:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (١١٥)

115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115).

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

Dengan hasil pembahasan di NU yang mendukung lokalisasi pelacuran dan praktek pelacuran di dalamnya itu apabila nantinya ada lokalisasi dan para pelacur yang bersandarkan rujukan padanya maka para pembuat keputusan itu akan mendapatan dosa dan dosa dari para pelaku pelacuran tanpa berkurang darinya.

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا ، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ .

Dan barang siapa yang melakukan/ memunculkan di dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah (tradisi atau perilaku yang buruk) lalu diikuti orang-orang sesudahnya, maka ia akan ikut mendapatkan dosa mereka, tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa yang mereka peroleh.” (H.R. Muslim)

Jadi bukan mendapat “pahala satu karena kesalahan ijtihad” namun mendapatkan dosa dan masih pula mendapatkan dosa dari orang yang mempraktekkan zina (yang mereka bolehkan itu) tanpa berkurang darinya. Betapa mengerikannya. Dan itu bahayanya, masih pula berbahaya bagi Umat Islam, di antaranya akan meratakan penyakit, mendatangkan azab Allah, menumbuh suburkan peredaran minuman keras, narkoba, dan manusia-manusia dayyuts (orang yang tiada kecemburuan terhadap kekejian keluarganya) yang sangat keras diancam oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadits:

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخُبْثَ

Dari Salim bin Abdillah bin Umar bahwa dia mendengar (bapak)nya berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tiga golongan yang Allah mengharamkan surga atas mereka: pecandu khamer, anak yang durhaka kepada orang tua, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian.” (Hr Ahmad, Dishahihkan Oleh Al-Albani Dalam Shahih Al-Jami’ Nomor 3052, Dalam Al-Jami’ As-Shaghir Wa Ziyadatuh Nomor 5363).

Dikhawatirkan, NU termasuk kaum yang di dalam hadits Bukhari disebut menghalalkan zina. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung dari yang demikian.

Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari). Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.

(Fatawa Islam, Soal dan Jawab juz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber:www.islam-qa.com, soal nomor 12647).

Sangat disayangkan, NU tampak menjerumuskan diri dan umat ke jalan selain Islam, bahkan yang sangat dilarang oleh Allah Ta’ala. Apakah mereka merupakan kumpulan penentang Allah? Wallahu a’lam.

Inilah beritanya. Dan di bagian bawah ada penjelasan tentang masalah zina.

***

Rabu, 5 Rabiul Akhir 1435 H / 5 Februari 2014 18:45 wib

Nah lho, NU Berpendapat Lokalisasi Pelacuran Diperbolehkan. Gak Percaya?

JAKARTA (voa-islam.com) – Bagi Nahdlatul Ulama (NU) rokok meski itu bisa membunuh seseorang hukumnya halal, demikian dengan lokalisasi prostitusi.

Gak percaya?

Mari kita simak alasan pengambilan hukum dan memperbolehkan lokalisasi prostitusi sebagaimana kami kutip dari halaman situswww.nu.or.id

Sumber asli : Disini

HIV&AIDS telah benar mewabah di Indonesia. Penyebarannya pun sudah sampai pada hampir semua kabupaten di Indonesia. Penyakit HIV yang salah satu penularannya disebabkan oleh pola hubungan yang tidak aman ini sering dialamatkan pada pekerja seks yang menjadi biang keladinya. Terlepas dari itu, wabah AIDS sudah menjadi ancaman serius bagi bangsa.

Untuk meminimalisir penularan HIV, salah satu Strategi Nasional dalam penanggulangan HIV dan AIDS yang sedang dikembangkan adalah membentuk organisasi komunitas yang akan menjadi wadah bagi mereka untuk turut berpartisipasi dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Salah satu yang sudah terbentuk dengan fasilitasi KPAN adalah Organisasi Pekerja Seks Indonesia (OPSI) yang menghuni tepat-tempat lokalisasi. Ini bisa dipahami, karena organisasi ini dibentuk oleh negara, maka kehadiran dan aktivitasnya menjadi legal. Tindakan-tindakan stigmatik dan kriminalisasi terhadap mereka menjadi tidak bisa dibenarkan. Sementara itu, perzinaan atau seks bebas merupakan perbuatan yang dilarang agama.

Pada hakikatnya, kewajiban pemerintah adalah menegakkan keadilan bagi masyarakat sehingga kemaslahatan tercapai. Pemerintah harus membuat regulasi yang melarang praktek perzinahan dan pada saat yang sama menegakkan regulasi tersebut. Inilah maslahah ‘ammah yang wajib dilakukan pemerintah.

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

perlakuan (kebijakan) imam atas rakyat mengacu pada maslahat”

Lokalisasi hadir sebagai solusi pemerintah untuk mengurangi dampak negatif perzinahan, bukan menghalalkannya. Dengan dilokalisir, efek negatif perzinahan dapat dikelola dan dikontrol sehingga tidak menyebar ke masyarakat secara luas, termasuk penyebaran virus HIV. Dengan kontrol yang ketat dan penyadaran yang terencana, secara perlahan keberadaan lokalisasi akan tutup dengan sendirinya karena para penghuninya telah sadar dan menemukan jalan lain yang lebih santun.

Tujuan ini akan tercapai manakala program lokalisasi dibarengi dengan konsistensi kebijakan dan usaha secara massif untuk menyelesaikan inti masalahnya. Kemiskinan, ketimpangan sosial, peyelewengan aturan, dan tatatan sosial harus diatasi. Mereka yang melakukan praktik perzinahan di luar lokalisasi juga harus ditindak tegas. Jika saja prasyarat tersebut dilakukan, tentu mafsadahnya lebih ringan dibanding kondisi yang kita lihat sekarang.

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف ( ابن النجيم الحنفي ، تحقيق مطيع الحافظ , الأشباه والنظائر، بيروت- دار الفكر ، ص: 96)

“Bahaya yang lebih besar dihilangkan dengan bahaya yang lebih ringan.” ( Ibn Nujaim Al-Hanafi, al-Asybah wa an-Nazhair, tahqiq Muthi` Al-Hafidz, Bairut-Dar Al-Fikr, hal: 96)

فإنكار المنكر أربع درجات الأولى أن يزول ويخلفه ضده الثانية أن يقل وإن لم يزل بجملته الثالثة أن يخلفه ما هو مثله الرابعة أن يخلفه ما هو شر منه فالدرجتان الأوليان مشروعتان والثالثة موضع اجتهاد والرابعة محرمة (ابن قيم الجوزية، إعلام الموقعين عن رب العالمين، تحقيق : طه عبد الرءوف سعد, بيروت-دار الجيل، 1983م، الجزء الثالث، ص. 4)

“Inkar terhadap perkara yang munkar itu ada empat tingkatan. Pertama : perkara yang munkar hilang dan digantikan oleh kebalikannya ( yang baik atau ma’ruf); kedua : perkara munkar berkurang sekalipun tidak hilang secara keseluruhan; ketiga : perkara munkar hilang digantikan dengan kemunkaran lain yang kadar kemungkrannya sama. Keempat: perkara munkar hilang digantikan oleh kemungkaran yang lebih besar. Dua tingkatan yang pertama diperintahkan oleh syara’, tingkatan ketiga merupakan ranah ijtihad, dan tingkatan keempat hukumnya haram”. (Ibn Qoyyim al-Jauziyah, I’lam al-Muwaqi’in an Rabbi al-‘Alamin, tahqiq: Thaha Abdurrouf Saad, Bairut- Dar al-Gel, 1983. M, vol: III, h. 40)

(Sumber: Hasil Bahtsul Masail Diniyah Lembaga Kesehatan NU tentang Penanggulangan HIV-AIDS/Red. Ulil H)

Padahal prostitusi lebih bahaya resikonya dan menjangkiti jutaan orang setiap malam. Lebih bahaya dari sekedar isu bom terorisme palsu. Bagaimana pendapat Anda? [abdullah/voa-islam.com] Rabu, 5 Rabiul Akhir 1435 H / 5 Februari 2014 18:45 wib

***

Zina: Dosanya, Hukumannya di Dunia dan di Akhirat

Zina adalah dosa yang sangat besar & sangat keji serta seburuk-buruk jalan yang ditempuh oleh seseorang berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]

Artinya ” Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) & seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang)” [Al-Israa: 32]

Para ulama menjelaskan bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا

“Janganlah kamu mendekati zina”, maknanya lebih dalam dari perkataan: “Janganlah kamu berzina” yang artinya: Dan janganlah kamu mendekati sedikit pun juga dari pada zina (*1). Yakni: Janganlah kamu mendekati yang berhubungan dgn zina & membawa kepada zina apalagi sampai berzina. (*2)

Faahisah فَاحِشَةً = maksiat yang sangat buruk & jelek
Wa saa’a sabiila وَسَاءَ سَبِيلًا = karena akan membawa orang yang melakukannya ke dlm neraka.

Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa zina termasuk Al-Kabaa’ir (dosa-dosa besar) berdasarkan ayat di atas & sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya ” Apabila seorang hamba berzina keluarlah iman (*3) darinya. Lalu iman itu berada di atas kepalanya seperti naungan, maka apabila dia telah bertaubat, kembali lagi iman itu kepadanya” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud no. 4690 dari jalan Abu Hurairah]

Berkata Ibnu Abbas.: “Dicabut cahaya (nur) keimanan di dlm zina” [Riwayat Bukhari di awal kitab Hudud, Fathul Bari 12:58-59]

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Artinya ” Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan berzina seorang yang berzina ketika dia berzina padahal dia seorang mukmin. & tak akan meminum khamr ketika dia meminumnya padahal dia seorang mukmin. & tak akan mencuri ketika dia mencuri padahal dia seorang mukmin. & tak akan merampas barang yang manusia (orang banyak) melihat kepadanya dgn mata-mata mereka ketika dia merampas barang tersebut pada dia seorang mukmin” [Hadits shahih riwayat Bukhari no. 2475, 5578, 6772, 6810 & Muslim 1/54-55]

Maksud dari hadits yang mulia ini ialah:
Pertama: Bahwa sifat seorang mukmin tak berzina & seterusnya.
Kedua: Apabila seorang mukmin itu berzina & seterusnya maka hilanglah kesempurnaan iman dari dirinya”(*4)

Di antara sifat “ibaadur Rahman” (*5) ialah: ‘tidak berzina’. Maka apabila seorang itu melakukan zina, niscaya hilanglah sifat-sifat mulia dari dirinya bersama hilangnya kesempurnaan iman & nur keimannya. (*6)

Setelah kita ini mengetahui berdasarkan nur Al-Qur’an & Sunnah Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa zina termasuk ke dlm Al-Kabaair (dosa-dosa besar) maka akan lebih besar lagi dosanya apabila kita ini melihat siapa yang melakukannya & kepada siapa?

Kalau zina itu dilakukan oleh orang yang telah tua, maka dosanya akan lebih besar lagi berdasarkan sabda Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ – وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ ».

Artinya ” Ada 3 golongan (manusia) yang Allah tak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat & tak mensucikan mereka & tak melihat kepada mereka, & bagi mereka siksa yang sangat pedih, yaitu ; Orang tua yang berzina, raja yang pendusta (pembohong) & orang miskin yang sombong” [Hadits shahih riwayat Muslim 1/72 dari jalan Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diatas]

Demikian juga apabila dilakukan oleh orang yang telah nikah atau pernah merasakan nikah yang shahih baik sekarang ini sebagai suami atau istri atau duda atau janda, sama saja, dosanya sangat besar & hukumannya sangat berat yang setimpal dgn perbuatan mereka, yaitu didera sebanyak seratus kali kemudian di rajam sampai mati atau cukup di rajam saja. Adapun bagi laki-laki yang masih bujang atau & anak gadis hukumnya didera seratus kali kemudian diasingkan (dibuang) selama 1 tahun. Dengan melihat kepada perbedaan hukuman dunia maka para ulama memutuskan berbeda juga besarnya dosa zina itu dari dosa besar kepada yang lebih besar & sebesar-besar dosa besar. Mereka melihat siapa yang melakukannya & kepada siapa dilakukannya.

Kemudian, kalau kita ini melihat kepada siapa dilakukannya, maka apabila seorang itu berzina dgn isteri tetangganya, masuklah dia kedalam sebesar-besar dosa besar (baca kembali haditsnya di fasal kedua dari jalan Ibnu Mas’ud). Dan lebih membinasakan lagi apabila zina itu dilakukan kepada mahramnya seperti kepada ibu kandung, ibu tiri, anak, saudara kandung, keponakan, bibinya & lain-lain yang ada hubungan mahram, maka hukumannya adalah bunuh. (*7)

Setelah kita ini mengetahui serba sedikit tentang zina (*8), & dosanya, hukumannya di dunia di dlm syari’at Allah & adzabnya di akhirat yang akan membawa para penzina terpanggang di dlm neraka, sekarang tibalah bagi kami utk mejelaskan pokok permasalahan di dlm fasal ini yaitu hamil di luar nikah & masalah nasab anak.

[Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk yang Dinanti (Diringkas dari pembahasan pembuka HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta, Cetakan I – Th 1423H/2002M]

Referensi
(*1). Tafsir Al-Qurthubiy, Juz 10 hal. 253
(*2). Tafsir Ruhul Ma’aaniy Juz 15 hal. 67-68 Al-Imam Al-Aluwsiy Al-Baghdadi. Tafsir Bahrul Muhith Juz 6 hal. 33.
(*3). yang dimaksud “kesempurnaan iman & cahayanya” baca syarah hadits ini di Faidlul Qadir Syarah Jami’ush Shagir 1/367 no. 660
(*4). Lihat syarah hadits ini di Fathul Bari no. 6772 Syarah Muslim Juz. 2 hal. 41-45 Imam An-Nawawi. Kitabul Iman oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 239, 240
(*5). Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Furqan ayat 68
(*6). Lihatlah tentang permasalahan zina, kerusakannya, hukumannya, dosanya, siksanya di kitab Jawaaabul Kaafiy, hal. 223 -239 & 240 – 249 oleh Al-Imam Ibnul Qayyim
(*7). Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nisaa ayat 22
(*8). Keluasan masalah zina dapat dibaca & diteliti di kitab-kitab fiqih & syarah hadits.
sumber: www.almanhaj.or.id penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat tags: Sabda Nabi, Abu Dawud, Alaihi Wa, Subhanahu Wa, Fathul Bari, Abu Hurairah, Ibnu Abbas

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.211 kali, 1 untuk hari ini)