Na’udzubillah… Anak SD Melahirkan, dari Hasil Tes DNA Terungkap hingga Pezinanya Ngaku, Ternyata adalah….

  • Hukum Bunuh bagi Orang yang Berzina dengan Mahramnya ( incest). Hubungan sedarah atau hubungan sumbang atau inses (bahasa Inggris: incest) adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat./ id.wikipedia.org
  • Barangsiapa berzina dengan mahramnya, maka hukuman hadd atasnya adalah dibunuh, baik ia seorang yang sudah menikah maupun belum menikah. Apabila ia menikahinya, maka ia dibunuh dan diambil hartanya.

  • سنن ابن ماجه (2/ 869)
  • عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: مَرَّ بِي خَالِي – سَمَّاهُ هُشَيْمٌ فِي حَدِيثِهِ الْحَارِثَ بْنَ عَمْرٍو – وَقَدْ عَقَدَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِوَاءً، فَقُلْتُ لَهُ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ فَقَالَ: «بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ، فَأَمَرَنِي أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ»
  • __________
  •  
  • [حكم الألباني]
  • صحيح
  • Dari al-Barra’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertemu pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Hendak ke mana engkau?’ Ia menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk mendatangi seorang laki-laki yang menikahi isteri ayahnya setelah kematiannya, agar aku memenggal lehernya dan mengambil hartanya.'” (Shahih: [Al-Irwaa’ (no. 2351)], [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2111)], Sunan Abi Dawud (XII/147, no. 4433), Sunan an-Nasa-i (VI/110), hadits ini pada riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah tidak memakai lafazh, “Dan aku ambil hartanya.” Sunan at-Tirmidzi (II/407, no. 1373), Sunan Ibni Majah (II/869, no. 2607).)/ Posted on 12 Juli 2016

    by Nahimunkar.org

Silakan simak ini.

***

 

Ya Allah, Ada Anak SD Melahirkan, dan Hasil Tes DNA Ungkap Identitas si ‘Penjahat Kelamin’


Ilustrasi DNA.* /Pixabay/Gerd Altmann/

DIALEKTIKA KUNINGAN – Sebut saja dia ‘X’, seorang anak gadis usia belia berumur 11 tahun yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), harus rela menanggung kepedihan aib memalukan lantaran ulah bejat seorang laki-laki durjana penjahat kelamin.

Pasalnya, X diusianya yang biasanya masih menjadi ‘kembang karang’, atau bocah yang harus menikmati suasana riang gembira bermain bersama teman sebayanya.

Sayang X, ia baru saja melahirkan bayi. Bahkan, di tengah kondisi keluarganya yang berketerbatasan wawasan ditambah kekurang sejahateraan pula dalam perekonomian. Dirinya mau tak mau kini harus mengurus bayi yang dilahirkannya itu.

Sungguh betapa kasihannya nasib X, setelah sekian lama dia terguncang oleh keadaannya yang harus berbadan dua mengandung anak yang baru saja dilahirkannya itu. Anak sekecil itu harus dibuat pusing tujuh keliling dengan tumpukan onggok aib hamil di luar nikah, apalagi diusianya yang prematur.

X memang tabah, dia menutup diri rapat-rapat apa yang menimpa dirinya itu. Sebab, anak 11 tahun itu merasa ketakutan dan ketidaktahuan bagaimana dia harus bersikap, dan lantas harus kepada siapa mengadu.

Terlebih, X diancam oleh si penjahat kelamin yang tega menggagahi kuncup baru mekar, yang belum sepantasnya atau belum masuk umur untuk melakukan hubungan yang laiknya bagi pasangan suami istri yang telah sah berumah tangga—X dilarang menceritakan apa yang dialamianya dan diperbuat si penjahat kelamin terhadap dirinya.

Sebagaimana dikutip DialektikaKuningan.com dari laman Pikiran-Rakyat.com dalam artikel “Anak 11 Tahun di Majalengka Melahirkan, Hasil Tes DNA Ungkap Identitas Pelaku Pencabulan“.

Kejadian ini terjadi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Menurut keterangan Kapolres Majalengka Ajun Komisaris Besar Polisi Bismo teguh Prakoso disertai Kasat Reskrim Ajun Komisaris Polisi Siswo Dc Tarigan, Jumat, 23 Oktober 2020, selama ini sang anak  tinggal bersama neneknya dengan keterbatasan wawasan dan kemampuan.

Hasil tes DNA mengungkap N (37), paman anak tersebut ayah dari bayi yang baru dilahirkan. Pencabulan itu pertama kali terjadi pada bulan Desember 2019.

“Dari hasil penyidikan, tersangka N, mencabuli keponakannya dengan mengiming-imingi uang jajan sebesar Rp10.000,” ungkap Kapolres Bismo.

Kasus tersebut diketahui setelah korban hamil beberapa bulan karena keluarga melihat perbedaan kondisi tubuh. Ketika anak ditanya akhirnya dia berterus terang kalau kehamilannya buah dari perilaku pamannya.

Namun paman yang telah memiliki 4 anak ini menolak tudingan, apalagi sang anak yang dihamilinya tidak mengaku meski beberapa warga yang mencurigainya.

Kepolisian yang mendapat laporan dari orang tua korban sedikit mengalami kendala karena tidak ada seorangpun saksi yang mengetahui perbuatan tersangka, hingga terpaksa harus menunggu kelahiran dan memeriksakan DNA anak.

Dan  akhirnya itu terkuak setelah kelahiran anaknya, keduanya di tes DNA.

“Kepolisian melakukan tes setelah bayi lahir juga DNA tersangka. Hasilnya ada kesesuaian,” ungkap Kapolres.

Setelah hasil tes DNA keluar penyidik segera mendatangi tersangka dan mengamankan tersangka. Dari tes DNA tersebut akhirnya tersangka mengakui perbuatannya dan katanya perbuatan yang dilakukan tersangka tidak hanya sekali.

Atas perbuatanya tersangka di jerat dengan UU No-17 Tahun 2016 Tentang Perubahan UU No 23 Tahun 2002 Pasal 81-82 Tentang Pencabulan dan Persetubuhan Terhadap Anak di Bawah Umur, dengan ancaman pidana 5 tahun sampai dengan 18 tahun  kurungan penjara.***

Tati Purnawati/Pikiran Rakyat/Kabar Cirebon

Tim Dialektika Kuningan

dialektikakuningan.pikiran-rakyat.com- 26 Oktober 2020, 12:41 WIB

*** 

Hukum Bunuh bagi Orang yang Berzina dengan Mahramnya ( incest)

Posted on 12 Juli 2016

by Nahimunkar.com

 
 

Barangsiapa berzina dengan mahramnya, maka hukuman hadd atasnya adalah dibunuh, baik ia seorang yang sudah menikah maupun belum menikah. Apabila ia menikahinya, maka ia dibunuh dan diambil hartanya.

سنن ابن ماجه (2/ 869)

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: مَرَّ بِي خَالِي – سَمَّاهُ هُشَيْمٌ فِي حَدِيثِهِ الْحَارِثَ بْنَ عَمْرٍو – وَقَدْ عَقَدَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِوَاءً، فَقُلْتُ لَهُ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ فَقَالَ: «بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةَ أَبِيهِ مِنْ بَعْدِهِ، فَأَمَرَنِي أَنْ أَضْرِبَ عُنُقَهُ»

__________

 

[حكم الألباني]

صحيح

Dari al-Barra’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bertemu pamanku yang sedang membawa bendera. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Hendak ke mana engkau?’ Ia menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk mendatangi seorang laki-laki yang menikahi isteri ayahnya setelah kematiannya, agar aku memenggal lehernya dan mengambil hartanya.'” (Shahih: [Al-Irwaa’ (no. 2351)], [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2111)], Sunan Abi Dawud (XII/147, no. 4433), Sunan an-Nasa-i (VI/110), hadits ini pada riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah tidak memakai lafazh, “Dan aku ambil hartanya.” Sunan at-Tirmidzi (II/407, no. 1373), Sunan Ibni Majah (II/869, no. 2607).)


Hukuman Bunuh bagi Orang yang Menyetubuhi Binatang


Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ وَقَعَ عَلَى بَهِيْمَةٍ فَاقْتُلُوْهُ، وَاقْتُلُوا الْبَهِيْمَةَ.

‘Siapa saja yang menyetubuhi binatang, maka bunuhlah ia, dan bunuh pula binatang tersebut.'” [17]

Hukuman Bunuh bagi Pelaku Sodomi

Apabila seorang laki-laki menyodomi dubur laki-laki lain, maka hukum hadd keduanya adalah dibunuh, baik keduanya muhshan (sudah pernah menikah) ataupun bukan.

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia menerangkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ.

“Siapa saja yang kalian melakukan perbuatan kaum Luth (sodomi), maka bunuhlah orang yang menyodomi dan orang yang disodomi.” [18]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]

 
 

 
 

Mahram adalah…

Yang dimaksud mahrom adalah wanita yang haram dinikahi oleh laki-laki. Mengenai mahrom ini telah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa’: 22-24)

Sumber: muslim.or.id

https://www.nahimunkar.org/hukum-orang-berzina-mahramnya-incest/

***

Definisi atau arti kata inses berdasarkan KBBI Online:

inses /in·ses/ /insés/ n hubungan seksual atau perkawinan antara dua orang yg bersaudara dekat yg dianggap melanggar adat, hukum, atau agama/ typoonline.com

Dalam Islam, inses adalah hubungan seks atau perkawinan dengan mahrom (wanita yang haram dinikahi -lihat QS An-Nisaa’ ayat 22-24 tersebut di atas–), maka itu adalah perbuatan haram, sedang pelakunya dihukum bunuh.

 
 

***

 
 


HUKUM BERZINA DENGAN MAHRAM (INCEST)

 
 


Dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ وَقَعَ عَلَى ذَاتِ مَحْرَمٍ فَاقْتُلُوهُ

“Siapa saja yang menyetubuhi mahramnya maka bunuhlah ia.”[1]

Pernah dilaporkan kepada Al-Hajjaj bahwa ada seorang lelaki yang memperkosa saudara perempuannya sendiri. Maka, beliau pun berkata,

اِحْبِسُوْهُ وَسَلُوْا مَنْ هَا هُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَسَأَلُوْا عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِيْ مُطَرِّفٍ” فَقَالَ : “سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : « مَنْ تُخْطِى حُرَمَ الْمُؤْمِنِيْنَ فَخُطُّوْا وَسَطَهُ بِالسَّيْفِ »”.

“Tahanlah ia dan tanyakanlah oleh kalian kepada para shahabat Rasulullah tentang perkara ini!” Kemudian, mereka bertanya kepada Abdullah bin Mutharrif, lalu beliau berkata: aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja yang melangkahi kehormatan kaum mukminin maka langkahilah bagian tengah (tubuhnya) dengan pedang”.[2]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَفِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى الْقَتْلِ بِالتَّوْسِيْطِ وَهَذَا دَلِيْلٌ مُسْتَقَلٌّ فِيْ الْمَسْأَلَةِ وَأَنَّ مَنْ لا يُبَاحُ وَطْؤُهُ بِحَالٍ فَحَدُّ وَطْئِهِ الْقَتْلُ، دَلِيْلُهُ مَنْ وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ أَوِ ابْنَتِهِ، كَذَلِكَ يُقَالُ فِيْ وَطْءِ ذَوَاتِ الْمَحَارِمِ وَ وَطْءِ مَنْ لا يُبَاحُ وَطْؤُهُ بِحَالٍ، فَكَانَ حَدُّهُ الْقَتْلُ كَاللُّوْطِيِّ“.

“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang hukuman bunuh dengan cara memotong bagian tengah (tubuh). Ini sebagai tersendiri dalam permasalahan tersebut. Sesungguhnya siapa saja yang menyetubuhi seseorang yang tidak diperbolehkan hal itu dilakukan kepadanya secara hukum asal maka hukuman baginya ialah dibunuh. Dalilnya sebagaimana orang yang menyetubuhi ibu atau anak perempuannya sendiri, seperti itu pulalah yang dikatakan dalam permasalahan menyetubuhi mahram dan menyetubuhi seseorang yang tidak diperbolehkan. Hal itu dilakukan kepadanya secara hukum asal maka hukuman bagi pelakunya ialah dibunuh sebagaimana pelaku homoseksual.”

Beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam melanjutkan,

وَقَدْ إِتَّفَقَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنْ زَنَا بِذَاتِ مَحْرَمٍ فَعَلَيْهِ الْحَدُّ وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوْا فِيْ صِفَةِ الْحَدِّ هَلْ هُوَ الْقَتْلُ بِكُلِّ حَالٍ أَوْ حَدُّهُ حَدُّ الزَّانِيْ“.

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa seseorang yang berzina dengan mahramnya harus dihukum. Akan tetapi, mereka berselisih mengenai tata caranya, apakah dibunuh (bagaimanapun keadaannya) atau dihukum sesuai dengan hukuman bagi pelaku zina.”[3]

Telah diketahui bahwa yang disebut mahram ialah setiap orang yang diharamkan  bagi seorang lelaki untuk menikahinya dengan keharaman yang bersifat selama-lamanya, tidak halal sesuatu pun atasnya.

sumber :

Buku  Seks Bebas Undercover (Halaman 35-37), Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida, Penerjemah Syuhada abu Syakir Al-Iskandar As-Salafi, Editor Medis dr.Abu Hana, Penerbit Toobagus Publishing, Bandung. Diposting kembali untuk http://damatun-nurul-ikhlas.blogspot.com

=============



[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah (2564) dalam kitab Al-Huduud. Di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Ismail bin Abi Habibah Al-Anshari, dia seorang yang dha’if (lemah). Akan tetapi, ada yang menguatkannya, yaitu hadits Ibnu Abi Khaitsamah dalam Tarikhnya dari hadits Mu’awiah bin Qurrah, dari bapaknya, dari kakeknya, “Bahwasanya Rasulullah mengutusnya kepada seorang lelaki yang menyetubuhi istri ayahnya, lalu ia memenggal lehernya dan mengambil 1/5 hartanya.” Yahya bin Ma’in berkata, “Hadits ini shahih.”

[2] Hadits ini dimaksudkan oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 6/269, dan ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalamnya terdapat Rifdah bin Qudha’ah. Hisyam bin ‘Ammar menguatkannya dan jumhur ulama mendha’ifkannya.”

[3] Al-Jawaab Al-Akaafii, hlm. 199-200.

http://damatun-nurul-ikhlas.blogspot.com

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 1.188 kali, 1 untuk hari ini)