Na’udzubillah… Guntur Romli Dukung Foto Bugil Artis Tara Basro


Ilustrasi – Guntur Romli. Foto Instagram/pojoksatuid

Wanita menampilkan diri berpakaian tapi telanjang (kasiyat ‘ariyat) saja diancam dalam hadits, tidak masuk surga dan tidak mencium bau surga, menurut hadits shahih riwayat Imam Muslim. Apalagi tampil dalam keadaan bugil tanpa busana.

Namun anehnya, Guntur Romli yang pernah jadi pengurus NU di Mesir yang kemudian dikenal sebagai pentolan liberal politikus PSI yang dikenal suka anjing piaraannya, malah justru mendukung artis yang pasang foto bugilnya di medsos. Padahal Kemenkoinfo mengancam wanita artis yang pasang foto bugilnya itu dengan ancaman telah menyalahi UU ITE pasal 27 ayat 1 terkait pornografi.

 

Inilah beritanya.

***

 

Politikus PSI Guntur Romli Dukung Foto Tara Basro tanpa Busana

 

 

 

Foto tanpa busana Tara Basro sebagai bentuk kritik terhadap kriteria kecantikan dan membangun kepercayaan diri sendiri.

Foto @TaraBasro mestinya diletakkan pada konteks yg tepat: membangun kepercayaan diri & kritik pd standar & industri kecantikan dgn foto yg sangat kuat,” kata politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli di akun Twitter-nya @Gunromli.

Kata Guntur Romli, Tara Basro melakukan kritik kriteria kecantikan secara efektif melalui foto.

Kalau tdk dgn foto itu, dgn apa? Kata-kata saja tdk mampu, di sini lah ada kekuatan gambar/foto yg tdk mampu dilakukan kata2,” ungkapnya.


Menurut Guntur, ada pihak-pihak tertentu takut kritik gambar yang dilakukan Tara Basro.

Siapa yg takut foto @TaraBasro? 1. Pejaga Moral/Susila 2. Penjaga Moral Agama 3. Penjaga Patriarkhi Misoginis 4. Penjaga Standar Kecantikan. Ibarat satu peluru, satu foto itu kena empat sasaran,” ungkap Guntur.

Guntur mengatakan, industri kecantikan yang terkena langsung kritik foto Tara Basro.

Klau ada pihak yg kena langsung oleh foto @TaraBasro adalah Penjaga Standar Kecantikan & Industrinya, bhwa cantik itu harus putih, mulus, kenceng, ramping, kurus, bercahaya…,” ujar Guntur.

Foto @TaraBasro tdk sedang memamerkan kecantikan sebuah tubuh, tapi–bagi yg sdah beriman dgn standar kecantikan made in industri kecantikan–sdang memamerkan kekurangan, ketidak-indahan, bahkan cacat atau aib yg sering ditutupi,” pungkasnya.

suaranasional.com 05/03/2020ByIbnu Maksum

 

***

Tara Basro Pamer Foto Bugil, Kominfo: Langgar UU ITE

Artis Tara Basro unggah foto bugil Kemkominfo mengatakan telah menyalahi UU ITE pasal 27 ayat 1 terkait pornografi.


Jakarta – Artis Tara Basro unggah foto bugil yang mempertontonkan lekukan tubuhnya di media sosial. Unggahan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari berbagai pihak termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo) yang menyebut pemain film Pengabdi Setan itu telah menyalahi Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) pasal 27 ayat 1 terkait pornografi.

“Iya jelas melanggar UU ITE pasal 27 ayat 1 terkait pornografi,” kata Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu kepada Tagar di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2020.

Adapun bunyi pasal 27 ayat 1 nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

Ferdinandus Setu mengatakan, pihaknya di Kominfo akan segera melakukan pengecekan terhadap foto yang diunggah di media sosial Twitter dan Instagram tersebut, serta menimbang apakah termasuk dalam kriteria pornografi atau tidak.

Jika terbukti melanggar UU ITE, Ferdinandus mengatakan pihaknya akan mengambil langkah tegas dengan menghapus paksa unggahan tersebut dan menghubungi Tara Basro.

“Iya kita akan take down dan akan hubungi orangnya nanti. Tapi kita lihat dulu foto tersebut apakah memenuhi kriteria pornografi atau tidak,” kata dia.

Tara Basro membuat publik heboh lantaran mengunggah foto bugilnya di media sosial. Foto tersebut dipamerkan pemilik nama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro itu melalui akun Twitter dan Instagram pribadinya pada Selasa, 3 Maret 2020.

Dalam unggahan tersebut, Tara seolah ingin mengkampanyekan gerakan perlawanan terhadap tindak bullying dan bodyshaming yang telah banyak memakan korban.

“Coba percaya sama diri sendiri,” cuit wanita 29 tahun itu dalam keterangan foto yang diunggah pada Selasa, 3 Maret 2020.

Eno Dimedjo



tagar.id, 4 March 2020 | 12:14 WIB

 

***

MUI Larang Wanita Berpakaian ala Jilboobs/Berjilbab Tapi Terlihat Lekuk Tubuhnya


Posted on 10 Agustus 2014

by Nahimunkarcom


JAKARTA (Panjimas.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas telah mengeluarkan fatwa haram mengenai pemakaian busana bagi muslimah yang masih memperlihatkan lekuk tubuh atau bagi wanita berjilbab, namun tetap mengenakan busana seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini dikenal dengan istilah Jilboobs.

Jilboobs adalah dari kata ‘Jilbab’ dan ‘Boobs’ (payudara) lalu dibuatlah akronim ‘Jilboobs’.

“Sudah ada fatwa MUI soal pornografi. Termasuk itu tidak boleh memperlihatkan bentuk-bentuk tubuh, pakai jilbab tapi berpakaian ketat. MUI secara tegas melarang itu,” ujar Wakil Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta, pada Kamis (7/8/2014).

Menurutnya, pihaknya mengharamkan hal tersebut lantaran aurat yang ditutup oleh muslimah itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi tuntunan syari’at Islam mengenai cara berpakaian. “Kalau begitu kan sebagian menutup aurat, sebagian masih memperlihatkan bentuk-bentuk yang sensual, itu yang dilarang,” tegasnya.

Untuk itu, MUI mengimbau agar setiap muslimah yang sudah mengenakan jilbab untuk lebih memperhatikan cara berpakaiannya. “Pertama kita menghargai mereka sudah mau berjilbab. Tapi kalau sudah pakai jilbab pakaiannya jangan seronok lagi,” jelas KH Ma’ruf Amin.

Perlu diketahui bersama, sebelumnya sebuah akun Facebook (FB) bernama Jilboobs Community hadir pada 25 Januari 2014. “Indahnya saling berbaginb: di olah dari berbagai sumber,” demikian deskripsi tentang halaman Facebook tersebut.

Akun itu memuat sejumlah foto wanita mengenakan jilbab. Yang sama dari gaya busana semua wanita berjilbab di foto itu adalah ukuran pakaian yang ketat sehingga bagian “boobs” (payudara) wanita-wanita itu terekspos dan seakan-akan diumbar. Dari kata ‘Jilbab’ dan ‘Boobs’ lalu dibuatlah akronim ‘Jilboobs’.[GA/Lip6] http://panjimas.com/ KAMIS, 10 SYAWAL 1435H / AUGUST 7, 2014

***

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.

Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.

Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.

Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.

Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,

“Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,

“Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.

Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.

Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup (dan juga memakai pakaian yang ketat sehingga tampak bentuk –lekuk-lekuk–  tubuh, red nahimunkarcom).

 (nahimunkar.org)

 

(Dibaca 1.400 kali, 1 untuk hari ini)