Bila kita merujuk kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sikap MUI ini dikhawatirkan termasuk dalam keburukan zaman menjelang munculnya Dajjal.

mui002

Dengan diangkatnya pentolan JIL Abdul Moqsith Ghazali dan orang aliran sesat LDII Hasyim Nasution jadi pengurus MUI 2015-2020, aliran-aliran sesat yang lain yang sudah difatwakan sesatnya oleh MUI atau dinyatakan sesat dalam rekomendasi MUI, kemungkinan akan memprotes dan minta jatah.

MUI sendiri telah memfatwakan haramnya faham sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme agama tahun 2005. Dan merekomendasikan agar Ahmadiyah dan LDII dibubarkan pemerintah karena ajarannya sesat, menyimpang dari ajaran Islam dan meresahkan masyarakat. Namun kini justru MUI memasukkan pentolan-pentolan yang fahamnya telah diharamkan dan dinyatakan sesat itu sebagai pengurus di MUI.

JIL adalah salah satu bagian dari kelompok liberal yang telah difatwakan haramnya oleh MUI 2005. Demikian pula LDII direkomendasikan oleh MUI 2005 untuk dibubarkan oleh pemerintah, disejajarkan dengan Ahmadiyah yang dinyatakan ajarannya sesat, menyimpang dari ajaran Islam dan meresahkan masyarakat.

MUI kali ini pimpinan Ma’ruf Amin jelas menjilat ludahnya, karena dalam rekomendasinya tahun 2005 jelas tertulis:

Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

MUI dan Zaman Diangkatnya Pengkhianat

Bila kita merujuk kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sikap MUI ini dikhawatirkan termasuk dalam keburukan zaman menjelang munculnya Dajjal.

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84 ).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).” (HR. Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir dalam ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad menyatakan isnadnya hasan dan matannya shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam al-Shahihah no. 1887)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي : جابر بن عبدالله المحدث : الألباني

المصدر : صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu kepemerintahan orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku. (Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Allahul Musta’an. Wa laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiim.

Selanjutnya, mengenai berita dan teks rekomendasi MUI 2005 sebagai berikut.

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

Posted on Sep 25th, 2013

by nahimunkar.com

mui003

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Berikut ini berita tentang diangkatnya pentolan JIL dan LDII jadi pengurus MUI.

*** 

Koordinator JIL Abdul Moqsith Ghazali Diangkat Jadi Pengurus MUI Pusat

Selasa, 29/09/2015 17:42:35

AbdulMoqshid000111

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Abdul Moqsith Ghazali (foto: yohprayogo.blogspot.com)

Jakarta (SI Online) – Salah seorang pendiri sekaligus koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Abdul Moqsith Ghazali, diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Masa Khidmat 2015-2020.

Berdasarkan Surat Keputusan No. Kep-359/MUI/IX/2015 tentang Susunan dan Personalia Pengurus Komisi-Komisi Dewan Pimpinan MUI Pusat Masa Khidmat 2015-2020, Abdul Moqsith diangkat menjadi Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama (KAUB).

Komisi Kerukunan Antarumat Beragama (KAUB) sendiri diketuai oleh Drs Choirul Fuad Yusuf MA, yang juga Kepala Pusat Litbang Lektur dan Khasanah Keagamaan Kementerian Agama.

Selain Moqsith, Wakil Sekretaris Umum LDII H. Hasyim Nasution juga mejabat sebagai wakil ketua komisi ini. Sementara sekretaris komisi dijabat oleh seorang peneliti Balitbang dan Diklat Kemenag, Dr Zainuddin Daulay.

Terkait pengangkatannya sebagai Wakil Sekretaris KAUB, Moqsith mengaku tidak tahu alasan penunjukan dirinya.

“Ya itu tidak ditanyakan kepada saya, tapi saya kira Ketua Umum punya pertimbangan tersendiri kenapa saya harus masuk ke Majelis Ulama Indonesia,” jawab Moqsith kepada sejumlah wartawan media Islam usai pengukuhan pengurus MUI Pusat, di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (29/09) saat ditanya soal ada anggapan MUI kemasukan JIL.

Dosen tafsir Alquran di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menduga, perhatian dirinya terhadap upaya pembangunan harmonitas antarumat beragama di Indonesia sesuai dengan visi Kyai Ma’ruf Amin.

“Saya kira agenda atau visi Kyai Ma’ruf jelas, bagaimana membangun kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Dan itu menjadi perhatian saya sejak lama, bagamimana memmbangun harmoni antara umat beragama,” ungkapnya.

Sebelum diangkat menjadi pengurus MUI Pusat, Moqsith juga masuk dalam struktur kepengurusan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) masa khidmat 2015-2020. Di LBMNU, lulusan Pondok Pesantren Salafiyah As-Syafi’iyyah, Asembagus, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur ini menjabat Wakil Ketua yang membidangi persoalanMaudlu’iyyah. 

Terkait aktivitasnya di Jaringan Islam Liberal (JIL), walaupun dalam website resmi JIL, islamlib.com, nama Moqsith masih tercantum sebagai salah seorang anggota dewan redaksi, bahkan dalam profil redaksi ia masih ditulis sebagai Koordinator JIL, namun pria kelahiran 7 Juni 1971 silam itu mengaku sudah tidak aktif lagi di JIL.  “Sudah nggak,” katanya singkat.

“Ya kan orang berproses, orang tumbuh. Ya masa…, saya di the Wahid Institute bahkan lebih lama lagi nggak di situ,” tambahnya.

Moqsith jugan mengaku tidak tahu lagi perkembangan JIL, menurutnya saat ini yang menangani adalah Ulil Abshar Abdalla.

“Saya nggak tahu perkembangan terakhir, karena yang banyak meng-handle kan Ulil. Yang diskusi-diskusi bulanan, ada tulisan-tulisan di web yang baru,” pungkasnya.

red: shodiq ramadhan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 18.830 kali, 5 untuk hari ini)