Jokowi (kanan) berdialog dengan sejumlah komedian nasional dalam makan malam di Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/12). Presiden mengundang 17 komedian nasional untuk makan malam di Istana. (foto: Antara/si online)


Nabi saw sangat mengecam pelawak, tapi di sini justru disubyo-subyo, diundang makan di istana negara.

Indonesia adalah negeri yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia. Maka selayaknya ajaran-ajaran Nabi saw dijunjung tinggi dan tidak dikhianati, apalagi dilecehkan.

Dalam hal yang sekarang dikenal dengan sebutan pelawak atau komedian, kalau dikaitkan dengan sabda Nabi saw, maka orang macam itu termasuk yang sangat dikecam, dengan ucapan wailun lahu wailun lahu, Celakalah baginya, celakalah baginya; kata-kata ini diulang-ulang (oleh Nabi saw) menunjukkan sangat keras kerusakannya.

Tetapi anehnya, sekarang justru disubyo-subyo, dihormati banget-banget bagai tamu agung, diajak makan malam dan makan siang di istana negara.

Duitnya (untuk menjamu para pelawak yang didoakan celaka oleh Nabi saw itu) dari mana?

Duit pemasukan, kalau berita-berita tempo dulu, 70-an persen itu dari pajak. Nah, pajak dari mana? Ya lihat saja yang mengkonsumsi barang-barang yang harus dpajaki itu ya tentu saja penduduk yang mayoritas Muslim. Jadi ya (duit itu) dari Umat Islam.

Kalau begitu, duit disedot dari Umat Islam untuk mengkhianati ajaran Nabi Muhammad saw? Relakah wahai Umat Islam?

Mari kita simak dua tulisan berikut ini: tentang kecaman Nabi saw terhadap pelawak, dan tentang para pelawak yang dijamu makan di istan negara.

***

Celakalah Para Pelawak

Posted on Dec 19th, 2014

by nahimunkar.com

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kenapa sekarang ini para pelawak dijadikan tontonan bahkan andalan? Padahal di dalam Islam, para pelawak itu adalah termasuk jenis orang yang dikecam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan berkali-kali dinyatakan celakalah baginya, celakalah baginya…

عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ (الترمذي وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ)

Dari Bahz bin Hakim, bahwa bapaknya telah bercerita kepadanya dari kakeknya, ia berkata, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara dengan satu pembicaraan agar menjadikan tertawanya kaum, maka ia berdusta, celakalah baginya, celakalah baginya.” (HR At-Tirmidzi, hadits hasan).

Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi syarah At-Tirmidzi dijelaskan, bercandanya Nabi hanyalah benar dan tidak menyakiti hati serta tak keterusan.  Sedangkan lawak, maka Syaikh Al-Mubarakafuri mengecamnya sebagai berikut:

فَإِنْ كُنْت أَيُّهَا السَّامِعُ تَقْتَصِرُ عَلَيْهِ أَحْيَانًا وَعَلَى النُّدُورِ فَلَا حَرَجَ عَلَيْك . وَلَكِنْ مِنْ الْغَلَطِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَّخِذَ الْإِنْسَانُ الْمِزَاحَ حِرْفَةً , وَيُوَاظِبَ عَلَيْهِ وَيُفْرِطَ فِيهِ ثُمَّ يَتَمَسَّكُ بِفِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَهُوَ كَمَنْ يَدُورُ مَعَ الزُّنُوجِ أَبَدًا لِيَنْظُرَ إِلَى رَقْصِهِمْ , وَيَتَمَسَّكُ بِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي النَّظَرِ إِلَيْهِمْ وَهُمْ يَلْعَبُونَ ( وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ ) كَرَّرَهُ إِيذَانًا بِشِدَّةِ هَلَكَتِهِ , وَذَلِكَ لِأَنَّ الْكَذِبَ وَحْدَهُ رَأْسُ كُلِّ مَذْمُومٍ وَجِمَاعُ كُلِّ شَرٍّ .

Maka apabila engkau wahai pendengar membatasi candaan sesuai dengan yang dialami Nabi saw dan hanya kadang-kadang secara jarang maka tidak apa-apa. Tetapi menjadi salah besar apabila seseorang menjadikan candaan/ lelucon itu sebagai profesi/ pekerjaan (seperti pelawak, pen), dan menekuninya dan keterusan dengannya, kemudian (berdalih) memegangi perbuatan Rasulullah saw, maka itu seperti orang yang mengitari Zunuj (satu masyarakat dari Sudan) terus-terusan untuk melihat jogetnya dengan berdalih bahwa Nabi saw mengizinkan Aisyah ra melihat mereka (zunuj) yang sedang bermain. Celakalah baginya, celakalah baginya; kata-kata ini diulang-ulang (oleh Nabi saw) menunjukkan sangat keras kerusakannya. Hal itu karena bohong itu sendiri adalah pangkal segala yang tercela dan pusat segala keburukan. (Al-Mubarakafuri, Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Jami’ At-Tirmidzi, juz 6 halaman 498 المباركفوري). – (ج 6 / ص 498 ], الكتاب : تحفة الأحوذي بشرح جامع الترمذي)

Bahaya lawakan itupun sudah dikemukakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan melarang kita untuk banyak tertawa, karena akan mematikan hati:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ (ابن ماجة إِسْنَاده صَحِيح رِجَاله ثِقَات)

Riwayat dari Abi Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah kamu sekalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati. (HR Ibnu Majah, sanadnya shahih, rijalnya kuat).

As-Sindi dalam Kitab Syarah Sunan Ibnu Majah menjelaskan, “mematikan hati” itu maksudnya menjadikannya keras, tidak terpengaruh oleh nasihat-nasihat sebagaimana mayit.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari dalam bab tersenyum dan tertawa, bahwa yang tampak dari kumpulan hadits-hadits bahwa Nabi saw keadaannya yang paling banyak tidak lebih dari tersenyum, dan barangkali lebih dari itu adalah tertawa. Dan yang dibenci hanyalah banyaknya tertawa atau kelewatan dengannya, karena hal itu menghilangkan sopan santun.

Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad dan Ibnu Majah mengemukakan hadits Rasulullah saw dari Abu Hurairah: . Janganlah kamu sekalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.

 ***

Berikut ini berita tentang para pelawak dijamu makan di istana negara.

***

Habis Makan Malam dengan Pelawak, Jokowi Makan Siang dengan Komika Stand Up Comedy

Kamis, 17/12/2015 18:01:20

Jokowi (SI Online) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar makan siang bersama para komika stand up comedy di Istana Negara Jakarta, Kamis (17/12/2015).Tampak mendampingi Presiden Jokowi dalam acara itu Kepala Kantor Kepresidenan Teten Masduki dan Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana.

Sementara komika yang hadir antara lain Indrodjojo Kusumonegoro alias Indro Warkop DKI, Roni Immanuel alias Mongol Stres, Raditya Dika, Ge Pamungkas. Juga hadir David Rubianto, Yudha Keling, Rahmet, Heri horeh, Andi Wijaya, Randika Jamil, Ephy, Topenk, Alphi Sugoi, Bene, Alison Bule Bandung, Dzawir Nur Ikram, Sri Rahayu, Yudha Iqbal Maulana, Ricky Watimena.

Teten membuka acara. “Terima kasih sudah hadir. Jadi Pak Presiden ingin dialog dengan semua pihak. Kemarin dengan para pelawak, lucu banget. Jadi hari ini harus lebih lucu. Jadi, teman-teman silakan mau menyampaikan apapun kepada Presiden,” katanya.

“Saya sedang bingung, sekarang mewakili siapa, karena telah mengundurkan diri sehingga kosong, tapi saya di sini mewakili dewan perwakilan stand up,” kata Indro Warkop.

Ia menyebutkan komika sebenarnya bagian dari politik yang sebenarnya sudah sejak lama di Indonesia. “Sekarang hampir semua televisi ada stand up comedy sehingga yang diundang pun tidak semua hadir karena syuting,” kata Indro.

Sebelum mengundang para komika stand up comedy, pada Rabu malam (16/12) atau bersamaan dengan panasnya suasana sidang MKD dan pengunduran diri Ketua DPR Setya Novanto, Jokowi juga telah mengundang sejumlah pelawak. Jokowi menjamu mereka untuk makan malam bersama.

Ada belasan pelawak yang diundang Jokowi. Di antaranya, Butet Kertarajasa, Djaduk Ferianto, Slamet Rahardjo, Eddy Soepono alias Parto Patrio, Andre Taulany, Entis Sutisna alias Sule, Tri Retno Prayudati alias Nunung, Lies Hartono alias Cak Lontong.

Ada juga Toto Muryadi alias Tarzan, Sujarwo alias Jarwo Kwat, Veronica Felicia Kumala alias Cici Panda, Atik Riwayati alias Mpok Atik, Indra Bekti, Rinko Safinka alias Rico Ceper, Dorce Gamalama, Aziz Gagap dan Insan Nur Akbar.

red: abu faza/ suaraislam online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.270 kali, 1 untuk hari ini)