Nemu Kisah: Ketemu Jodoh

Menikahi gadis desa untuk meneruskan da’wah bapak mertua

Silakan simak ini.

***

 

Pengalaman Menikahi Gadis Desa

Dulu saya menjalani KKN di Dusun Krambil, Desa Girisekar, Panggang, Gunungkidul. KKN tsb ada di tahun 2005, dari bulan Juli-Agustus (2 bulan).

Dusun Krambil merupakan dusun tertinggal, termasuk tertinggal pula dalam hal agama.

Yang mengherankan kami anak KKN, shalat jumat saat itu tidak ada di dusun tersebut. Saya ketika itu hampir saja menangis karena baru pertama kali merasakan shalat Jumat begitu sulit padahal waktu sudah mau menunjukkan jam 12 siang. Hari Jumat tersebut saat pertama kali diterjunkan di dusun Krambil dari UGM.

Hanya pasrah pada Allah, kami anak KKN harus mencari Jumatan ke arah utara dengan motor guna mencari masjid. Masjid pertama yang kami dapati malah masjid kecil (alias: musholla). Yang ada, cuma ibu2 yang tidur di pelataran masjid.

Akhirnya kami menuju ke utara lagi, dan alhamdulillah mendapati masjid Jami Al Adha, masjid yang sekarang ini berdiri Pesantren Darush Sholihin (di Dusun Warak, Desa Girisekar, sudah berbeda dusun dengan Krambil). Di situlah akhirnya bisa mendapatkan shalat Jumat.

Dari shalat Jumat tersebut beralih ke keesokan harinya, ada pengajian besar di daerah Ngampel. Kami -anak2 KKN UGM- diundang untuk menghadiri pengajian tersebut.

Saya datang bersama 2 rekan, akhirnya sampai juga di Masjid Adz Dzikro Ngampel.

Saat tilawah Al Quran, ternyata yang melantunkannya adalah seorang gadis desa. Itulah bermula yang membuat saya penasaran dengan gadis tersebut.

Akhirnya bertanya2 …

Ternyata gadis tersebut juga anak kuliah. Tempat kuliahnya di UNY (jenjang D2, jurusan Guru SD). Kebetulan ada warga Krambil yang kenal dekat dengannya, banyak info tentang gadis tersebut yang saya dapat darinya tanpa bertanya pada gadis tersebut secara langsung.

Bermula dari situlah ketertarikan saya. Sampai berujung pada perkenalan dengan seorang ibu yang menjadi mertua saat ini. Sekali lagi, saya banyak mengenal sosok gadis tersebut bukan dari dia langsung namun dari orang-orang terdekatnya, termasuk seringnya bertemu dengan mertua dahulu saat pengajian yang saya ampu semasa KKN. Menjelang akhir KKN, saya memutuskan untuk menyatakan ingin menikahi gadis tersebut setelah saya lulus nanti.

Saya termasuk nekad, cuma modal berani dan nyatakan langsung pada bapak gadis tersebut. Ini sudah termasuk lamaran, menurut hukum syar’i.

Namun barulah kesampaian menikahi gadis tadi dua tahun kemudian setelah saya melewati masa wisuda S1. Satu minggu setelah wisuda, saya melamar dengan keluarga besar. Lalu satu minggu kemudian resmi menikah, tepatnya tanggal 11 Maret 2007.

Alasan menikahi gadis desa tsb adalah:
1- Ingin meneruskan program KKN UGM dengan membangun desa.
2- Ingin tetap di Jogja agar bisa belajar dari para ustadz di sana.
3- Ingin mudah berdakwah di desa karena bapak mertua saya adalah orang terpandang sebagai pemuka agama di dusun tersebut. Sehingga saya hanya meneruskan saja dakwah beliau.

Saya terus menjalankan program KKN hingga saat ini dengan nilai A+ (dari kampus dapat nilai A, juga dapat hadiah Akhwat desa).

Moga yang lainnya bisa meneruskan jejak ini …

Salam untuk anak-anak KKN.

Kisah lainnya, kapan2 lagi yah …

Ini sengaja dibocorkan kisah masa silamku, biar tahu kenapa kok saya merasa senang tinggal di desa terpencil seperti sekarang ini.

Moga pula bisa menjadi bahan inspirasi bagi yang lain.

Silakan pula ambil ibrah dari kisah di atas.

M. Abduh Tuasikal

Menikahi Rini Rahmawati 11 Maret 2007 di Panggang, Gunungkidul, DIY.

(*) Foto undangan adalah cuma ilustrasi saja, hasil desain dari Mas Wildan Salim (Swoz Brand) 

Lihat Lebih Sedikit

— di 

girisekar,panggang,gunungkidul

.via fb

Muhammad Abduh Tuasikal

22 Agustus 2014  ·   · 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 411 kali, 1 untuk hari ini)