Pagi-pagi seorang nenek menggendong cucunya (0,6 tahun) di depan tenda darurat yang sudah bolong-bolong di depan reruntuhan rumahnya di Rawajati Jakarta Selatan yang digusur paksa (tanpa ganti rugi apa-apa) oleh penguasa zalim, Kamis (1/9 2016) lalu.

“Semalam diguyur hujan, tempat (teduh darurat) ini basah semua, anak kecil ini sekarang pilek,” ujar sang nenek sambil mengusap-usap cucunya yang sedang digendongnya.

Hati ini miris, ngilu….

Apalagi saya (yang sedang menyaksikan derita ini), pernah menyaksikan keadaan tertimpa musibah, namun perlakuan penguasa mas lalu sama sekali beda dengan kini. Di zaman pemerintahan yang lalu tahun 1990-an saya sering ikut Menteri Sosial atau bahkan Menteri Agama ketika mendatangi warga di berbagai daerah yang sedang tertimpa bencana (banjir, awan panas, dan sebagainya). Menteri-menteri saat itu peduli, dari Jakarta datang ke daerah-daerah, bahkan juga ke rumah sakit untuk memperhatikan nasib rakyat waktu yang lalu itu, dengan menyantuni pula.

Yang mengikuti (para wartawan) pun ikut merasakan betapa menderitanya mereka, ketika sedang tertimpa bencana. Sampai-sampai ketika kami lagi di dalam mobil mau meninggalkan lokasi tempat pengungsian warga yang kena bencana, ada seorang teman wartawan yang mengeluarkan sepotong roti untuk dimakan karena memang lapar, maka dicegah oleh teman wartawan yang lain dalam mobil itu.

“Sabar, jangan dimakan di sini, di depan para pengungsi yang kena bencana ini… tidak enak kita… mereka lapar, masa’ kita enak-enak makan…” ujar seorang watawan mengingatkan hingga urunglah ‘acara’ makan roti itu, dimasukkan lagi ke tas.

Nasihat itupun di lain tempat saya pakai. Hingga ketika di pengungsian (untuk Muslimin Bosnia Herzegowina) di Nagyatat dekat Budapest Hongaria (Eropa) akibat serangan kafirin Serbia 1992, saya pakai nasihat teman wartawan itu. Ketika rombongan MUI dan wartawan didampingi Dubes RI di Hongaria waktu itu, Pak Sulaiman,  mengunjungi tempat pengungsian Muslimin korban perang itu, dijamu di suatu ruangan berdinding kaca. Para pengungsi berjajar di luar dinding, tampaknya kepingin sekali untuk menikmati jamuan yang disediakan untuk kami tamu dari Indonesia itu. Maka saya tidak tega untuk minum pun.

Kembali ke masalah kepedulian pejabat masa lalu terhadap rakyatnya, kini bukannya pejabat memperhatikan nasib rakyat, tetapi dalam kasus ini justru menimpakan bencana dan derita secara zalim. Menggusur paksa dan tanpa ganti rugi sama sekali, bahkan ada yang dipukuli sampai tidak sadarkan diri, berdarah-darah, ada yang diinjak-injak, ada yang pintu-pintu rumahnya ditendang hingga ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya terjedot pintu, hingga anaknya trauma dan aneka kekerasan lainnya.

Ini gejala apa? Sedangkan kasus warteg Saini yang melanggar perda Banten, Ramadhan yang lalu (2016/ 1437H), karena buka siang hari (bolehnya sore hari), lalu didatangi Satpol PP dan tidak diobrak-abrik sama sekali saja sampai jadi ramai, ribut, bahkan petinggi negeri ini menyumbang duit dengan mengutus utusan khusus untuk Saini. Lalu media kafir mengambil kesempatan memberi uang dan agar bisa disiarkan seakan Warteg Saini dizalimi, dimiskinkan dan sebagainya. Bahkan kemudian petinggi negeri ini bertandang memberangus perda-perda yang konon dinilai berbau syari’at Islam (?). Seakan warteg Saini ini  korban sangat dahsyat dari perda yang dinilai berbau syari’at? Padahal warteg Saini tidak dizalimi apa-apa. Namun sebegitu gegap gempitanya pembelaan pejabat tinggi negeri ini dan media-media kafir anti Islam. Mereka seakan kompak mengamini suara anh dari orang yang belakangan ternyata pembela LGBT yaitu Menag Lukman yang bersuara aneh: Hormati pula orang yang tidak berpuasa. Sehingga Kompas, media yang menjadikan gerahnya umat Islam pun dilabrak oleh umat Islam (liht https://www.nahimunkar.org/wajib-tonton-full-video-fpi-datangi-tegur-kompas-terkait-framing-berita-anti-syariat-islam/ ).

Bagaimana sekarang mereka mingkem, padahal warung-warung warga di Rawajati diobrak-abrik, digempur hancur luluh, dan tentu saja tutup permanen, bukan hanya beberapa jam seperti warteg Saini Banten; kenapa mereka mingkem?

Apakah manusianya yang jadi pejabat di negeri ini sudah berbeda antara Ramadhan kemarin dengan hari ini? Padahal manusianya masih sama dan tampaknya belum mati… dan baru selang dua bulan.

Ya Allah, nenek itu pagi subuh tadi suaminya bersalaman dengan saya dan jama’ah lainnya di masjid ketika shalat berjama’ah subuh. Tolonglah hambamu-hambaMU  yang terzalimi ini ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyanyang…. Mereka adalah orang-orang tak berdaya yang sedang terzalimi, ya Allah…

***

Area pemukiman warga di Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan yang digusur Pemprov DKI, Rabu (31/8) lalu. Foto: Ricardo/JPNN

(nahimunkar.com)

(Dibaca 707 kali, 1 untuk hari ini)