Ilustrasi Kitab Kifayatul Akhyar/ foto al3rbe.com


Seorang mahsiswa mengalami kejenuhan dalam belajar agama. Ketika di rumah dia membongkar-bongkar tempat buku. Matanya terbelalak ketika menemukan kitab Kifayatul Akhyar, dan di dalamnya tertulis catatan-catatan ibunya. Berarti kitab fiqh ini dipelajari oleh ibunya waktu dia masih gadis. Di tumpukan kitab-kitab itu juga ada kitab-kitab bapaknya yang mengesankan pula bagi mahasiswa ini.

Timbullah semangtat baru bagi mahasiswa ini untuk giat belajar dan menekuni kitab-kitab. Hari-harinya digunakan untuk menekuni kitab-kitab, sering mengkajinya sampai larut malam.

Giliran mahasiswa ini lulus maka dia memacu diri untuk mulai membacakan kitab-kitab di pengajian-pengajian yang dia adakan. Dengan agak berani dia sering menulis-nulis yang mengarah kepada pentingnya digalakkan mengaji kitab-kitab terutama untuk generasi muda.

Di tengah semangatnya mengkampanyekan untuk mengaji kitab-kitab agama agar faham betul ajaran Islam sebenarnya itu, Allah mengkaruniai dia putera pertama. Pada hari ketujuh yang disunnahkan untuk diaqiqahi, dia tulis bahwa anaknya diberi nama Kafi Al-Akhyar, karena terkesan dari kegigihan ibunya yang ketika masih gadis dia telah mengkaji kitab Kifayatul Akhyar. Semoga anaknya jadi anak shalih yang alim ilmu agama dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Inilah kisah yang dimaksud.

***

Hasan Al-Jaizy.

Kafi-Al-ahkyar

Hasan Al-Jaizy

Daerah Khusus Ibukota Jakarta ·

[Nama Untuk Putraku]

Kamis ba’da Maghrib malam Jum’at itu, angin mengencang dan langit berkilat-kilat meradang. Saya berjalan kaki berdua bersama istri karena jalanan baru dibenahi tak bisa dilalui motor. Kami pun baru naik motor di ujung sana. “Semoga Allah baru turunkan hujan pas kita sampai Rumah Bersalin itu.” Istri menanggapi, “Tidak. Semoga Allah baru turunkan hujan pas kita udah sampai ke rumah setelah dari cek dokter.” Saya pun tak bisa katakan apapun selain, “Udah deh. Terserah Allah, mau turunkan hujan kapan.”

Di perjalanan, sedikit rintik. Sesampai di Rumah Bersalin, tetibanya hujan langsung turun. Ah, Allah mengabulkan doa saya. Alhamdulillah. Harapan kami ke depan, bahwa kelahiran akan berjalan normal. Dan rupanya memang tidak bisa. Vonis jatuh pada keesokan pagi. Jum’at. Palu telah diketuk dengan alas an-alasan dan pertimbangan yang tak bisa ditolerir. Saya tersenyum hangat. Bahwa tidak mungkin ini semua tanpa kehendak Allah. Dan saya yakin Allah takkan zalimi sesiapa.

Jum’at pagi, putraku lahir. Allah kabulkan doa saya, dan doa sesiapa, termasuk doa seorang ibu tukang pecel suatu ketika. Hanya orang-orang tertentu dan khusus yang boleh tahu siapa namanya kala itu. Dan kini, saya umumkan bahwa nama putraku adalah:

“Kafi al-Akhyar”(bin Hasan bin Hartono bin Ahmad Jaiz bin Abdul Mukti)

Nama ini memiliki nilai historis, ilmiah dan futuristik. Abahnya tak sembarangan menamakan, melainkan sejak sebelum menikah, ia sudah mempunyai rencana-rencana yang Alhamdulillah sebagiannya telah teroperasikan.

Kafi al-Akhyar, nama yang mengambil dari suatu kitab masyhur sekali di bidang Fiqh Syafi’i: Kifayatul Akhyar. Karya Taqiyuddin Abu Bakr al-Husainy (829 H), yang merupakan ulama besar di zamannya namun membenci Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dan ironisnya, saya memohon kepada Allah Ta’ala agar putraku ini semoga kelak akan menjadi Ibnu Taimiyyah-nya Indonesia. Penamaan ini adalah harapan agar anakku ini kelak sedari muda sudah bisa bergaul baik dengan dua kubu yang saling berseteru; dan kala sudah berusia 30 ke atas, bisa menjadi pembimbing.

Ini berawal dari suatu hari di tahun 2011, saya mengobrak-abrik gudang di rumah yang berisikan buku-buku using dan beragam peralatan. Di suatu lemari, saya mendapatkan sebuah buku yang melalui momen itu, Allah menyadarkan saya. Ia adalah kitab kuning tebal. Kuno. Era 70-an. Ternyata kitab Kifayatul Akhyar. Saya lihat lembar di balik cover using, ada nama ibu saya di sana tertera, beserta tanggal. Era 70-an. Saat itu rupanya memang ibu sedang berstudi di Madrasah Syafi’iyyah. Kala itu, anak SMA sudah diajari kitab kuning. Sekarang, boro-boro kita ngaji kitab kuning, ngaji aja cuma mau tematikan.

Lalu saya buka-buka. Hati saya dirundung perasaan yang tak tergambar saat melihat tulisan-tulisan ibu saya sendiri di bawah kalimat-kalimat arab gundul pada beberapa halaman. Terbayang ibu kala muda dulu. Belajar dengan rajin. Dengan kitab kuning. Lalu saya dapatkan pula kitab Mantiq yang dipelajari ibu saat masih sekolah dahulu. Mulai saat itu, sesalan sangat berlaku. Ada semacam perubahan drastis dalam urusan belajar ilmu syariah. Mengejar ketertinggalan semaksimal mungkin.

Itulah mengapa sampai sekarang kajian-kajian saya adalah kajian kitab saja. Bahkan khutbah Jum’at yang sebenarnya sudah cukup mewakili kajian tematik pun, jarang sekali.
Itulah mengapa saya selalu menginginkan para hadirin bawa kitab dan tulislah catatan. Karena bisa jadi catatan itu akan dilihat oleh anak-anak kita 20 tahun mendatang, yang bisa memberikan perubahan besar karena sadar dahulu orang tuanya bukan orang sembarangan. Namun sayang, banyak hadirin tidak sadari hal ini. Karena mereka tak mengalami, mungkin. Bahwa pengaruh perjuangan orang tua di masa muda, jika terekam dan dilihat anak-anak kelak, bekasnya akan besar. Sangat besar.

Ya. Tertambah saat saya temukan beberapa karya Syafi’iyyah di rumah milik ayah saya. Saya temukan Mughny al-Muhtaj 4 jilid besar, juga al-Iqna 1 jilid tebal. Keduanya karya asy-Syirbiny, ulama masyhur Syafi’iyyah. Juga karya legendaris asy-Syirazy, yaitu al-Muhadzdzab. Ayah saya bercerita bahwa 2 judul pertama beliau beli dahulu sekali di Makkah. Kitab-kitab itu masih kuning jadul.

Maka, nama putraku adalah Kafi al-Akhyar…

Arti dari Kafi adalah Pencukup. Dan arti dari al-Akhyar adalah orang-orang terpilih. Saya doakan agar putraku ini akan menjadi pencukup bagi orang-orang terpilih di negeri ini dari segi keilmuan agama. Dan hanya Allah yang Maha Mampu. Kita hanya usaha semampu. Sebagaimana Ibnu Taimiyyah, jika Anda perhatikan, andai seorang muslim mengeruk seluruh kekayaan warisan ilmu beliau, seolah sudah cukup. Dan beliau pun adalah pencukup bagi orang-orang terpilih di masanya. Murid-murid beliau adalah orang-orang tangguh. Di antara murid atau orang yang terinspirasi oleh beliau di masanya adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H), adz-Dzahaby (w. 748 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu Abdil Hadi (w. 744 H) dan masih banyak lainnya.

Dan semoga putraku adalah putra yang shalih nan berbakti, berilmu dan sangat pemurah dalam membagi ilmunya ke ummat. Dan semua putra-putriku kelak. Juga seluruh kabinet keluarga. Menjaga keturunan berilmu tidaklah mudah. Musuhnya tak hanya manusia, bahkan adalah sebagian jin dan hewan-hewan yang mereka sihir dan setir.

Ia adalah Kafi al-Akhyar bin Hasan bin Hartono bin Ahmad Jaiz bin Abdul Mukti.

Ki Abdul Mukti adalah seorang kyai di masa beliau dahulu, buruan PKI, sebagaimana ulama dan kyai zaman itu umumnya.
Ki Ahmad Jaiz adalah seorang kyai Faqih di masanya dahulu, mengajar kitab-kitab Syafi’iyyah semacam Matn Abi Syuja’, Sullam at-Taufiq dan lainnya.
Ust. Hartono adalah seorang alim yang berkata apa adanya dari kebenaran meski pahit dan meski tidak diakui lagi oleh sebagian.
Hasan adalah thuwailib al-ilm (penuntun ilmu yang masih kecil)
Kafi al-Akhyar, semoga menjamak kebaikan, daya dan keilmuan keempat hamba Allah di atasnya.

Ibnu Taimiyyah, beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam.
Abdussalam (Majduddin Abu al-Barakaat) adalah kyai besar madzhab Hanbaly, penulis Muntaqa al-Akhbar.
Abdul Halim adalah kyai besar madzhab Hanbaly.
Ahmad adalah ulama yang lebih besar lagi dari bapak dan kakeknya.

Maka insya Allah, mulai pekan depan, saya akan adakan kajian kitab Kifayatul Akhyar, dengan metode qira’ah dan ta’liq (bukan syarh). Insya Allah kitab original Kifayatul Akhyar akan dibagi sesuai kemampuan, bagi yang mau belajar baca kitab bareng saya di rumah, di Cilangkap. Biarlah hadirin hanya satu atau dua kini, namun ketika putraku Kafi sudah bisa berjalan, semoga selalu bisa saya sertakan ngaji dan saat mengantuk, tidurlah di paha abah, nak. Sampai nanti saat kamu besar, insya Allah kamu terbiasa ngaji dan bisa mengayomi banyak hamba Allah kemudian pahalanya mengalir ke orang yang berjasa atasmu sejak kecil dan orang-orang yang berjasa atas abahmu ini.

Alhamdulillah atas segala kenikmatan, dan bersamaan dengan setiap kesulitan, percayalah ada kemudahan. Kesulitan dan kemudahan, semuanya adalah ujian.

Ingat firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari Neraka!” [Q.S. At-Tahrim]

Di antara caranya adalah Anda giat mendalami agama sekarang, agar Anda tahu dan bisa memberitahu anak istri Anda. Atau minimal agar Anda tahu. Iya. Minimal agar Anda tahu, bahwa mendalami agama itu tidak sembarang cara…

نسأل الله السلامة والتوفيق

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.179 kali, 1 untuk hari ini)