JAKARTA – Sejak menghadiri pertemuan APEC di Beijing, dan ratusan CEO perusahaan raksasa global, berduyun-duyun mau melakukan investasi di Indonesia. Ini bersamaan dengan kebijakan ‘open policy’ Jokowi terhadap asing dan a seng.

Sekarang Jokowi fokus ingin membangun infrastruktur yang akan menyambungkan seluruh wilayah Indonesia, seperti jalan, pelabuan, bandara, dan berbagai infrastruktur lainnya. Dengan dibangunnya infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia, tidak otomatis akan membawa kesejahteraan bagi rakyat.

Nampaknya, Jokowi terus berusaha mendapatkan dukungan internasional, melalui liberalisasi ekonomi, dan membangun infrastruktur. Maka, menurut mantan Menteri Keuangan di zaman Soeharto, Fuad Bawazier, mengkritik paham ekonomi pemerintahan Joko Widodo.

Fuad mengatakan,sudah banyak sumber daya milik Indonesia yang telah dijual kepada asing. Dia yakin, saat ini akan ada juga aset yang dijual,yakni berupa infrastruktur.

“Penjualan infrastruktur inilah yang menyempurnakan penjualan sumber daya yang telah banyak dijual sebelumnya,” ujar Fuad saat diskusi dan peluncuran media online fastnews.com,dengan tajuk “Membedah Kebijakan Ekonomi Politik Pemerintah Jokowi-JK” di Jakarta Selatan, Jumat (5/12/2014).

Menurutnya dari kebijakan pemerintah saat ini, dapat dilihat ideologi yang sebenarnya dari Presiden Jokowi. Apakah ideloginya nasionalis atau kerakyatan. “Jokowi saya yakin turunan kebijakannya adalah neoliberal,” katanya.

Dengan begitu, Fuad menegaskan, penjualan infrastruktur Indonesia kepada asing telah menghabiskan semua sumber daya negara. “Kita (Indonesia) tak jadi kompetitif,” tuturnya.

Dibagian lain, janji kampanye Presiden Jokowi yang pro rakyat dinilai hanya hisapan jempol belaka. Sebab, di awal pemerintahannya justru kebijakan yang dilahirkan Jokowi jauh dari harapan rakyat.

Penilaian itu disampaikan Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, (IMM) Dedi Irawan, melalui pernyataannya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (4/12/2014).

Menurutnya, kabinet kerja pemerintahan Jokowi tidak sesuai dengan fakta yang dirasakan rakyat. Dimana, kabinet kerja tersebut hanya mengedepankan pencitraan. “Jokowi harus segera mengevaluasi kinerja menteri di kabinetnya, jangan hanya bermain pencitraan semata dalam melayani rakyat,” kata Dedi.

Dedi mengatakan, kebijakan yang diputuskan pemerintahan Jokowi nyatanya tidak peka terhadap kehidupan dan perekonomian rakyat kecil. Misalnya, pencabutan subsidi BBM yang berdampak luas dan sistemik terhadap seluruh lapisan masyarakat.

“Evaluasi kebijakan pencabutan subsidi bahan bakar minyak, khususnya pada aspek yang berimplikasi langsung terhadap kesejahteraan dan kebutuhan rakyat kecil,” tegasnya.

Jokowi, kata Dedi, agar memastikan untuk tetap mendengar aspirasi masyarakat sipil sebagai komponen rakyat yang sejak awal bekerja keras mendukung.

“Khususnya dengan memastikan agar orang-orang yang berada di sekitar presiden adalah orang-orang yang tidak arogan terhadap rakyat dan tidak terlibat dengan komplotan politikkartel, mafia, maupun kekuatan oligarki,” katanya.

Memang, sejarah dan waktu yang akan menentukan, apakah Jokowi itu negarawan atau hanya pejual ‘citra’ blusukan kepada rakyat yang sudah kenyang dengan berbagai citra dari pejabat. [jj/dbs/voa-islam.com] Jum’at, 13 Safar 1436 H / 5 Desember 2014 19:37 wib

***

 

Adakah Konspirasi Jokowi, Surya Paloh, dan Mafia Cina?

 

JAKARTA (voa-islam.com) – Sangat mengejutkan laporan berbagai media hari ini yang mengaitkan antara keputusan pemerintah Indonesia yang membuat Perjanjian dengan Angola untuk impor Minyak Mentah. Benarkah kerja samanya “pure” dengan Angola, ataukah dengan MAFIA CINA?

Bahkan, menurut TVOne, yang membawa Sam Pa bertemu dengan Jokowi, tak lain, Surya Paloh, bos Nasdem dan MetroTV. Nampaknya, hanya ‘beralih’ tangan terkait dengan import milnyak ini, mulanya dari Petral, kemudian kepada SONANGOL.

Tentu, sangat menarik disimak, bagaimana belum ada seminggu setelah pelantikan Kabinet Kerja, Presiden Jokowi mampu meneken perjanjian strategis bernilai Triliunan Dolar dengan pemerintah Angola, terkait impor minyak bumi dan rencana pembangunan kilang di Indonesia.

Sangat  luar biasa, karena perjanjian ini bersifat jangka panjang dengan road map kerja sama yang multi tasks. Memang, belum pernah terjadi sebelumnya, langkah keputusan yang begitu cepat, seperti menaikan BBM.

Dalam penjelasan Pemerintah mengenai hal ini adalah harga impor dari Angola, melalui perusahaan BUMN nya SONANGOL, menawarkan harga impor yang sangat murah. Dan setelah Sonangol membangun kilang di Indonesia, harga BBM jadi yang ditawarkan pun lebih murah.

Benarkah perjanjian ini murni G to G dan B to B antara Indonesia-Angola, Pertamina-Sonangol? Kemungkinan hal itu sangat tidak mungkin. Untuk itu, sebuah sumber menjelaskan tentang Sonangol dan timeline perkembangan Sonangol dari perusahaan Lokal, menjadi raksasa di bidang eksplorasi Migas.

 

Fakta menarik yang ada menunjukan bahwa di dalam urat nadi pertumbuhan Angola dan Sonangol, sangat kental adanya transfusi dana dari China sebagai Pemerintah, dan seorang Taipan China yang bahkan hampir masuk Black List Bisnis Dunia’, karena campur tangan aktifnya dalam banyak perjanjian bisnis (moderasi mafia).

Adalah seorang bernama Sam Pa, Taipan Mafia yang terendus dalam pencarian yang nampak jelas. Dia sangat berperan dalam banyak hal di Angola, China, Hongkong, dan Singapura.

Fakta-Faktanya adalah:

1. Sam Pa, seorang kelahiran China tahun 1958, dibesarkan di Hongkong, tetapi karena perannya di Angola, dia juga memiliki kewarganegaraan ANGOLA.

2. China Sonangol, sebagai perusahaan bentukan Sonangol di China, dan berperan dalam perjanjian eksplorasi dan perdagangan migas di Asia, dibentuk dengan peran Queensway, dan ber KANTOR PUSAT di SINGAPURA.

3. Queensway adalah perusahaan milik Sam Pa, yang sangat memiliki kekuatan bisnis di seluruh daratan Afrika.

4. Hutang Luar Negeri Angola ke China bahkan melebihi hutang Angola ke lembaga keuangan lainnya, baik itu Bank Dunia, IMF, atau hutang bilateral lainnya.

5. Queensway juga jadi pemain penting dalam pemain migas di Indonesia lainnya, seperti BP, Total, dan makelar komoditas seperti Glencore.

6. Queensway selain erat dengan China, juga dengan Korea Utara dan Rusia.

7. Tangan Sam Pa, sangat kuat di tubuh negara China, baik di BUMN China, pemerintahan, bahkan Intelijen China.

8. Sam Pa mulai terlibat dalam tubuh Intelijen China sejak tahun 1980-an, dan berkuasa dalam perjanjian jual beli senjata di Benua Afrika (dia jual senjata, sekaligus menguasai minyak dan tambang berlian di Afrika).

9. Sam Pa mendapatkan ke WARGANEGARAAN khusus di Angola, karena dia adalah yang memberikan hutangan pertama kali kepada Angola, saat Angola merdeka dari Portugal 1979. Selain dana, di masa perang sipil di Angola, dialah yang mensuplai senjata kepada pendukung Presiden korup saat itu, José Eduardo dos Santos.

10. Untuk menguatkan taring China di Angola, atas peran Sam Pa, Angola terus disuntik pinjaman dengan bunga yang sangat rendah, tetapi China meminta peran pembangunan infrastruktur, perumahan, dan pertambangan migas di Angola.

11. Peran China (via Sam Pa) di Angola bertambah kuat pada 2005 setelah melibatkan mantan wakil Perdana Menteri China, Zeng Peiyan, yang juga petinggi di CPC (Communist Party of China/Partai Komunis China).

12. Sonangol tumbuh dari bayi menjadi raksasa Migas, setelah membeli saham BP dan Shell untuk eksplorasi migas di Angola, dengan bantuan dana pembelian saham dari CHINA.

13. Setelah krisis moneter akut di Angola, pada 2007 Sam Pa, mendorong masuk China International Fund, untuk mengambil alih pembangunan infrastruktur di Angola, dengan barter “shadowing” penguasaan eksplorasi migas di Angola.

Dengan sedemikian alur mafia Angola alias Sonangol alias Sam Pa The Afro China Mafia alias CPC/PKC (Partai Komunis China), sebuah sumber saat menemukan fakta ini bergidik ngeri dengan masa depan Indonesia. Indonesia akan dimasukkan dalam jalur sutra Mafia PKC China, dengan persetujuan kilat Jokowi, saat baru dilantik.

Bahkan, Jokowi meminta Pertamina untuk menyelesaikan aturan dan agreement teknisnya dalam satu bulan. Sungguh sangat luar biasa tindakan yang diambil oleh Jokowi, karena sudah ‘ditekuk’ Sam Pa, lewat si ‘brewok’ Surya Paloh, bos MetroTV.

Selanjutnya, Sonangol EP atau Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP, telah meneken kerja sama dengan Presiden Joko Widodo untuk mengekspor minyaknya ke Indonesia.

Salah satu pemilik Sonangol, Sam Pa, menjadi pintu masuk Indonesia untuk menggandeng perusahaan pemegang izin eksplorasi minyak dan gas di Republik Angola itu.

Menurut investigasi berbagai media di Jakarta, menyebutkan Ketua Umum NasDem Surya Paloh menjadi orang di balik kerja sama Sonangol-Indonesia. Surya mengaku sudah berkawan lama dengan Sam Pa.

“Sudah belasan tahun,” ujar Surya kepada wartawan, pekan lalu. Dia mengaku mengenal Sam Pa saat bertemu di rumah gunting rambut di Singapura.

Lalu, siapa Sam Pa? Menurut berita lansiran Financial Time, masa lalu Sam Pa tidak terekam dengan lengkap. Dia diperkirakan lahir di Cina pada 1958 dan pindah ke Hong Kong saat masih anak-anak. Meski berkebangsaan Cina, Sam Pa juga memegang kartu warga negara Angola. Dia memiliki dua anak.

Arsip dari sebuah perusahaan di Hong Kong menunjukkan, pada 1990-an, bisnisnya melempem. Namun dalam satu dekade terakhir Sam Pa menjadi salah satu orang yang paling sukses membuka pintu kerja sama Beijing dengan negara Afrika. Sam Pa berhasil berekspansi di lima benua dan meraup puluhan miliar dolar Amerika Serikat.

Sam Pa membangun jaringan perusahaan yang terdaftar di 88 Queensway, Hong Kong. Kelompok ini tergabung dalam jaringan bisnis British Petroleum, Total, dan Glencore.

Kepentingan bisnis mereka membentang dari gas Indonesia, penyulingan minyak di Dubai, proyek apartemen mewah di Singapura, hingga armada Airbus di Korea Utara dan Rusia.  [jj/dbs/voa-islam.comn]

(nahimunkar.com)