(Kasih sayang mansia sudah hilang?)

  • Ada satu bayi yang dinyatakan dengan surat mati lalu ternyata sampai di rumah masih hidup, kemudian proses susah payah orang tuanya ke rumah sakit lagi, dengan rangkaian proses itu akhirnya tak tertolong, lalu dinyatakan dengan surat mati lagi dari rumah sakit.
  • Sikap tega dan tidak ada kasih sayang terhadap anak-anak telah dikecam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Dalam hadits diriwayatkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَ عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami, mereka yang tidak mengasihi anak-anak kecil kami dan tidak pula menghormati orang tua kami, serta tidak menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar.” (HR Tirmidzi, ia berkata; Ini adalah hadits hasan gharib).

Inilah contoh sorotannya, dari sebuah situs.

***

3 Nestapa bayi tewas di rumah sakit di Jakarta

Reporter : Lia Harahap

Rabu, 27 Februari 2013

3-nestapa-bayi-tewas di RS_834653654957

Jakarta memang kota metropolitan. Kemegahan jelas tergambar di daerah yang menjadi ibu kota Indonesia ini.

Tapi sayang, tidak semua lapisan masyarakat merasakan indahnya hidup di Jakarta. Warga kecil tetap menjerit di tengah hiruk-pikuk kemajuan zaman dan gaya hidup modern.

Yang miskin makin susah mendapatkan kehidupan layak. Jangankan untuk mendapatkan makanan bergizi dan pendidikan bermutu, sekadar mendapat pelayanan kesehatan yang baik pun susah.

Meski Gubernur Joko Widodo telah menekan semua warga yang sakit harus dilayani, nyatanya rakyat miskin masih merasakan diskriminasi. Terkadang, kondisi ekonomi mereka membuat pihak rumah sakit berpikir dua kali untuk merawat karena takut tak dibayar.

Akhirnya muncullah berbagai alasan penolak. Mulai dari kamar penuh, dokter tidak ada atau alat medis minim.

Ini bukan fakta tanpa data. Sebulan terakhir, tiga bayi tak berdosa harus mengembuskan napas terakhir karena ulah rumah sakit yang abai sebagai pelayan kesehatan.

Ketika memang berasal dari keluarga tak mampu. Pelayanan medis setengah hati, akhirnya suka atau tidak harus orang tua mereka rasakan hingga akhirnya si buah hati berjuang melawan sakit dan kemudian meninggal dunia.

Berikut tiga kisah bayi nestapa yang dilayani setengah hati padahal harus berjuang melawan penyakitnya:

1. Kasus Bayi Dera

Bayi Dera Nur Anggarini lahir kembar dengan kondisi prematur. Selain prematur, dia juga mengidap gangguan pernapasan di tenggorokannya.

Dera yang lahir di RS Zahira, Jakarta Selatan, harus masuk ke ruangan khusus bayi yang membutuhkan penanganan ekstra. Yakni ruangan Neonatal intensive care unit (NICU).

Sejumlah rumah sakit swasta yang memiliki ruangan NICU dan menjadi rumah sakit rekanan RS Zahira dihubungi. Ada yang menyediakan, tapi Elias dan Lisa, orang tua Dera, tak punya biaya saat diminta uang muka puluhan juta.

Ada yang terang-terangan menolak. Ada juga yang menjanjikan kamar kemudian setelah ditunggu tapi mendadak dikatakan penuh. Total ada sekitar delapan rumah sakit yang setengah hati ingin menolong Dera.

Sementara, kondisi kesehatan Dera terus menurun. Hingga pada akhirnya pada Sabtu 16 Februari lalu, bayi Dera mengembuskan napas terakhir.

2. Kasus bayi Upik

Kecewa dan kesal bukan kepalang, itulah yang dirasakan pasangan Ali Zuar dan Mayarni, warga Jalan Haji Suaib Gang Damai Nomor 6B RT 10/ RW 03, Petukangan, Jakarta Selatan. Mereka harus kehilangan buah hatinya, Upik, karena kelalaian pihak Rumah Sakit Bersalin Kartini di Jalan Ciledug Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Upik lahir dalam usia kandungan 24 minggu dan lahir dalam kondisi prematur pada 20 Februari lalu. Beratnya hanya 1 kilogram.

Melihat kondisi tersebut, Upik kemudian dibawa ke ruang khusus oleh suster yang membantu proses persalinan. Namun tidak berselang lama, anak ke-2 dari Ali Zuar itu divonis meninggal dunia.

Dengan penuh duka, Ali kemudian membawa buah hatinya pulang ke rumah untuk dimandikan, dikafani kemudian dimakamkan. Dengan menggunakan sepeda motor, Ali membawa Upik dengan dibungkus kain putih.

Tetangganya, yang sudah mendengar kabar duka dari keluarga Ali langsung mendatangi kediamannya. Dengan tetesan airmata, Upik diturunkan dari gendongannya untuk langsung dimandikan agar bisa dimakamkan sore kemarin di pemakaman tidak jauh dari kediamannya. Namun kejadian aneh justru muncul, jantung Upik masih berdetak dan bernapas serta mengerang-ngerang dengan kondisi tubuh membiru.

Ali berserta tetangganya kaget melihat kejadian itu, Ketua RT bernama Ridwan yang hadir di rumah duka langsung berlari menuju rumah tetangganya untuk mengambil tabung oksigen kecil yang berprofesi sebagai terapis kesehatan.

“Saya langsung siapkan air hangat agar anak saya tidak kedinginan,” papar Ali.

Dengan bantuan para tetangganya, sekitar pukul 20.00 WIB hari itu juga, Upik kembali dibawa ke RSB Kartini. Namun saat tiba di rumah sakit, bukannya pertolongan yang didapat Ali. Salah seorang petugas pihak rumah sakit malah meminta Rp 15 juta sebagai uang muka sebagai rujukan untuk ke rumah sakit lain.

Setelah menunggu untuk negosiasi, akhirnya Upik mendapatkan pertolongan. Namun nasib berkata lain, sekitar pukul 23.00 WIB Upik akhirnya meninggal dunia. Pihak rumah sakit pun membuat surat kematian kembali untuk Upik dengan jam yang berbeda dan langsung ditandatangani oleh pihak rumah sakit.

3. Kasus bayi Hikmah

Hikmah, bayi berumur 1 tahun 3 bulan mengembuskan napas terakhir di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Hikmah yang menderita gizi buruk dan infeksi paru-paru, meninggal dunia karena penangan yang buruk dari pihak rumah sakit yang kekurangan neonatal intensive care unit (NICU).

Peristiwa itu terjadi Selasa (26/2) kemarin. Parjo, ayah Hikmah, bercerita bagaimana buruknya pelayanan rumah sakit itu di tengah kondisi buah hatinya yang membutuhkan pertolongan.

“Anak saya pas kritis suster dan dokter hanya menunggu. Pada akhirnya meninggal karena kurang perawatan dan gerakan para dokter,” ujar Parjo di Gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Selasa (26/2),

Dalam kesempatan yang sama, Nora, warga yang sempat menyelamatkan Hikmah menjelaskan, bayi tersebut kadar oksigennya sempat diturunkan menjadi 2 liter per menit. Padahal sebelumnya Hikmah diberikan oksigen dengan 8 liter per menit. Hikmah masuk rawat inap gedung A pada tanggal 16 Febuari 2012 pukul 00.15 WIB.

“Saya marah dan protes kenapa diturunkan padahal kondisi kritis. Akhirnya baru dikembalikan ke delapan liter. Dan dari situ kondisi Hikmah sudah gelagapan tetapi tidak ditangani dengan baik,” katanya.

Awalnya keluarga kesulitan memasukkan Hikmah ke RSCM untuk dilakukan perawatan. Namun akhirnya, berhasil masuk UGD. Walaupun penuh, Hikmah mendapat perawatan seadanya.

“UGD full, Hikmah dirawat berdua dalam satu tempat tidur. Padahal UGD full, tapi dokter yang jaga cuma 3,” kata Nora.

Nora sudah menegaskan kepada dokter, Hikmah mengalami gangguan pernapasan jadi harus dirawat di NICU. Tetapi tidak digubris, Hikmah dirawat di ruang rawat inap biasanya. Untuk membantu pernapasannya, bayi yang memiliki berat 3,8 kilogram ini harus menggunakan alat bantu pernapasan orang dewasa.

“Walau umurnya 1 tahun 3 bulan, tapi beratnya hanya 3,8 kilo. Harusnya dirawat di NICU, tapi malah di ruang rawat inap biasa. Selama 2 minggu, tidak ada penanganan khusus padahal saya sudah tekankan kalau Hikmah mengalami masalah pada pernapasannya,” ujar dia.

Ketika Hikmah sudah kritis, RSCM baru menyarankan Hikmah dibawa ke rumah sakit yang tersedia NICU. Sebab RSCM kekurangan NICU. Namun RSCM tidak menunjukkan rumah sakit rujukan untuk merawat Hikmah. “Akibat penanganan yang tidak maksimal, klimaksnya, Hikmah mengembuskan napas terakhir tadi pagi pukul 09.00 WIB. Dokter bilangnya gagal napas. Yang saya sesalkan kenapa tidak dari awal saja Hikmah dirujuk ke rumah sakit lain,” tegas dia./ merdeka.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 377 kali, 1 untuk hari ini)