(Sebelum membaca berita di bagian bawah, perlu kita fahami dulu apa yang keluar dari mulut Islah Bahrowi: Agama adalah Takhayul).

Apa itu Takhayul

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takhayul bermakna:

  1. (sesuatu yang) hanya ada dalam khayal belaka.
  2. kepercayaan kepada sesuatu yang dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti.


Nah, ketika agama (Islam, karena yang menyebutnya mengaku beragama Islam) dia sebut takhayul, berarti orang itu menganggap Islam itu hanya khayal belaka, sebenarnya tidak nyata dan tidak benar.

(Membebek ke orientalis ya mestinya pakai pikiran lah, masa’ agama Islam yang memberantas takhayul malah disebut sebagai takhayul. Padahal selama ini kalau Islah Bahrawi hidup di kalangan Islam pasti pernah dengar bahwa ada ormas besar Islam yang sejak awalnya giat memberantas TBC – Takhayul, Bid’ah, dan Churafat serta kemusyrikan.)

Gejala bermunculannya manusia-manusia anti agama tapi ngaku Islam kini sudah sangat parah dan sangat memalukan, begitu beraninya merendahkan Islam. Tingkahnya tak lebih hanya mirip ‘Bolo Dupakan’ yang kemunculannya atau dimuncul-munculkannya menjadi tontonan sebagai manusia yang mempertontonkan kebodohannya atau lebih ngerinya lagi, mempertontonkan antinya terhadap agama (Islam) tapi ngakunya Islam.

Betapa menghunjamnya firman Allah Ta’ala ini:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ} [البقرة: 13]

Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (QS Al-Baqarah: 13)

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah:

13. Dan apabila orang-orang munafik itu dinasehati agar beriman kepada Allah sebagaimana kaum mukminin beriman kepada Rasulullah, maka mereka akan menolak dan bersikap angkuh. Mereka tetap berlepas diri dari keimanan sekuat tenaga, sehingga Allah mensifati mereka sebagai orang-orang yang tak berilmu. Prasangka mereka bahwa kekafiran mereka adalah keimanan dan keimanan yang dianut kaum muslimin adalah kebodohan merupakan tanda bahwa mereka tidak berilmu. Mereka mengatakan: “Apakah kami harus beriman seperti orang-orang bodoh itu beriman?” Maka Allah menyangkal mereka dan menyatakan bahwa merekalah sesungguhnya orang-orang yang bodoh, dan bagian dari kebodohan mereka adalah mereka tidak mengetahui keadaan mereka sendiri dan akhir dari urusan mereka kelak. ://tafsirweb.com

Setelah faham, betapa kurangajarnya manusia itu ketika menyebut Agama adalah Takhayul, mari sekarang kita simak saja berita ini.

***

 

Telak!!! Sebut Agama adalah Takhayul dan Sains adalah Nyata, Bacot Islah Bahrawi Kena Smackdown MUI

 

 
 

Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, berpendapat bahwa agama dan sains tidak dapat berdampingan. Dirinya menegaskan pendapat tersebut dengan gagasan orientalis barat yaitu ‘agama itu takhayul, sains adalah nyata’.

Mulanya, Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis, menjelaskan bahwa agama dan sains harus berdampingan.

Pernyataan tersebut disanggah oleh Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi.

Perdebatan ini dilatarbelakangi oleh pembahasan metaverse Ka’bah yang dikeluarkan oleh Arab Saudi, kemudian perbincangan berkembang sampai pada pembahasan agama dan sains.

Cholil Nafis berpendapat bahwa agama dan sains harus berdampingan. Artinya, agama tidak mengekang perkembangan sains dan teknologi.

Namun, berbeda dengan pendapat Islah Bahrawi, dirinya menyatakan bahwa agama tidak mungkin beriringan dengan sains. 

Bahrawi menjelaskan bahwa perkembangan sains tidak dapat dibatasi oleh fiqih agama, sehingga agama tidak mungkin berdampingan dengan sains.

“Sampai kapanpun tidak akan mungkin beriringan! sains dan agama itu akan selalu kejar-kejaran,” ujar Islah Bahrawi dalam acara Dua Sisi di TV One, beberapa waktu lalu.

“Apalagi ada orang yang beranggapan bahwa dengan beragama, apa yang tidak ada pada zaman dulu, itu tidak boleh ada pada hari ini, ini kan kelimpungan sendiri nantinya,” ujar Islah Bahrawi melanjutkan.

Menurut Islah, ada benturan peradaban antara agama dan sains. Menurutnya, peradaban tidak dapat dicegah kemajuan dan perkembangannya.

“Peradaban tidak dapat dicegah, dia akan bergerak dengan sendirinya, tidak bisa dihalang-halangi, mohon maaf saya beragama, saya islam, tapi perkembangan peradaban tidak bisa dicegah oleh fiqih-fiqih, karena dia akan bergerak dengan sendirinya. Sains ini memang punya logikanya sendiri,” ujar Islah melanjutkan.

“Soal sains dan agama itu akan sulit bersatu, karena memang dua mainstreamnya berbeda. Mohon maaf, kalau mengacu kepada kalangan orientalis barat mengatakan agama itu takhayul sedangkan sains itu adalah hal yang nyata,” ujar Islah menegaskan.

Kemudian, Cholil Nafis tidak sependapat dengan Islah. Menurutnya, Islah memandang itu dari sudut pandang pemahaman agama yang konservatif.

“Begini, yang digambarkan mas Islah itu adalah pemahaman agama yang konservatif, agama dinilai sebagai dogma, tapi kalau dipahami bahwa agama sebagai peradaban sehinga akan bisa beriring, coba kalau kita lihat, siapa penemu kamera pertama sebelum barat? Al-Khaitami!,” ujar Cholil menegaskan.

“Jadi kalau kita lihat kemajuan sains tidak bisa beriring dengan agama, itu adalah trauma renaissance, ketika itu dikuasai gereja, menganggap gereja terlalu mengekang terhadap intelektualitas,” ujar Cholil menandaskan. (int)

warta-berita.com, on – Juni 11, 2022

(nahimunkar.org)