Ngapain Bicarain Ghosting Wong Pacaran Segala, Dakwah ya Dakwah Sajalah


  • Ngapain situ bicarain ghosting wong pacaran segala. Dakwah ya dakwah sajalah, ga’ usah sebegitunya.

+ Lha situ ngapain juga ngurusin orang yang lagi bicarain ghosting. Mau ndukung junjungan ya dukung sajalah…

***

Ilustrasi semacam itu bisa terjadi dalam jagat yang sering gaduh dengan permedsosan saat ini.

Ada yang sahut-sahutan dalam masalah yang prinsipil, dan tidak sedikit yang bagai berebut tulang tak bermakna.

Secara sekilas, ketika orang yang biasa berdakwah atau mengelola situs atau media dakwah atau medsos bermuatan dakwah, lalu bicara soal ghosting wong pacaran yang lagi ramai di jagat maya itu dianggap sama dengan nyemplung ke kubangan yang bukan jurusannya. Hingga bisa2 disemprot orang dengan ungkapan: Ngapain Bicarain Ghosting Wong Pacaran Segala, Dakwah ya Dakwah Sajalah.

Walaupun aneka media sedang bicara soal itu, tetapi ketika pengelola media atau situs dakwah bertandang untuk bicara juga, maka bisa2 dianggap seakan berbuat tidak pada tempatnya. Bukan sekadar kurang afdhol tetapi seakan dianggap sebagai melenceng dari jalur dakwah.

Ya, kalau ada yang mempersoalkan seperti itu, pada dasarnya justru punya makna bahwa situs dakwah atau akwah di dunia maya sejatinya jadi perhatian orang. Baik dari pihak yang suka terhadap dakwah maupun yang sinis bahkan mungkin anti. Hanya saja perhatian itu kemungkinan ada yang karena simpati, dan ada yang kurang suka bahkan benci, bahkan ada yang ingin menghalangi. Yang terakhir itu yang kalau berkomentar bernada tidak suka bahkan berupaya untuk menghalangi.

Kata-kata “dakwah ya dakwah sajalah” misalnya, itu seperti mengingatkan agar tetap di jalan yang benar, namun tergantung apa maunya. Kalau itu dari pihak yang sejatinya mengingatkan agar memang tidak menyimpang, maka niatnya itu ada baiknya, walau belum tentu kata2nya mengandung kebenaran. Sebaliknya, kalau itu dimaksudkan untuk menghalangi, maka boleh jadi kata2 itu paling kurang untuk mengendurkan. Demikian pula bila punya muatan misi untuk membela junjungannya yang sedang dibicarakan banyak orang, kok situs dakwah juga ikut bicara pula, tentu komen itu punya maksud lain, entah menjilat atau apa.

Yang terakhir ini bila mahir menghantam orang dengan dalil, maka akan mampu memukul dengan seakan telak, pakai dalil.

Misalnya dikemukakanlah dalil:

«كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

Cukup berdosa orang yang membicarakan tiap apa yang dia dengar. (HR Abu Daud, shahih menurut Al-Albani)

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

Termasuk bagusnya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak jadi kepentingannya. (HR Ibnu Majah, shahih menurut Al-Albani).

Ya, dalil itu shahih belaka. Memang benar. Tapi perlu dilihat dulu, situs atau media dakwah yang juga membicarakan masalah ghostingnya orang berpacaran itu muatannya seperti apa.

Apakah sekadar nimbrung bicara hal yang sedang ramai hingga tambah ramai tanpa ada pelajaran apa2 yang disampaikannya?

Atau justru mendudukkan persoalan secara Islami, sehingga para pembaca akan mendapatkan pelajaran. Misalnya dijelaskan bahwa pacaran itu jelas haram dalam Islam, dan pelajaran lainnya.

Kalau yang dipaparkan itu justru memberi penjelasan yang bermanfaat bagi umat dan masyarakat pada umumnya, agar berakhlaq mulia, menjauhi yang diharamkan oleh Allah Ta’ala dalam hal ini berpacaran dan juga ngibul atau tak menepati janji dan semacamnya, maka justru muatan yang seperti itu sangat perlu dipaparkan. Tanpa ada situs atau media yang mendudukkan persoalan secara Islami, maka justru arus informasi yang sudah sangat jauh dari Islam dan bahkan banyak yang membenci Islam itu makin merajalela dan tidak ada yang menanggapinya. Itu sangat berbahaya.

Oleh karena itu, siapapun sebenarnya jangan berkomentar terhadap sesuatu yang belum dicermati dan dimengerti dulu persoalannya, apalagi berkomentar terhadap sesuatu tanpa dilandasi ilmu. Ini yang sangat dilarang dalam Islam, di antaranya Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا} [الإسراء: 36]

36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al Isra”:36]

Dengan cara2 ceroboh (komen semaunya tanpa dilandasi kecermatan dan ilmu) seperti itu, maka sesuatu yang seharusnya disyukuri adanya, justru menjadi dikecam dan bahkan diprovolasi agar orang menjauh darinya. Provokasi macam itu justru secara tidak langsung telah menghalangi dakwah itu sendiri, sekaligus membiarkan beredarnya berita kejadian yang ramai di masyarakat, namun manusia hanya hanyut dalam gorengan berita2 yang tak bermakna tanpa ada penjelasan duduk soal secara Islam.

Jadi, komentar ya komentar saja secara wajar dan benar. Tidak usah menghalangi dakwah dengan dalih dan dalil macam2 tanpa didudukkan secara benar. Apalagi tanpa ilmu, apalagi dengan cara memlintir ilmu atau bahkan dalil.

Semua itu akan dipertanggung jawabkan oleh masing2 pelaku. Bukan sekadar apa yang ada dipermukaan, namun sampai motif dan niat yang ada di hati pun akan harus dipertanggung jawabkan di akherat kelak. Maka mari kita saling berhati-hati dalam pergaulan hidup ini, di antaranya dalam bermedia dan bermedsos yang menjadi alat komunikasi sehari-hari saat ini.

Bila berhati-hati dan di jalan petunjuk Islam, maka insyaAllah merupakan tabungan pahala. Sebaliknya bila tidak berhati-hati dan ada niat2 yang kurang baik apalagi bermuatan bisa menghalangi dakwah, maka berat tanggung jawabnya, dan bahkan menjadi tabungan dosa yang akan jadi penyesalan belaka.

Begitu saja. Semoga bermanfaat.

Ilustrasi. Foto/suaracom

(nahimunkar.org)

(Dibaca 250 kali, 1 untuk hari ini)