57wayang

MASJID WAYANG: Masjid berkubah wayang di Desa Sungai Bujang RT  20 Kelurahan Rengas Condong, Batanghari, Jambi akhirnya kubah itu harus dibongkar

JAMBI (an-najah) – Sebuah kubah masjid yang berbentuk lambang wayang di Desa Sungai Bujang, Kelurahan Rengas Condong, Kabupaten Batanghari, Jambi, akhirnya dibongkar, karena menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Pencopotan lambang wayang itu merupakan hasil kesepakatan antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Batanghari, Kantor Kementrian Agama Batanghari dan Zainal Ghozali, pemilik masjid, kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batanghari Mohammad Damiri di Batanghari, Selasa.

Seperti dilansir dari antaranews.com, dari rapat tersebut dihasilkan kesepakatan, pemilik mesjid diminta membongkar lambang wayang yang terpasang di kubah masjid, karena dinilai menyalahi aturan.

“Dalam rapat pada Senin (8/4) itu, pendiri masjid diminta mengganti kubah wayang dengan lambang masjid pada umumnya, sebab dari sisi hukum wayang tidak termasuk lambang dari sebuah masjid,” katanya.

Damiri menjelaskan, dari hasil rapat bersama diketahui niat pendiri mengunakan lambang wayang di kubah masjid hanya semata-mata untuk mengenang para tokoh Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada zaman dulu.

Alasan Zainal Ghozali (pemilik masjid) memasang wayang di kubah masjid, hanya untuk mengenang tokoh Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga, namun sejarah dulu tidak ada mesjid di Jawa yang mengunakan wayang sebagai simbol sebuah masjid, katanya lagi.

Ketika ditanya, Damiri mengatakan, ajaran Islam yang diajarkan di masjid tersebut tidak ada yang menyalahi aturan atau menyimpang, ajarannya sama dengan ajaran agama Islam umumnya. ‘’Ajaran di masjid sama halnya yang biasa umat islam lakukan. Bahkan, pendiri adalah pengikut NU. Kejanggalan yang ada pada masjid itu hanya kubah yang berlambang wayang tidak ada yang lain,’’ tandasnya.

Sementara itu, Zainal Ghozali, pemilik masjid, kata Damiri juga tidak merasa keberatan dan bersedia mengganti lambang wayang di masjid tersebut dengan lambang masjid pada umumnya. [fajar/ant]/ jambiekspres

***

Mestinya malu memasang wayang itu

Walau alasannya mengenang ini dan itu, namun orang NU yang sengaja memasang wayang (Arjuna) itu malu. Karena Ajuna itu sendiri tokoh yang diambil dari kitab Maha Bharata, kitabnya orang Hindu musyrik.

Menurut pewayangan, Arjuna itu isterinya banyak. Tiap datang ke suatu tempat biasanya kemudian beristerikan orang setempat hingga jumlahnya banyak, sampai  15 orang.

Inilah beritanya.

***

Arjuna istri dan anaknya

oleh Wayang Nusantara (Indonesian Shadow Puppets) (Catatan) pada 9 April 2011 pukul 19:23

Dalam pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. yaitu:

  •  Dewi Subadra, berputera Raden Abimanyu
  • Dewi Larasati, berputera Raden Sumitra dan Bratalaras
  • Dewi Ulupi atau Palupi, berputera Bambang Irawan
  • Dewi Jimambang, berputera Kumaladewa dan Kumalasakti
  • Dewi Ratri, berputera Bambang Wijanarka
  • Dewi Dresanala, berputera Raden Wisanggeni
  • Dewi Wilutama, berputera Bambang Wilugangga
  • Dewi Manuhara, berputera Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
  • Dewi Supraba, berputera Raden Prabakusuma
  • Dewi Antakawulan, berputera Bambang Antakadewa
  • Dewi Juwitaningrat, berputera Bambang Sumbada
  • Dewi Maheswara
  • Dewi Retno Kasimpar
  • Dewi Dyah Sarimaya
  • Dewi Srikandi

wayang arjuna

arjuna & batara kresna

Dalam Mahabharata- versi India (asli), Arjuna mempunyai 4 orang istri dan 4 orang anak. yaitu:

  • Draupadi, berputra Srutakirti
  • Ulupi, dari Nagaloka, berputra Iravan
  • Chitranggada,kdari kerajaan Manipura berputra Babruvahana
  • Subadhra, berputra Abhimanyu

(facebook.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 917 kali, 1 untuk hari ini)