Jokowi dan Luhut Binsar Pandjaitan (IST)


Luhut Binsar Pandjaitan berbohong izin ekspor konsentrat Freeport diberikan Archandra Tahar untuk menghindari tuntutan para aktivis tambang agar izin tersebut dibatalkan karena tidak sah.

Demikian dikatakan wartawan senior Nunik Iswardhani di akun Facebook-nya. Ia menulis artikel dengan judul Kenapa Luhut berbohong soal penandatanganan ijin Freeport oleh Archandra?”

Nunik mengatakan, rakyat Indonesia harap-harap cemas kira-kira strategi apalagi yang akan dilakukan pemerintah untuk menghindari tekanan publik soal Freeport.

Karena 12 Kanuari 2017 itu kurang dari 6 bulan lagi dan pembangunan smelter boleh dikatakan gagal, maka tekanan seperti apa yang akan dilakukan kepada Freeport si pembangkang?

“Ada skenario lain yang dikuatirkan yaitu revisi UU Minerba tahun 2009 tersebut yang ditargetkan Jokowi dan Luhut harus selesai dibahas DPR akhir tahun 2016,” ungkap Nunik.

Kata Nunik, ada kekuatiran bahwa pemerintah melempar bola panas ke DPR dengan usulan agar kewajiban membangun smelter dihapus dari UU.

“Dan bahwa ijin memperbarui kontrak yang tadinya setingkat peraturan menteri ditingkatkan jadi UU sehingga sebelum 2019 Jokowi sudah bisa memberi kepastian hukum bagi Freeport bahwa kontrak tambangnya aman hingga 2040,” papar Nunik.

Nunik mengatakan, kalau UU disahkan maka Jokowi akan dinilai tidak progresif, dan dianggap pro asing tapi partai-partai di DPR bisa saja bersepakat untuk meloloskan UU sehingga kesalahan tidak hanya di pundak Jokowi semata jika UU Minerba diubah semangat “ruh”-nya .

“Jadi, seandainya Archandra tetap menjabat sebagai menteri ESDM maka bisa diramalkan ia akan menghadapi sebuah kegegeran baru menyambut keharusan dihentikannya ijin ekspor konsentrat oleh Freeport,” jelas Nunik.

Nunik mengatakan, Archandra merupakan orang profesional di mana Jokowi dan Luhut tampaknya mengharapkan alumni ITB mengawasi dan mengeksekusi proyek Masela hingga selesai, agar Jokowi dan Luhut leluasa memikirkan hal lain.

“Blok Masela memang menjanjikan untuk mendukung program listrik 35 rb watt dan Archandra menguasai teknologi serta struktur pembiayaan yang ideal untuk proyek tersebut .”Saya tanya ke Rizal Ramli, katanya perlu 22 milyar tapi Archandra bilang hanya perlu 15 milyar dollar disertai penjelasan tentang struktur biayanya. Jadi kenapa tidak?” kata Luhut. Itu sebabnya ia membela Archandra di berbagai kesempatan,” papar Nunik.

Menurut Nunik, Archandra memang aset. Dia tahu persis teknologi terbaru bidang migas yang dipakai di AS sehingga harga minyak dan gas jadi murah, Contohnya shale gas oil. Sebagai doktor lulusan Texas A&M University.

“Maka tidak heran jika Pertamina adalah pihak yang paling diuntungkan jika Archandra jadi menteri, sebab dia akan mendorong Pertamina maju dan menggunakan teknologi-teknologi terbarukan. Juga Archandra tahu apakah cost recovery yang ditagih perusahaan kontraktor asing ke pemerintah itu nilainya digelembungkan atau tidak,” jelasnya.

Sumber: suaranasional.com/ 22/08/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.701 kali, 1 untuk hari ini)