Demo umat Islam dan AntiAhok meminta Ahok

segera diadili kasus penistaan terhadap Al Quran (IST)


Pengamat sosial politik Joko Prasetyo menyayangkan pernyataan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang melarang umat Islam mengadakan demonstrasi besar-besaran pada 4 Nopember 2016 mendatang.

“Kapolri seakan tidak tahu akar masalahnya mengapa para ulama dan umat Islam hendak demonstrasi  besar-besaran pada 4 November mendatang!” ungkapnya kepada suaranasional, Rabu (26/10/2016).

Mereka aksi, ungkap Joko, karena berkali-kali dipingpong oleh pihak kepolisian dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Ahok.

“Karena dipingpong, maka 14 Oktober lalu ratusan ribu massa turun ke jalan. Ibarat got mampetlah.. maka harus dirojok,” ujarnya.

Tapi faktanya Ahok tidak kunjung ditangkap. “Malah berdalih dengan UU yang sudah tidak berlaku dengan mengatakan harus dapat izin presiden, aduh…,” keluh Joko.

Tentu ulama dan umat Islam semakin marah. “Maka got mampet itu harus dirojok lagi, tercetuslah untuk aksi yang lebih besar lagi pada 4 Nopember mendatang,” ujarnya.

Pesan yang disampaikan pada aksi 4 November 2016, menurut Joko sangat jelas yakni tangkap dan penjarakan Ahok.

“Jadi agar tidak terjadi aksi besar-besaran, polisi tinggal tangkap dan penjarakan Ahok! Deliknya jelas, penistaan Al-Qur’an dan pencemaran nama baik ulama,” tegasnya.

Ia juga menyebutkan selama polisi tidak menangkap dan memenjarakan Ahok, umat Islam tidak akan pernah percaya pernyataan Kapolri yang menyebut pihaknya tengah memproses Ahok secara hukum di Bareskrim sesuai mekanisme yang berlaku.

“Karena nuansa pingpongnya sangat kental! Begitu diumumkan mau aksi 4 Nopember, bukannya ditangkap, Ahok malah dari Istana presiden ke Kabareskrim untuk klarifikasi, sejak kapan polisi jadi lembaga advokat?” tanyanya retorik.

Joko pun membandingkan kasus ini dengan penangkapan Habib Rizieq Shihab yang langsung tangkap dan dipenjarakan baru dicarikan pasal untuk menjeratnya.

“Pada 2008 saat Laskar Islam bentrok dengan pendukung aliran sesat Ahmadiyah di Monas. Habib tidak ada di lokasi, tetapi dia ditangkap dan dipenjara tanpa proses. Saat ditanya wartawan terkena delik apa, Kabareskrim jawab: pasalnya sedang dicari,” pungkasnya.*/http://suaranasional.com – 26/10/2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 19.526 kali, 1 untuk hari ini)