Ma’ruf Amin/Net


Erick Dan Luhut Kurang Realistis, Ma’ruf Tak Bisa Dipaksa Blusukan Seperti Jokowi

RMOL. Sejak awal  Ma’ruf Amin bukan cawapres yang direncanakan mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019.

Ma’ruf dipilih karena dianggap akan mampu menggenjot elektabilitas Jokowi, setidaknya dari kelompok umat Islam, khususnya lagi untuk konsolidasi warga Nahdlatul Ulama (NU).

“Tetapi ternyata asumsi itu tampaknya keliru, dalam pengertian tidak sesuai yang diharapkan,” ujar pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (9/12).

Said mencontohkan, Reuni Akbar Mujahid 212 pada Minggu (2/12) lalu yang ditolak Mar’uf penyelenggaraannya. Harapan peserta yang hadir berkurang justru membesar, dibandingkan Aksi Bela Islam pada 2016 silam.

Tak hanya itu, menurut Said, harapan suara NU solid dengan hadirnya Ma’ruf Amin sebagai pendamping Jokowi jauh dari kenyataan. Sebab merujuk Pilpres 2014 di mana Jokowi juga berhadapan dengan Prabowo Subianto, suara NU terpecah.

“Faktanya justru cucu-cucu pendiri NU bergabung ke Prabowo,” sambungnya.

Ini berarti untuk sementara waktu, simpul Said, nilai jual Ma’ruf tidak sesuai harapan. Ia menduga hal inilah yang mendasari pernyataan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan bahwa cawapres nomor urut 01 itu belum turun kampanye.

“Apakah kondisi kesehatan Pak Ma’ruf mendukung keinginan dari Pak Luhut dan Pak Erick karena di kamar mandi saja sudah terpeleset. Kalau yang diminta intensif dan blusukan, ini kurang realistis,” kata Said.

Ma’ruf tidak bisa dipaksa mengikuti model kampanye blusukan seperti Jokowi. Ini sama saja memaksakan keterbatasan Ma’ruf, sedangkan mereka sudah tahu.

Ia cenderung menangkap pernyataan Luhut dan Erick itu tidak terlepas dari tumpah ruahnya peserta Reuni 212 lalu.

“Ada korelasinya. Kenapa? karena kiai Ma’ruf diharapkan bisa mengambil suara umat Islam yang menjadi peserta 212. Rupa-rupanya massa reuni lebih besar, muncul pernyataan ini jangan-jangan kiai Ma’ruf belum menyapa lebih banyak umat, ini belum kampanye,” tengarainya.

Namun ia sangsi Ma’ruf bisa mengambil hati peserta dan pendukung Reuni 212 jika Januari nanti menyapa lebih banyak umat Islam.

“Dugaan saya akan sangat kecil peluang Ma’ruf karena aksi 212 mungkin nanti ada lagi lanjutannya, sudah dalam posisi politik bagi dirinya sendiri,” terangnya.

Menurut dia, kelompok atau massa umat 212 yang ingin disasar lewat Ma’ruf tidak akan mudah dipengaruhi. [wid]/ politik.rmol.co

***

Ma’ruf Amin Dinilai Gagal Dongkrak Elektabilitas Jokowi

Posted on 6 Desember 2018 – by Nahimunkar.com

RMOLJateng. Kehadiran Ketua Umum (nonaktif) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin dinilai gagal mendongkrak elektabilitas calon presiden petahana Joko Widodo di kalangan umat Islam.

Ini terbukti dengan jumlah peserta Reuni Akbar Mujahid 212  di Monumen Nasional, Minggu (2/12) yang membludak.

Analis Politik Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai bahwa umat Islam yang tergabung dalam alumni 212 masih menilai Jokowi tidak berpihak pada umat. Mereka masih menganggap pemerintah melakukan kriminalisasi terhadap ulama.

Dengan kata lain, kata Pangi, alumni 212 mengesampingkan kehadiran Ma’ruf Amin sebagai cawapres pendamping Jokowi.

“Orang itu melihat capres, kalau cawapres kan ‘ban serep’. Nggak ngaruh banget. Siapa presidennya. Jadi bisa saja KH Ma’ruf sebagai cawapres nggak punya efek dongkrak elektabilitas Jokowi,” tegasnya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (3/12).

Pangi juga menilai bahwa selama ini, Ma’ruf gagak mengonsolidasikan umat Islam. Terbukti, umat masih solid di barisan pendukung Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto.

Karena sikapnya (Prabowo) terhadap umat dianggap berpihak dan empati pada umat semakin lama semakin membesar. Gerakan ini (Reuni Akbar Mujahid 212) semakin menggembosi elektabilitas Jokowi,” pungkasnya. [hen]

Sumber : rmoljateng.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.643 kali, 1 untuk hari ini)