Oleh : Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Membaca tafrigh seri muhadharah “Ta’shil Ilm al-Aqidah” bersama Syaikh Abdurrahim as-Sulamy (atau mungkin as-Sulmy; mohon koreksinya), ada faedah yang ingin saya bubuhkan di sini. Faedah tersebut berkenaan dengan masalah nisbat kitab; yaitu penisbatan suatu kitab kepada penulis yang sebenarnya. Maka saya bahasakan kalam beliau dengan style penulis status. Begini:

Ilmu Aqidah, memiliki beragam nama yang shahih dan valid untuk digunakan. Misal: Syari’ah, Sunnah, al-Fiqh al-Akbar. Walaupun secara umumnya di zaman ini, lafal ‘syari’ah’ lebih condong didekatkan kepada Fiqh. Walaupun juga, lafal ‘sunnah’ sekarang lebih masyhur sebagai salah satu hukum taklify (sinonim mustahab atau mandub), atau juga dimaknai sebagai hadits.

Dan untuk penamaan al-Fiqh al-Akbar, maka -wallahu a’lam- nama ini dipopulerkan oleh al-Imam Abu Hanifah, melalui nama kitab beliau, yaitu: “al-Fiqh al-Akbar”. Nama tersebut sebagai opposite untuk nama “al-Fiqh al-Ashghar”, yang pada era muta’akhkhirin dan mu’ashirin, dikenal sebagai “Ilmu Fiqh”.

Jadi, kala itu, sepertinya, ilmu Aqidah mudah dikenal sebagai Fiqh al-Ushul (al-Fiqh al-Akbar), dan ilmu Fiqh mudah dikenal sebagai Fiqh al-Furu’ (al-Fiqh al-Ashghar). Ala kulli hal.

Dalam kitab al-Fiqh al-Akbar, Abu Hanifah memang tidak membicarakan hal-hal yang sifatnya furu’iyyah, melainkan berbicara perihal Aqidah.

Nah, sementara itu, ternyata penisbatan kitab tersebut kepada Abu Hanifah tidaklah qath’iy (absolute), melainkan ada keraguan terhadapnya. Pasalnya, yang meriwayatkan kitab tersebut adalah Abu Muthi’ al-Balkhy. Lho, siapa orang ini? Mari kita tengok beberapa kitab tarikh, dan jarh wa ta’dil karya ulama-ulama kita.

Dimulai dari kitab “Thabaqath al-Kubra” karya Ibnu Sa’d, (7/263), no. 3648, bahwa Abu Muthi’ ini berfaham Murji’ah dan lemah di bidang hadits.

Juga dari kitab “al-Majruhin” karya Ibnu Hibban (1/250), no. 236, bahwa Abu Muthi’ mendengar hadits dari Sufyan ats-Tsaury dan Hammad bin Salamah. Dan dia tergolong di antara gembong Murji’ah, yang membenci sunnah dan para praktisinya.

Dalam kitab “Tarikh al-Baghdad” karya al-Khathib al-Baghdady (9/121), disebutkan bahwa suatu kala al-Imam Ahmad ditanya tentang dia ini (Abu Muthi’ alias al-Hakam bin Abdillah). Beliau menjawab, “Tidak sepantasnya ada yang meriwayatkan darinya. Dihikayatkan bahwa dia pernah berkata, “Surga dan Neraka itu keduanya makhluk, maka keduanya adalah fana; (tidak baka/abadi).”

Maka, al-Khathib al-Baghdady pun berkata:

هذا كلام جهم

“Ini adalah kalam (yakni: aqidahnya) Jahm!”

Dan suatu kesempatan al-Ajurry bertanya pada Abu Daud Sulaiman bin al-Asy’ast perihal Abu Muthi’ ini. Kata Abu Daud: “Para ulama meninggalkan hadits dia. Dia adalah seorang Jahmy (penganut faham Jahmiyyah)!”

Nah, kembali ke kitab al-Fiqh al-Akbarnya Abu Hanifah. Dikatakan oleh Syaikh Abdurrahim, bahwa ada lagi periwayat kitab beliau selain Abu Muthi’, yaitu Hammad bin Abi Sulaiman. Hanyasaja, Hammad yang ini pun dha’if.

Dari jabaran di atas, Anda bisa mengetahui sekarang, bahwa ada ilmu ansab al-kitab, untuk verifying penisbatan kitab kepada penulis sebenarnya. Itu perlu riset khusus; karena yang dipeluk adalah kitab-kitab turats klasik pendaman berabad lamanya, atau kitab yang turun-temurun diwariskan antar generasi. Riset semacam itu pun memerlukan pula ilmu rijal dan jarh wa ta’dil rupanya. Luar biasa.

Dikatakan, ada beberapa kitab yang dikenal nisbatanannya kepada seorang imam, tapi rupanya bukan. Misal, kitab “ash-Shalah” dinisbatkan kepada al-Imam Ahmad. Ternyata bukan. Juga kitab berjudul “al-Haydah” dinisbatkan kepada Abdul Aziz al-Kinany. Ternyata bukan.

Di sini kita belajar, bahwa masalah penisbatan itu ada pentingnya. Juga kalau boleh saya kasih nasehat:

Jika ada quote atau kalimat ustadz kesukaan Anda yang ingin Anda share apalagi jadikan meme, periksa dulu, siapa tahu itu ayat al-Qur’an atau hadits Nabi atau perkataan salaf. Jangan ke depannya, sudah kadung dinisbatkan kepada ustadz tertentu, padahal itu potongan ayat, atau hadits, atau kalam salaf. Karena kalam Allah (yang pertama), kemudian kalam Nabi dan kalam Salaf, tak semizan dengan kalam sesiapa kita, sekalipun ulama terkini.

Moga menginspirasi. Baarakallaahu fiikum.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 285 kali, 1 untuk hari ini)