Semoga ini bukanlah syubhat dan semoga pemilik status ini tidak dianggap sebagai penabur syubhat. Tetapi, silakan masing-masing kalau mau, mengkaji lebih dalam perkataan Ibnu Taimiyyah yang dihikayatkan oleh Badruddin al-Ba’ly dalam kitab “Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah” yang isinya adalah ringkasan fatwa-fatwa Ibnu Taimiyyah:

وَلَيْسَ لوَلِيّ الْأَمر أَن يحمل النَّاس عَليّ مذْهبه فِي منع مُعَاملَة لَا يَرَاهَا وَلَا للْعَالم والمفتي أَن يلزما النَّاس باتباعهما فِي مسَائِل الِاجْتِهَاد بَين الْأَئِمَّة بل قَالَ الْعلمَاء إِجْمَاعهم قَاطِعَة وَاخْتِلَافهمْ رَحْمَة وَاسِعَة وَمثل هَذِه الْمسَائِل الاجتهادية لَا تنكر بِالْيَدِ

“Dan tidak (berhak) untuk waliyyul amr (bahasa masyhur di kita: Ulil Amri) untuk membawa manusia atas madzhab (anutan)nya dalam melarang suatu mu’amalah (perlu masukan untuk menerjemahkan ini) yang dia tidak berpandangan akannya.

Tidak juga (berhak) seorang alim dan mufti untuk melazimkan (mengharuskan) manusia untuk mengikuti keduanya (alim dan mufti) dalam permasalahan-permasalahan ijtihadiyyah antara para imam.

Berkata para ulama: “Ijma’ mereka absolut (dalam kebenaran), dan ikhtilaf mereka adalah rahmat yang luas.”

Dan yang seperti masalah ijtihadiyah ini, tidaklah (berhak) diingkari dengan tangan.” [Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hal. 352]

Juga, di Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah mengatakan:

وَلِهَذَا قَالَ الْعُلَمَاءُ الْمُصَنِّفُونَ فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِ: إنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْمَسَائِلِ الِاجْتِهَادِيَّةِ لَا تُنْكَرُ بِالْيَدِ وَلَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يُلْزِمَ النَّاسَ بِاتِّبَاعِهِ فِيهَا؛ وَلَكِنْ يَتَكَلَّمُ فِيهَا بِالْحُجَجِ الْعِلْمِيَّةِ فَمَنْ تَبَيَّنَ لَهُ صِحَّةُ أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ تَبِعَهُ وَمَنْ قَلَّدَ أَهْلَ الْقَوْلِ الْآخَرِ فَلَا إنْكَارَ عَلَيْهِ

“Dan karena inilah, para ulama yang berkarya dalam masalah Amr Ma’ruf Nahi Munkar dari para Ashab asy-Syafi’i (semoga dimaksudkan: para petinggi madzhab) dan lainnya berkata:

‘Sesungguhnya masa’il ijtihadiyyah semacam ini tidak diingkari dengan tangan. Tidak berhak siapapun melazimkan manusia untuk mengikutinya dalam masa’il tersebut. Tetapi (hendaknya) ia berbicara tentangnya dengan HUJJAH ILMIYYAH. Barangsiapa yang telah jelas baginya kebenaran salah satu pendapat, maka ia mengikuti (yang benar). Dan barangsiapa yang bertaqlid pada pemilik pendapat lainnya, maka tidak (berhak) pengingkaran atasnya.'” [Al-Majmu’, 30/80]

Ulil Amri, Ulama, dan Mufti saja tidak berhak melazimkan qaul mereka atau qaul yang mereka pilih, lalu bagaimana dengan kita?

Bagaimana dengan zahirnya tidak memaksa, tapi konsekuensi dari berbeda sedikit dalam masalah Fiqh sama dengan berbeda manhaj kemudian lahir konsekuensi hajr, dighibahi dan seterusnya?

Moga pertimbangkan lagi sikap kita. Jangan dinyana lidah dan jemari kita sudah selamat setelah menumbangkan satu persatu orang. Ingat hisab (perhitungan) Hari Akhir yang kita sendiri tidak bisa memastikan diri-diri kita.

Kami kutip juga dari status Ust. Abu Ya’la Hizbul Majid (no tags):

Siapakah yang patut disematkan padanya “gelar” ahlul bid’ah ??
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjawab pertanyaan tadi seraya mengatakan :

و البدعة التى يعد بها الرجل من أهل الأهواء ما اشتهر عند أهل العلم بالسنة مخالفتها للكتاب والسنة كبدعة الخوارج والروافض والقدرية والمرجئة

“Dan bid’ah yang karenanya seseorang divonis sebagai ahlu ahwa’ adalah hal-hal aksiomatik bagi ulama sunnah yang jelas menyelisihi al-quran dan sunah misalnya bid’ah khawarij, raafidhah, qodariyah, dan murji’ah”.[Majmu’ al-Fatawa, XXXV/414)

Kendati demikian, dalam masalah vonis tetap tidak melupakan proses terpenuhinya syarat dan hilangnya penghalang, dan yang terpenting adalah arahan ulama Rabbani terkhusus masalah al-hukm ‘alal mu’ayyan, bisa jadi ada seorang tokoh yang terjatuh dalam kesalahan fatal dalam hal aqidah ataupun yang lainnya, akan tetapi tidak ada tabdi’ muayyan yang dilayangkan oleh para ulama terhadapnya karena beberapa udzur tersebut, wallahu a’lam.

Juga di perkataan beliau lainnya:

“Manhaj salaf terkadang hanya dijadikan tameng guna memenangkan ego pribadi dan mensikut pesaingnya. Sehingga tatkala berhadapan dg lawan yg tak sependapat dg nya dalam masalah ijtihadiyah. Dg serta merta dia bertameng dg manhaj salaf dan menghizbikan lawan pendapatnya….”

Namun kami harap, tidak ada seorang pun merasa dapat ‘angin segar’ dengan ini atau merasa dibela. Ini modal muhasabah an-nafs, bukan ditujukan untuk menuding, dan mencari-cari siapa yang dimaksud di status. Refleksikan ini pada diri sendiri.

Baarakallaahu fiikum.

 

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.180 kali, 1 untuk hari ini)