Densus 88 Antiteror


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kasus tewasnya Siyono (39) saat penangkapan terduga teroris di Klaten, Sabtu malam lalu, telah menimbulkan banyak kecurigaan banyak pihak. Kasus ini diharapkan menjadi kasus terakhir kelalaian Densus dalam penangkapan teroris.

Mantan wakil ketua PBNU As’ad Said Ali mengatakan, polisi harus tetap menjelaskan yang terjadi sebenarnya kepada masyarakat. Walaupun Kadiv Humas Mabes Polri Anton Charliyan telah mengakui adanya kelalaian prosedur dalam proses penangkapan Siyono.

“Menurut saya, harus dibuktikan saja oleh pihak kepolisian apakah benar adanya perlawanan itu. Ini sekaligus untuk menepis adanya kecurigaan di publik, dan menjadi pelajaran agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” katanya kepada Republika.co.id, Selasa (15/3).
Rep: amri amrullah/ Red: Damanhuri Zuhri

Selasa, 15 Maret 2016, 16:24 WIB

http://khazanah.republika.co.id/

***

PBNU Desak Pemerintah Ungkap Penyebab Kematian Siyono

Ma'ruf Amin

Ketua Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Ma’ruf Amin. (Dok. Sindo).

JAKARTA – Pemerintah diminta segera mengungkap kematian warga Klaten, Jawa Tengah, Siyono oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri. Siyono ditangkap personel Densus 88 Antiteror Mabes Polri dengan tuduhan kelompok teroris.

Ketua Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ma’ruf Amin menegaskan, pengungkapan tersebut penting dilakukan mengingat ada kecurigaan di balik kematian Siyono. Alasannya, Siyono dalam keadaan sehat ketika ditangkap personel Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

“Ya kita ikuti saja prosesnya. Itu akan mengikuti proses bagaimana akhir dari fakta-fakta yang apa adanya yang akan dibuktikan,” ujar Ma’ruf usai bertemu Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/3/2016).

Baca: Usut Kematian Siyono Perlu Libatkan Komnas HAM dan DPR.
(kur) Rakhmatulloh

nasional.sindonews.com – Kamis,  31 Maret 2016

*** 

Densus 88 Jangan Menutup-nutupi

Di lain tempat, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH. Hasyim Muzadi meminta Detasemen Khusus 88 Antiteror untuk bertanggung jawab atas kematian terduga teroris asal Klaten Siyono.

Menurut Kiai Hasyim, misteri kematian Siyono harus segera terungkap dalam waktu dekat. Hal itu penting, agar nantinya kasus itu tidak terus menjadi polemik di mata masyarakat, baik di Klaten atau di seluruh Indonesia.

Dia meminta Densus 88 secara jujur memberitahukan kepada keluarga Siyono mengenai penyebab kematian yang bersangkutan.

Pengasuh Ponpes Al-Hikam juga meminta kepada Densus 88 untuk tidak menutup-nutupi kasus tersebut. “Paling tidak Kepala Densus 88 harus menjelaskan sejelas-jelasnya,” ucapnya, kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Kiai Hasyim mengatakan, jika masalah itu tidak segera diselesaikan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru yang lebib besar dari kelompok-kelompok yang bersangkutan.

“Saya sering meminta kepada kepolisian untuk lebih manusiawi dan Indonesiawi saat menangani terorisme,” ucapnya.

Sumber: Republika/SindoNews/NUgl
Editor: Fajar Shadiq/ kiblat.net/2016/04/02/

***

Hasil Investigasi Kontras Terkait Kematian Siyono

JAKARTA – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban kekerasan (Kontras) telah melakukan investigasi terkait kematian terduga teroris, Siyono yang meninggal dunia pasca ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

“Pertama memang hasil investigasi kami, keluarga tidak mendapat surat penangkapan dari pihak kepolisian,” ujar Aktivis Kontras Putri Kanesia saat jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Menurut Putri, idealnya penangkapan terhadap seseorang harus disertai surat penangkapan yang diserahkan dan ditembuskan kepada pihak keluarga.

“Keluarga tidak tahu Siyono dibawa kemana. Hanya diberi tahu saat sudah meninggal dunia,” ungkapnya.

Hasil investigasi berikutnya, lanjut Putri, Kontras menemukan adanya dugaan tindak kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa yang dilakukan aparat kepolisian dalam hal ini Densus 88 saat menangkap Siyono.

“Ketika keluarga melihat jenazah Siyono, ada memar. Memang saat itu tidak ada rekam medis atau visum dari rumah sakit maupun kepolisian,” tukasnya.

(kri) nasional.sindonews.com – Sabtu,  2 April 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.240 kali, 1 untuk hari ini)