Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama menetapkan untuk tidak lagi memakai kata kafir untuk menyebut warga non muslim.

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Muqsith Gozali berdalih, kata kafir yang selama ini digunakan untuk melabeli warga non muslim telah menyakiti hati non-muslim. Penggunaan kata ini pun diganti dengan istilah muwathinun yang artinya warga negara.

Perlu diketahui, Konferensi Besar Nahdlatul Ulama adalah pertemuan terbesar setingkat di bawah Muktamar, kalau di Muhammadiyah namanya Sidang Tanwir. Jadi dihadiri utusan perwakilan dari pusat dan berbagai daerah.

Kegiatan NU kali ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu-Jumat (27/2-1/3/2019)

Mari kita analisis. Dalih yang dikemukakan (‘kata kafir yang selama ini digunakan untuk melabeli warga non muslim telah menyakiti hati non-muslim’) itu pada dasarnya sama dengan mentaati kemauan orang kafir.

Perlu diingat, Istilah kafir itu dari Allah Ta’ala. Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) disebut kafir itu jelas dari Allah Ta’ala.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ  [ الـبينة:6]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [Al Bayyinah:6]

Ketika sudah ada keputusan / ketetapan dari Allah Ta’ala dan RasulNya maka tidak ada pilihan lain-lain lagi.

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا  [ الأحزاب:36-36]

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Kecuali kalau memang sengaja pilih dalam barisan kafir dan munafik, ya tidak ada paksaan untuk takut kepada ayat-ayat ancaman Allah Ta’ala itu. Dan juga masih ada larangan yang mustinya diperhatikan dalam hal ini. Apalagi itu atas nama ‘Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama’. Di antaranya ayat ini:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.:

{وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ}

dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Al-Ahzab: l)

Artinya, janganlah kamu mendengar ucapan mereka dan jangan pula meminta saran dari mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).

Umat Islam wajib mengikuti ayat-ayat suci dari Allah Ta’ala, termasuk warga NU (Nahdliyin), walau keputusan organisasi NU sangat bertentangan dengan ayat suci firman Allah Ta’ala seperti tersebut. Takut kepada Allah Ta’ala akan mendapatkan pahala, sedang takut kepada orang2 yang takut kepada kafirin dan munafikin entah akan mendapatkan apa.

Di antara yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya adalah adanya pemimpin-pemimpin yang menyeret para pengikutnya ke lembah kesesatan. Dalam sebuah hadits disebutkan, dari Tsaubân Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Sesungguhnya yang aku khawatirkan pada umatku adalah imam-imam (tokoh-tokoh panutan) yang menyesatkan. [HR Abu Dawud, no. 4252; Ahmad, 5/278, 284; al-Baihaqi, no. 3952. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni].

Hadits ini menunjukkan kekhawatiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap imam-imam yang menyesatkan. Yaitu orang-orang yang mengajak menuju kekafiran, kemusyrikan, bid’ah, kefasikan, dan kemaksiatan./ https://almanhaj.or.id

Silakan simak berita berikut, dan di bagian bawah dikutip Tafsir Ibnu Katsir, ayat larangan mentaati orang kafir dan munafik.

***

NU Mau Hapus Istilah Kafir untuk Non Muslim, Warganet: Ngaco

Logo Nahdlatul Ulama

Banyak warganet yang menyayangkan hasil musyawarah NU itu.

Suara.com – Hasil keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama menetapkan untuk tidak lagi memakai kata kafir untuk menyebut warga non muslim. Keputusan ini pun menuai reaksi penolakan dari warganet.

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Muqsith Gozali berdalih, kata kafir yang selama ini digunakan untuk melabeli warga non muslim telah menyakiti hati non-muslim. Penggunaan kata ini pun diganti dengan istilah muwathinun yang artinya warga negara.

“Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-muslim. Para kiai menyepakati tidak menggunakan kata kafir, akan tetapi menggunakan istilah muwathinun, yaitu warga negara,” kata Abdul.

Banyak warganet yang menyayangkan hasil musyawarah NU itu. Pasalnya, penghapusan kata kafir dalam menyebut warga non muslim bertentangan dengan Al Quran.

Bahkan, tak sedikit pula warganet yang menuding NU sudah terkontaminasi dengan politik. Sehingga, berbagai kebijakan yang dilahirkan NU tidak agi murni untuk kepentingan agama semata.

Ini ngaco banget, nalar NU nyungsep karena dukung Jokowi. Jangan kau rusak NU jangan kau hina ajaran Muhammad, kami sayang NU!!” kata @ekowboy.

Kata kafir mengandung kekerasan teologis? Anda semua pasti tau apa arti kafir, bukankah artinya terdengar bijak sekalisehingga ada dalam Al Quran? Apakah kalian merasa lebih hebat dibanding Allah yang menurunka A l Quran dengan mengganti sebutan kafir bagi orang yang bukan beragama Islam?” cuit @hilmi28.

Allah yang menyebut non muslim itu dengan istilah kafir dalam Al Quran,” kicau @ahmadum68150245.

Istilah kafir ada di Al Quran kok mau dihapus? Enggak takut dihapus sama yang punya Al Quran?” ungkap @unduk.

https://www.suara.com Pebriansyah Ariefana | Chyntia Sami Bhayangkara Jum’at, 01 Maret 2019

***

Tafsir Surat Al-Ahzab, ayat 1-3

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (1) وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (2) وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا (3) }

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Perintah ini lahiriahnya ditujukan kepada orang yang berkedudukan tinggi (Nabi Saw.), tetapi makna yang dimaksud ditujukan kepada orang yang lebih rendah kedudukannya (umatnya). Karena sesungguhnya Allah Swt. itu apabila memerintahkan kepada hamba dan rasul-Nya dengan perintah ini, maka terlebih lagi kepada orang yang sebawahnya.

Talq ibnu Habib pernah mengatakan bahwa takwa ialah bila engkau selalu mengerjakan ketaatan kepada Allah atas dasar cahaya dari Allah dan mengharapkan pahala-Nya, dan bila kamu meninggalkan kedurhakaan terhadap Allah atas dasar cahaya dari Allah dan karena takut terhadap azab-Nya.

Firman Allah Swt.:

{وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ}

dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Al-Ahzab: l)

Artinya, janganlah kamu mendengar ucapan mereka dan jangan pula meminta saran dari mereka.

{إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا}

Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha­bijaksana. (Al-Ahzab: l)

Dia lebih berhak untuk diikuti perintah-perintah-Nya dan ditaati, karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui semua akibat segala urusan, lagi Mahabijaksana dalam semua ucapan dan perbuatan-Nya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ}

dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. (Al-Ahzab: 2)

Yakni berupa Al-Qur’an dan sunnah.

{إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}

Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ahzab: 2)

Maka tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

{وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ}

dan bertawakallah kepada Allah. (Al-Ahzab: 3)

dalam semua urusan dan keadaanmu.

{وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلا}

dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (Al-Ahzab: 3)

Cukuplah Allah sebagai Pemelihara bagi orang yang bertawakal dan bertobat kepada-Nya.

http://www.ibnukatsironline.com/ – September 13, 2015

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.295 kali, 1 untuk hari ini)