Gubernur NTB TGH Zainul Majdi


MATARAM – Seluruh ormas Islam di Nusa Tenggara Barat meminta kepolisian mengusut kasus penghinaan yang menimpa Gubernur NTB TGH Zainul Majdi. Gubernur NTB ini diteriaki dan dicaci-maki Steven Hadi Suryo saat berada di Bandara Changi Singapura.

“Dari rapat bersama seluruh perwakilan ormas Islam yang ada di NTB, kami membuat pernyataan sikap yang menginginkan pihak kepolisian untuk menindaklanjuti persoalan ini hingga tuntas,” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB Abdul Rahman Kuling di Mataram, Minggu, 16 April 2017.

Surat pernyataan sikap tersebut, kata Kuling, telah diserahkan kepada Kepala Polda NTB Brigadir Jenderal Firli di Rumah Langko Mataram. Acara pertemuan itu dihadiri sejumlah perwakilan ormas besar yang ada di NTB, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan (NW) Pancor, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Kuling mengatakan, persoalan ini harus segera ditindaklanjuti agar masyarakat tenang. Menurut Kuling, dugaan penghinaan yang dilontarkan Steven Hadi Suryo kepada Gubernur NTB saat antre check-in di Bandara Changi Singapura.

”Kami melihat masalah ini bukan kategori delik aduan, melainkan delik pidana. Secara otomatis kepolisian menyelidikinya,” ujar Kuling.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi mengaku kaget dan terhenyak sewaktu mendengarkan teriakan Steven Hadi Suryo yang menuduh dirinya menyerobot antrean check in pesawat Batik Air di Bandara Changi pada Ahad, 9 April 2017 sore. Waktu itu ia hendak pulang setelah menjenguk putrinya yang berada di Singapura.

”Saya dan istri mengucapkan istighfar saja,” kata Zainul Majdi sewaktu ditemui sebelum pelepasan peserta Etape 4 Tour de Lombok Mandalika yang berada di selatan Islamic Center Nusa Tenggara Barat, Ahad, 16 April 2017.

Menurut Zainul, istrinya juga kaget saat itu. ”Istri saya terhenyak dan terkejut. Kok bisa mengeluarkan kata buruk,” ujarnya. ”Kami berdua saling mengingatkan dan istighfar (doa mohon ampun). Sabar bu,” ucap  Zainul kepada istrinya.

Steven Hadi Suryo telah meminta maaf kepada Zainul. Permintaan maaf itu dituangkan dalam pernyataan di atas kertas bermeterai Rp 6.000 dan diteken pada Minggu, 9 April 2017. Surat pernyataan itu telah beredar di media sosial.

Steven juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Zainul yang tidak melanjutkan ke proses hukum atas tindakannya. ”Saya telah menyadari bahwa kata-kata saya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Undang-Undang Dsae 1945. Saya berjanji tidak akan mengucapkan lagi kata-kata yang dapat menimbulkan keretakan pesatuan bangsa.” ***

Editor:hasan b
Sumber:tempo.co/gonews.co

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.264 kali, 1 untuk hari ini)