NU Tidak Ada Satupun yang Jadi Menteri Jokowi, Tanpa Guna Jauh-jauh Hari Bilang Siap Jadi Menteri Apa Saja

Kekecewaan tanpa guna bagi NU. Pernyatannya pun tanpa guna ketika jauh-jauh hari sudah bilang begini:

Said Aqil: Kader NU Siap Jadi Menteri Apa Saja

 


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj (tengah). (Foto: Antara)

Said mengatakan kader NU siap ditempatkan di bidang mana saja, sehingga tidak harus di Kementerian Agama.

Suara.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siroj, menyatakan siap mengirim kader terbaiknya jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk orang NU menjadi menteri di Kabinet Indonesia Kerja jilid II.

 

Dwi Bowo Raharjo | Stephanus Aranditio

Rabu, 10 Juli 2019 | 12:49 WIB

https://www.suara.com/

Kini hanya kekecewaan belaka.

***

 

NU Kecewa Tak Ada Kadernya yang Jadi Menteri


Jokowi (tengah) saat menghadiri acara NU. (Sumber foto : Ist)/ m.bizlaw.id

 

JAKARTA –Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kecewa setelah mengetahui tidak ada kadernya yang jadi menteri di Kabinet Jokowi 2019-2024. Padahal, banyak kader NU yang dirasa layak dan memiliki kemampuan sebagai pembantu  presiden.

Kekecewaan itu diungkapkan Pengurus Rabithah Ma”ahid Islamiyah (RMI) PBNU, Ridwan Darmawan. Dia mengaku heran tak satu pun kader NU yang dilirik  Presiden Jokowi.

Ridwan mengatakan, sebelumnya muncul kabar Jokowi bakal menjadikan kader NU sebagai menteri agama.

“Kami merasa kecewa dengan komposisi yang beredar hari ini, apalagi kita menurut informasi yang beredar Menteri Agama (Menag) bukan dari NU,” ujar Ridwa dalam keterangan tertulis yang diterima awak media Rabu (23/10/2019).

Ridwan menyebut, seharusnya Jokowi menghargai kontribusi warga NU saat ajang pemilihan presiden (Pilpres) 2019 lalu.

Pasalnya, warga dan para Masyayikh NU berperan besar dalam memenangkan pasangan Jokowi-Ma”ruf Amin.

teropongsenayan.com/
Oleh Sahlan Ake pada hari Rabu, 23 Okt 2019 – 15:02:24 WIB

***

 


 

 

 

 

Kepada Siapa Umat Mesti Berharap?

 
 

Oleh: Salsabila Maghfoor

Jurnalis, Pegiat Literasi Pena Langit

 
 

DALAM prakata yang masyhur, Ali bin Abi Thalib pernah berkata : Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia

Ya, sebab demikian memang adanya. Segala kepahitan hidup yang paling pahit adalah manakala kita menempatkan harapan semata pada manusia. Bukankah sifat yang melekat dalam tabiatnya manusia adalah lemah, terbatas dan butuh pada yang lainnya. Maka sudah pasti, tempat bersandar yang paling kokoh saat tiang yang lain lemah merapuh, adalah hanya pada Allah, Rabbul Izzati, Rabb semesta alam.

Sudah terlalu lama kita terbuai dengan beragam pengharapan yang tidak kunjung menemukan titik terang atas problematika persoalan yang ada, selain hanya terus jatuh dalam kesalahan yang berulang, lagi dan lagi. Dalam banyak kejadian di hidup ini, mestinya kita bisa segera mengambil ibrah untuk tidak menyekutukan pencaturan hidup selain hanya kembali pada apa yang Allah aturkan.

Dalam Al-Quran Allah berfirman :

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96]

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Kita tentu dapat melihat, bagaimana penjaminan Allah atas ketaatan dan keimanan seorang hamba. Bahwa Allah akan melimpahkan keberkahan secara langsung tanpa tapi tanpa nanti-nanti bagi hamba tersebut. Namun demikian, masih tetap saja banyak yang meragukan penjaminan Allah ini.

Sebagaimana dalam pandangan soal aturan kehidupan, banyak yang tetap menjadikan pedoman lain sebagai pegangan, berhukum dengan aturan lain yang bukan dari Allah asalnya. Banyak yang meragukan, apakah aturan syariat dari Allah itu relevan dengan perkembangan zaman.

Namun kesalahan justru muncul manakala manusia mengabaikan seruan Allah, meninggalkan kaffahnya penerapan syariat dalam kancah kehidupan. Maka yang muncul adalah kekecewaan yang terus akan melingkupi berujung pada kesengsaraan hidup. Ummat mesti sadar, muara segala persoalan adalah bukan hanya Karena kesalahan pemimpin secara personal, namun kesalahan pemimpin dan juga sistem tata aturan yang tidak mengindahkan syariatNya.

Cukuplah Allah sebagai tempat berlindung, Cukuplah Allah sebagai muara segala persoalan yang melingkupi hidup manusia, sebab Allah Sang Khaliq lagi Mudabbir, pastilah mengetahui detail duduk perkara persoalan manusia. Yang pastinya Maha Mengetahui Yang Paling Baik bagi hambaNya. Allahul Musta’an.

Maka tidakkah kita mau mengambil pelajaran?*

voa-islam.com/ Kamis, 23 Safar 1441 H / 18 Juli 2019 06:38 wib

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 8.282 kali, 3 untuk hari ini)