Nusron Wahid


Inilah beritanya.

***

Ketua PBNU ini bergeming dengan pandangan murtadnya, Pancasila lebih tinggi dari Al Quran

JAKARTA – Salah seorang ketua PBNU Nusron Wahid (NW) bergeming, tidak merubah gagasan murtadnya bahwa Pancasila lebih tinggi dari Al Quran. Bahkan dia sangat emosional mempertahankan gagasan yang dapat membawa kepada kekufuran itu.

Mengutip laman nugarislurus Rabu (9/3/2016), bekas ketua PP GP Ansor ini masih belum berubah pikiran yang menganggap ‘ayat konstitusi lebih tinggi dari ayat suci’.

Gagasan ‘ayat konstitusi lebih tinggi dari ayat suci’ sendiri pertama kali dipopulerkan gubernur DKI Jakarta Ahok.

Belakangan salah satu orang yang paling mendukung gagasan ini adalah NW. Saat dinasehati para kiai dan ulama dalam sebuah forum diskusi NW tidak mau merubah gagasan murtad ini dan justru sangat emosional mempertahankan gagasan kekufuran tersebut.

Berikut cuplikan beberapa pernyataan emosional NW, lansir nugarislurus, dalam diskusi dengan para tokoh NU dan ulama.

Capture pernyataan NW

Capture pernyataan NW

Pernyataan NW

Pernyataan NW

Pernyataan Nusron

Pernyataan Nusron

Emosi NW

Emosi NW

Dalam forum grup ini ada beberapa nama pengurus NU pusat dan daerah yang ikut menyimak dialog dengan NW seperti Rais Syuriah PBNU KH. Ahmad Said, Wakil Katib PBNU KH. Abdul Ghofur Maimoen, pengurus LBM NU KH. Ahmad Nadhif, KH. Zuhrul Anam Hisyam, KH. A. Rozikin, KH. Muhammad Idrus Ramli, Habib Umar Mutohhar, KH. Abbas Mawardi, KH. Ibnu Hajar Al Makki, KH. Abdi Johan, Dan para ulama lainnya.

Selain sangat emosional dengan bahasa kasarnya, NW juga menantang Syuriah dan Mustasyar NU yang berani menyanggah pendapatnya. (azm/arrahmah.com)

By: arrahmah.com/A.Z. Muttaqin, Kamis, 30 Jumadil Awwal 1437 H / 10 Maret 2016 09:30

***

Berkata kasar bukan akhlaq mukmin

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, orang beriman itu tidak suka mencela, melaknat, berkata-kata keji dan berbicara kotor.

 لَيْسَ اْلمـُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لَا اللَّعَّانِ وَ لَا اْلفَاحِشِ وَ لَا اْلبَذِيِّ

“Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat/berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok” (HR Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Turmudziy dari Ibnu Mas’ud).

Ciri munafik

عَنْ عَبْدِ اللهِ ينِ عَمْرُو بنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَ فِيهِ خَلَّة مِنْ نِفَاق حَتَّى يَدَعَهَا : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ(رواه البخاري و مسلم)

Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash RA, bersabda Rasulullah SAW, ada empat perkara yang bila terdapat pada diri seorang maka ia munafik tulen. Dan bila yang ada pada seseorang salah satu dari empat itu, berarti pada dirinya ada sifat munafik, sampai ia memisahkan diri darinya; jika berkata- kata ia berdusta, jika berjanji ia berkhianat, jika bersumpah ia ingkar, jika bertengkar ia curang/ berbuat licik. (H.R. Bukhori dan Muslim)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 14.498 kali, 2 untuk hari ini)