Ilustrasi

.

 

  • Tim Advokasi bermaksud menghadirkan Pemerintah Pusat dalam hal ini Mendikbud untuk turun menyelesaikan pergolakan besar yang sedang terjadi di Bali.
  • Tim Advokasi melaporkan situasi bathin dan mind set masyarakat muslim khususnya tentang tekanan pihak sekolah karena berlakunya larangan berjilbab di sekolah-sekolah Negeri. Mereka harus memilih menggadaikan keimanannya agar bisa bersekolah di sekolah Negeri dengan melepas jilbab.

Inilah beritanya.

***

Tim Advokasi PII Kantongi 40 Sekolah di Bali yang Larang Pelajar Berjilbab

SELAMA satu bulan lebih melakukan investigasi, Tim Advokasi Pelajar Islam Indonesia (PII) telah mengantongi  40 sekolah yang melarang, namun baru 31 sekolah yang dilaporkan kepada Direktur Pembinaan SMA Dikdasmen Kemendikbud, 9 sekolah lagi masih dalam penyusunan laporan.

Dari 40 sekolah tersebut merupakan sample dari perwakilan Kabupaten dan Kota se Provinsi Bali, karena latar belakang pelarangan, modus dan tujuannya hampir rata-rata sama.

Tim Advokasi memprediksi jumlah sekolah yang melakukan pelarangan lebih banyak dari dugaan awal, karena terlalu banyaknya sekolah yang melarang atau mudahnya menemukan sekolah yang melarang. Fenomena inipun menimbulkan pertanyaan, jadi berapa sekolah Negeri yang membolehkan murid muslimahnya berjilbab?

“Ini adalah pertanyaan yang relevan, karena mudah untuk dijawab, bahkan jumlah jari tangan dan kaki pun mampu untuk menghitungnya,” kata Helmy dalam pertemuan di Kantor Dikdasmen Kemendikbud Jaksel, Rabu (5/3),

Tim Advokasi bermaksud menghadirkan Pemerintah Pusat dalam hal ini Mendikbud untuk turun menyelesaikan pergolakan besar yang sedang terjadi di Bali.

Tim Advokasi melaporkan situasi bathin dan mind set masyarakat muslim khususnya tentang tekanan pihak sekolah karena berlakunya larangan berjilbab di sekolah-sekolah Negeri. Mereka harus memilih menggadaikan keimanannya agar bisa bersekolah di sekolah Negeri dengan melepas jilbab.

“Namun tidak sedikit pula yang memilih berjilbab dengan resiko memilih sekolah di sekolah Swasta Islam atau harus ke Pulau Jawa untuk belajar di sekolah Negeri. Animo seperti inilah yang terbangun selama puluhan tahun,” terang Helmy.

Kasus yang menimpa Anita Whardani murid kelas XII IPA 1 SMAN 2 Denpasar beberapa waktu lalu merupakan titik kulminasi di mana pelajar muslimah sudah jengah atas kondisi yang terjadi di sekolah-sekolah Negeri. Namun sayangnya pelajar yang memiliki mental sekuat Anita untuk berhadapan dengan Pihak Sekolah dan teman-temannya sangat sedikit.

“Resiko yang harus diterima Anita karena keinginannya memakai jilbab mendapat tantangan berat di lingkungan sekolahnya. Bahkan adik kelasnya yang ingin berjilbab mengikuti jejak Anita jadi mengurungkan niatnya karena kekhawatiran resiko yang akan menimpa mereka,” papar Helmi. [pz/Islampos] Jumat 5 Jamadilawal 1435 / 7 Maret 2014 06:59

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.072 kali, 1 untuk hari ini)