Nyinyir Soal Jilbab pada Anak, Gunakan Narsum Nong Pemuka JIL, DW Indonesia Dinilai Memalukan dan Menunjukkan Sentimen Islamophobia

  • “Liputan ini menunjukkan sentimen “Islamophobia” dan agak memalukan untuk sekelas @dwnews,” tegas Fadli Zon di Twitter-nya (terhadap media asal German itu).

Silakan Simak Ini.

***

Nyinyir Soal PENGGUNAAN JILBAB PADA ANAK, DW INDONESIA TUAI POLEMIK

Bagi seorang muslimah, penggunaan jilbab adalah keharusan karena merupakan kewajiban yang telah ditentukan oleh syariat sebagai kebutuhan yang bertujuan untuk melindungi diri dan harus diterapkan sejak anak-anak. Setiap muslim juga seharusnya sudah mengerti jika tak bisa melakukan tawar-menawar terkait ketentuan tersebut.

Penulis

 Rizky Harahap

 –




 

Video DW Indonesia soal penggunaan jilbab sejak kecil tuai polemik (sumber gambar: Twitter)

Pakarberita.com – Beredar video di Twitter terkait penggunaan jilbab terhadap anak-anak, Jumat (26/9/2020). Video ini diposting DW Indonesia sehari sebelumnya, dengan caption pertanyaaan yang menimbulkan polemik untuk warga net.

“Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?”, posting akun Dw Indonesia tersebut.

Baca juga: Diminta Buka Cadar, Peserta Bercadar MTQ Sumut 2020 Pilih Mundur

Bagi seorang muslimah, penggunaan jilbab adalah keharusan karena merupakan kewajiban yang telah ditentukan oleh syariat sebagai kebutuhan yang bertujuan untuk melindungi diri dan harus diterapkan sejak dini pada anak. Setiap muslim juga seharusnya sudah mengerti jika tak bisa melakukan tawar-menawar terkait ketentuan tersebut.

Namun demikian, sejumlah pihak masih saja mempertanyakan apakah hal tersebut (menggunakan jilbab bagi muslimah) sebuah kewajiban. Terbaru, pertanyaan serupa kembali muncul. Adalah stasiun berita Deutsche Welle (DW) Indonesia yang coba menggiring opini terkait aturan mutlak dalam Islam tersebut.

PANDANGAN PSIKOLOG DAN FEMINIS ISLAM TERKAIT PENGGUNAAN JILBAB PADA ANAK

Pada video tersebut yang menyelipkan tagar #jilbab #mukalama dan #dialog itu, dua narasumber yakni Rahajeng Ika, serta Nong Darol Mahmada (Pemuka JIL, istri Guntur Ramly PSI, red NM) yang merupakan Feminis Muslim memberikan komentarnya.

Dalam pandangan Rahajeng, sudah sangat jelas jika anak-anak belum bisa memutuskan suatu hal. Hal tersebut kemudian Rahajeng jelaskan akan menjadi masalah ketika si anak bergaul dengan teman lain yang punya pandangan berbeda.

“Biasanya, anak-anak itu belum mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Jadi resikonya adalah mereka menggunakan sesuatu atau memakai sesuatu tapi belum paham betul konseskuensi dari pemakaian nya itu,” ujar Rahajeng.

“Sehingga yang mengkhawatirkan, pada saat umur mulai SMP atau SMA terjadi pembentukan konsep indentitas, identity nya itu lagi terbentuk. Si anak sedang memakaikan identitas berhijab, si anak yang segala macem, si anak yang pakai pakaian tertutup muslim gitu,” lanjut Rahajeng.

“Permasalahannya, apabila si anak kemudian bergaul dengan teman-temannya yang mungkin agak punya pandangan berbeda itu boleh jadi si anak mengalami kebingungan. Apakah dengan ia berpakaian begitu punya batasan tertentu untuk bergaul?” papar Rahajeng lagi.

Sedangkan menurut Mahmada, mengarahkan anak untuk mengenakan hijab sedari kecil sah-sah saja. Namun setali tiga uang dengan Rahajeng, Mahmada menjelaskan ada kekhawatiran jika arahan dari orang tua akhirnya menimbulkan sikap eksklusif yang menimbulkan pola pikir si anak berbeda dengan anak lain nya.

“Sebenarnya sih wajar-wajar aja si anak mengikuti atau arahan orang tuanya. Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif. Karena dari kecil tertanam untuk dalam tanda kutip misalnya berbeda dengan yang lain,” papar Mahmada.

“Karena sebenarnya pada masa pertumbuhan anak itu semestinya dan seharusnya anak-anak itu kita biarkan dulu menjadi siapapun, menjadi apapun. Jadi maksud nya itu, ia gak harus berbeda dengan anak-anak yang lain. Tetapi ketika anak kita arahkan atau berikan identitas misalnya jilbab sebagai muslim maka dengan sendirinya akan mengeksklusifkan dirinya sendiri,” jelasnya lagi.

TANGGAPAN USTADZ HILMI DAN FADLI ZON

Menanggapi pandangan Rahajeng dan Mahmada, aktivis dakwah yang juga owner SIT Daarul Fikri, Ustadz Hilmi Firdausi memberikan komentar. Menurutnya, sudah benar jika orang tua mengajarkan anaknya untuk menggunakan hijab sedari kecil. Karena terkadang orang dewasa sendiri belum tentu memiliki kesadaran untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslimah.

“Ada yang menyerang pemakaian hijab pada anak-anak ya? Sudah ketebaklah siapa dalangnya. Btw, jangankan anak-anak, orang dewasa pun kadang awalnya harus “dipaksa” untuk melakukan kebaikan. Beruntunglah orang-orang yang sejak kecilnya “dipaksa” ibadah & menjauhi maksiat. Ketika dewasa mereka akan berterima kasih kepada orang tuanya,” cuit Ustadz Hilmi.


Senada dengan Ustadz Hilmi, Fadli Zon juga mengecam liputan DW Indonesia yang ia nilai sebagai bagian dari sentimen Islamophobia. Ia bahkan menyebut hal itu sebagai hal yang cukup memalukan bagi media sekelas DW Indonesia.

“Liputan ini menunjukkan sentimen “Islamophobia” dan agak memalukan untuk sekelas @dwnews,” tegas Fadli Zon di Twitter-nya.


Dari persepsi pandangan Islam dan tanggapan dua narasumber dalam video tersebut pada akhirnya memang menimbulkan pro kontra. Benar jika anak-anak belum dapat mempertanggung jawabkan keputusannya terkait arahan dan keinginan orang tuanya. Namun demikian, semua manusia tentu setuju jika hal ataupun nilai-nilai kebaikan harus kita tanamkan sejak kecil.

Bagi umat Islam, mengajarkan, mengarahkan dan menerapkan penggunaan jilbab pada anak perempuan untuk menjaga aurat adalah suatu hal yang penting dan tentu saja untuk kebaikan si anak sendiri. Mengarahkan, dalam arti tidak ada paksaan, bukanlah sebuah ‘pelanggaran’ yang menyebabkan pembentukkan pola pikir eksklusif anak seperti yang menjadi kekhawatiran para narasumber tersebut.

Editor: Indra Hidayat

Pakarberita.com –26/09/2020

(nahimunkar.org)

(Dibaca 722 kali, 1 untuk hari ini)