Obat Setelan dan Akibat Fatalnya Gagal Ginjal


MEMANG tidak enak jadi orang miskin. Karena daya beli amat sangat terbatas, maka hanya mampu membeli makanan yang tidak layak konsumsi, namun beredar bebas di pasar dan di tempat-tempat yang terjangkau anak-anak (lihat tulisan di nahimunkar.com berjudul Lingkaran Kasus Dendeng dan Abon Babi April 21, 2009 12:36 am). Menyekolahkan anak pun di sekolah yang nyaris rubuh, kumuh, dan tidak berkualitas. Kalau sakit, maka yang dicari pun obat-obatan yang murah, kadang obat-obatan yang murah tadi merupakan obat palsu yang membahayakan kesehatan, atau obat yang diracik sendiri oleh orang awam, yang biasanya disebut sebagai obat setelan (campuran beberapa jenis obat dalam satu kemasan).

Obat setelan bisa diracik oleh siapa saja, misalnya oleh pengangguran yang tidak mengantongi izin apoteker sekalipun. Di Trenggalek, seorang pengangguran bernama Kasijan karena kepepet tidak punya pekerjaan, akhirnya menempuh jalan salah menjadi peracik obat setelan. Dalam satu setelan ada tiga macam obat. Setelah dikemas dalam plastik, dibubuhi logo dan tulisan tentang kegunaan atau manfaat dari obat racikannya itu. (http://www.radartulungagung.co.id/in/kriminal/narkoba/276-pengangguran-racik-obat-setelan.html)

Misalnya, ada obat setelan hasil racikan Kasijan yang diberi nama Tokcer, dan diklaim bisa mengobati flu tulang, encok maupun pegel linu. Ada lagi obat setelan ala Kasijan yang diberi nama Spontan yaitu obat sakit gigi, yang isinya CTM dan ponstan. Selain itu, ada obat asam urat hasil racikan Kasijan. Semua obat-obatan itu dikemas dalam plastik yang sama. Untuk membedakan satu obat dengan obat lainnya ada secarik kertas yang berbeda warna sebagai pembedanya. Kasijan yang mengaku pernah bekerja di apotek ini, menjual obat-obatan tersebut ke warung-warung.

Praktek Kasijan akhirnya dicurigai para tetangga. Mereka melaporkannya ke polisi. Setelah digeledah ternyata benar ditemukan banyak barang bukti berupa ribuan tablet, antara lain CTM Aficaton kaplet kuning sebanyak 1.000 kaplet, CTM Zenith tablet kuning 1.426 kaplet, BLC Natric warna hijau 1.760 tablet, paracetamol kuning dan putih 1.160 tablet, dexamitasone kaplet 896 tablet serta masih banyak yang lain.

Polisi menjerat Kasijan dengan pasal 81 ayat 2 huruf c jo pasal 63 ayat 1 UU RI no 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, dengan ancaman pidana penjara hingga 7 tahun. Tidak hanya Kasijan, polisi juga mengembangkan kasus tersebut untuk mengetahui keterlibatan pihak apotek yang menjual obat. Karena, dari beberapa obat yang dibeli Kasijan merupakan obat-obatan yang hanya bisa ditebus dengan resep dokter.

Meski berbahaya, obat setelan tetap diminati, khususnya oleh masyarakat pedesaan. Mereka beralasan, dengan mengonsumsi obat setelan tersebut penyakit yang dirasakan langsung sembuh. Apalagi harganya cukup terjangkau.

Di Blitar obat setelan juga beredar, sebagaimana diungkap Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar Rohmad Chudlori 18 Juni 2008, berdasarkan hasil laporan dan investigasi masyarakat. Obat setelan tersebut tidak diketahui jenisnya karena dipadu dengan obat lain untuk mengobati penyakit tertentu. Selain tidak diketahui jenisnya, juga tidak memiliki aturan mengkonsumsinya.

Di Purwakarta, obat setelan juga ditemukan. Hal ini diungkap Kepala Seksi Pelayanan Farmasi Dinas Kesehatan Purwakarta, Lusiana Pinem, Kamis, 18 Desember 2008. Obat setelan yang berpotensi merugikan kesehatan konsumen, ditemukan di beberapa kios dan toko obat, jamu, atau kosmetik, di pasar-pasar tradisional serta pinggiran kota Purwakarta.

Dokter Yossi juga pernah menemukan obat setelan di lingkungannya. Untuk obat pegel linu isinya 4-5 macam obat dalam satu plastik dan dijual di kios-kios, warung, penjual jamu. Rata-rata isinya metampiron, diclofenac Na, deksamethason, dan neurotopik vit. Yossi sering menemukan pasiennya dengan kondisi Moon Face, hipertensi akibat ‘ketagihan’ obat setelan ini. Menurut Yossi, masyarakat tidak mampu yang banyak mengkonsumsi obat setelan ini. (http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg03025.html)

Di Kecamatan Diwek, Jombang, juga ditemukan obat setelan khususnya di dua toko jamu. Obat setelan yang sering dicari pembeli adalah obat rematik, asam urat dan obat pegal linu. Menurut Anna Dian L (Kasi Farmakmin Subdin Bina Kesehatan, Dinkes Jombang), selain obat setelan di kawasan itu juga banyak ditemukan gerusan obat kimia dan jamu seduh yang mengandung obat daftar G (sejenis obat keras). Penggunaan obat keras tersebut jelas-jelas sangat membahayakan kesehatan tubuh. Apalagi cara penggerusan obat ini hanya menggunakan alat tradisional, yaitu uleg-uleg dan layah. (http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=10959)


Berbahaya Bagi Ginjal

Menurut Prof. Dr. H.M. Rachmat Soelaeman, Sp.P.D.K.G.H. obat setelan sangat berbahaya bagi kerja ginjal. Kerja ginjal adalah membersihkan darah dari racun dan berbagai zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan tubuh. Hasil pembuangan ginjal ini berbentuk urine atau air seni. Ginjal juga berfungsi mempertahankan kadar cairan tubuh dan elektrolit, mengatur tekanan darah, mengatur kadar kalsium pada tulang dan mengatur produksi sel darah merah. Ketika ginjal tak bisa menjalankan fungsinya, maka racun akan menyebar ke seluruh tubuh dan merusak berbagai organ tubuh lainnya. (http://pr.qiandra.net.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=15502)

Selain obat setelan, obat-batan herbal yang dimakan sembarangan juga dapat merusak ginjal. Sering kali ditemukan fakta yang ironis, ketika penderita gagal ginjal tidak mapu melakukan cuci darah, yang didatanginya adalah pengobatan alternatif yang menggunakan obat-obatan herbal. Obat-obatan dan suplemen herbal yang berpengaruh pada fungsi ginjal biasanya banyak mengandung zat besi dan Pb.

Gagal ginjal penting diwaspadai mengingat penyakit ini termasuk the silent killer, pembunuh diam-diam. Gagal ginjal adalah keadaan kedua ginjal yang tak bisa menjalankan fungsinya. Pada tahap awal, penyakit ginjal tidak menunjukkan gejala berarti. Penderita baru merasakan ada kelainan pada dirinya, jika fungsi ginjal menurun menjadi 25 persen, bahkan 10 persen pada penderita muda. Tak ada alarm tubuh yang mengingatkan bahwa fungsi ginjal mulai menurun. Keluhan baru terjadi ketika fungsi ginjal sudah sangat menurun. Pertanda bahwa ginjal sudah dalam kondisi berat ini, yaitu mual dan muntah-muntah.

Menurut Prof. Dr. H.M. Rachmat Soelaeman, Sp.P.D.K.G.H. gagal ginjal terdiri dari dua jenis, yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis. Gagal ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang mendadak (akut). Misalnya, terjadi pada pasien muntaber yang sudah sampai tahap dehidrasi (kekurangan cairan). Tahap ini membuat aliran air ke ginjal berhenti dan membuat ginjal gagal menjalankan fungsinya. Untungnya, gagal ginjal akut masih bisa disembuhkan dengan total. Sedangkan gagal ginjal kronis, tak bisa disembuhkan. Sisa hidup penderita harus bergantung pada proses pencucian darah dengan menggunakan mesin buatan.

Sekali cuci darah, penderita gagal ginjal harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah (antara Rp 395 ribu hingga Rp 550 ribu). Dalam seminggu, kewajiban cuci darah bisa mencapai dua hingga tiga kali. Berarti, dana yang harus dikeluarkan sekitar tiga hingga lima juta rupiah per bulan. Masih pula harus ditambah biaya obat yang harus dikonsumsi penderita.

Sejauh ini, belum pernah terdengar ada pasien gagal ginjal dari kalangan miskin. Bukan berarti tidak ada. Mungkin, karena mereka tidak bisa membedakan antara gejala gagal ginjal dengan penyakit lainnya seperti kram otot yang mempunyai ciri-ciri yang hampir sama. Bahkan, ketika fungsi ginjal sudah kian menurun, masyarakat miskin juga tidak bisa membedakannya. Tanda-tanda itu yaitu berupa mual dan muntah-muntah, disangka masuk angin. Kemudian dikerok. Tak berapa lama mati juga. Karena, seharusnya mengunjungi dokter, mengkonsumsi obat-obatan yang sesuai, bahkan cuci darah, ini malah dikerok.

Begitulah nasib orang miskin. Memang tidak enak jadi orang miskin. Menyadari hal ini, sayangnya sejumlah orang pontang-panting berusaha keluar dari kemiskinan dengan menghalalkan berbagai cara. Harga diri tidak lagi dipentingkan. Bagi mereka, yang penting kelihatan mapan dan bergengsi, meski harus jadi kacung para hoakiao atau orang asing.

Lingkaran yang dibuat adalah: Takut jadi orang miskin karena tidak enak, lalu menghalalkan segala cara, kemudian korban-korbannya adalah orang-orang miskin. Jadi lari dari kemiskinan untuk memukul orang-orang miskin. Padahal di dalam Islam, orang miskin adalah lahan yang baik untuk mencari pahala. Dengan membantunya, memberi sedekah kepadanya dan sebagainya, maka insya Allah menjadi tabungan pahala di akherat kelak. Bahkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan khabar gembira kepada orang yang menyantuni orang miskin:

عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ ، كَالمُجَاهِدِ في سَبيلِ اللهِ )) وَأحسَبُهُ قَالَ : (( وَكالقَائِمِ الَّذِي لاَ يَفْتُرُ ، وَكَالصَّائِمِ الَّذِي لاَ يُفْطِرُ )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

Riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Orang yang berusaha untuk membantu janda dan orang miskin bagai orang yang jihad di jalan Allah,” — dan aku (Abu Hurairah) mengiranya bersabda— “dan bagai orang yang bangun shalat sepanjang malam yang tidak putus (kendor), dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka.” (Muttafaq ‘alaih). (haji/tede)