Obral Janji, Syetan Pun Bisa


DALAM Islam, janji adalah utang, dan utang harus dibayar. Bila tidak dibayar tanpa alasan yang jelas, maka hal itu digolongkan sebagai perbuatan dosa. Namun bagi politisi, berjanji pada masa kampanye merupakan rutinitas yang harus dilakukan, tanpa ada kepastian apakah janji itu dapat dipenuhi atau tidak. Bahkan, bagi sebagian politisi, janji-janji pada masa kampanye tidak lebih dari tipu-daya semata. Anehnya, sebagian (besar) rakyat Indonesia, nampaknya senang diperlakukan seperti ini.

Megawati

Megawati calon presiden dari PDI-P misalnya, saat berdialog dengan warga Desa Karang Tengah, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, pada hari Senin tanggal 26 Januari 2009 lalu, mengumbar janji bila kelak ia terpilih kembali jadi Presiden, akan mensejahterakan rakyat. Seraya mengobral janji, Megawati juga mengkritik kebijakan pemerintah yang memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat miskin, sebagai bantuan yang sangat tidak mendidik dan tidak manusiawi. (http://pemilu.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/26/267/186457/megawati-obral-janji-sambil-kritik-blt)

Bahkan sudah sejak November 2008 lalu, Megawati mengumbar janji bila terpilih lagi jadi presiden, program utamanya menurunkan harga sembako. Padahal, di masa Megawati jadi presiden dulu, harga-harga sembako juga mengalami kenaikan. Namun, petinggi PDI-P tak kehabisan akal untuk berkelit. Sebagaimana dikemukakan Pramono Anung, kenaikan sembako pada masa Megawati dulu, nilainya masih lebih kecil dari kenaikan harga-harga sembako pada masa SBY-Kalla yang hampir mencapai 10 persen per tahunnya. Perbandingan kenaikan harga sembako di masa Megawati dengan di masa sesudahnya, merupakan hasil survei yang dipesan PDI-P melalui sebuah lembaga suvei yang katanya kredibel.

Pada pertengahan Februari 2009 lalu, di hadapan para pengusaha lokal yang tergabung ke dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Megawati berjanji bahwa ia bila terpilih menjadi presiden kelak akan memprioritaskan investor domestik di dalam perekonomian Indonesia. (http://www.megawati-institute.org/berita/2009/02/megawati -janji-prioritaskan-investor-domestik.html). Benarkah demikian? Setidaknya sebagian rakyat masih ingat, ketika Megawati menjabat presiden, pernah terjadi divestasi (pelepasan) 51% saham BCA (Bank Central Asia) kepada investor asing. Pelepasan saham BCA itu merupakan anjuran IMF dalam rangka menutup defisit anggaran. Padahal, konsorsium (investor) lokal kala itu, telah menunjukkan kemampuannya untuk membeli saham pemerintah sebesar 51% di BCA.

Sebulan sebelumnya, Megawati pernah mengumbar janji, jika ia terpilih kembali sebagai Presiden pada Pemilu Presiden 2009 nanti, dia akan memberi perhatian pada pembangunan kembali karakter bangsa. Karena, menurut Megawati, negara-negara yang mengalami kemajuan yang sangat besar di berbagai bidang dewasa ini karena jati diri dan mental anak bangsanya sangat kuat. Janji itu disampaikan Megawati saat ia ikut merayakan natal bersama di Kupang (9 Januari 2009). Memang, selama Megawati menjadi presiden, ia selalu keberatan dengan berbagai bantuan asing. Tapi, sejumlah BUMN strategis dijual kepada pihak asing.

Ketika menjabat sebagai presiden, kala itu Megawati berjanji tidak akan ada lagi darah yang tumpah di Aceh. Janji itu disampaikan kepada rakyat Aceh di Mesjid Raya Baiturrahman. Kenyatannya, ketika Megawati menjabat sebagai presiden manggantikan Abdurrahman Wahid pada 2001, janji itu tidak pernah terbukti, darah tetap tumpah di Aceh.

Bahkan, Megawati yang dibesarkan oleh kasus 27 Juli 1996, yaitu kasus diserangnya markas PDI di Jalan Diponegoro Jakarta oleh sejumlah orang yang diduga campuran antara preman dan aparat, tidak mampu mengungkap kasus ini secara tuntas. Padahal, sebagian besar korban kasus 27 Juli saat itu adalah pendukungnya. Megawati dalam posisi sebagai presiden sama sekali tidak mampu membawa pelaku kasus 27 Juli ke dalam proses hukum, malahan Sutiyoso yang pada 1996 konon ikut terlibat sebagai aktor di belakang penyerbuan markas PDI, malah mendapat kesempatan menjadi Gubernur DKI dua periode. Bagaimana Megawati mau menolong rakyat Aceh, lha wong rakyat PDI yang sudah jelas-jelas mendukungnya saja tidak bisa ditolong (dalam kasus korban 27 Juli 1996).

Politisi Muda dan Mantan Gubernur

Dalam hal mengumbar janji, nampaknya bukan cuma politisi senior yang terampil merangkai kata penuh janji, tetapi juga politisi muda. Misalnya, politisi muda dari Golkar Yuddy Chrisnandi. Pada salah satu kesempatan di Bali, Yuddy mengatakan ada lima agenda mendesak yang akan dilakukannya bila terpilih menjadi Presiden, yaitu Indonesia makmur, Indonesia yang cerdas, Indonesia yang adil, Indonesia tanpa korupsi, dan Indonesia yang mandiri. Yuddy juga mengatakan, “… kalau saya dipercaya menjadi presiden nanti, secara khusus saya akan mencintai Bali seperti kita mencintai anak perempuan terkecil kita. Kita sayang dengan penuh belaian…”

Pernyataan calon presiden Yuddy Chrisnandi di atas, tentu terdengar aneh. Oleh Yuddy Chrisnandi dikesankan seolah-olah Bali bagai anak perempuan terkecil yang jarang dibelai (jablai). Padahal, selama ini Bali seperti anak durhaka yang gampang ngambek: sedikit-sedikit mengumbar ancaman mau memisahkan diri dari NKRI. (lihat tulisan nahimunkar.com berjudul Kristen-Katholik dan Hindu Bertingkah edisi October 21, 2008 1:22 am, juga tulisan berjudul Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo October 19, 2008 10:27 pm di nahimunkar.com).

Mantan Gubernur DKI Jakarta dua periode (1997-2002 dan 2002-2007), Sutiyoso, yang pada musim pemilu ini mencalonkan diri sebagai presiden, sudah sejak November 2008 mengumbar janji. Antara lain kepada para nelayan di Kampung Nelayan Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat. Ketika itu Bang Yos berjanji akan membantu rakyat miskin tidak hanya untuk kampung nelayan tapi untuk Indonesia, jika ia terpilih menjadi Presiden kelak. Kepada masyarakat di kampung nelayan itu, Bang Yos juga mengajak mereka untuk bergabung bersama Partai Indonesia Sejahtera (PIS). (http://pemilu.okezone.com/index.php/read/2008/11/16/268/164571/bang-yos-obral-janji-di-kampung-nelayan)

Marwah Daud Ibrahim, politikus asal Sulawesi Selatan yang aktif di Golkar, pada salah satu kesempatan berjanji, jika ia menjadi Presiden, maka setiap keluarga akan diperjuangkannya mempunyai penghasilan sebesar Rp 5 juta per bulan atau setara dengan 20 gram emas. Janji itu diucapkan Marwah ketika ia berorasi di Konvensi Nasional Calon Presiden DIB 2009 (bertempat di Auditorium RRI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta) pada hari Sabtu tanggal 7 Maret 2009.

Kalau benar Marwah Daud Ibrahim terpilih jadi presiden, boleh jadi ia harus bekerja sangat keras, bahkan kemungkinan seusai menjalani kepemimpinannya selama lima tahun, janji itu bisa saja belum juga terwujud. Saat ini saja, penghasilan sebesar itu samalah kira-kira dengan penghasilan resmi dua orang Camat.

Prabowo Subianto

Ada juga partai baru (Gerindra) yang membuat pernyataan politik, antara lain berisi himbauan kepada para calegnya untuk tidak mengecewakan rakyat yang sudah lelah dan jenuh dengan mengumbar janji-janji. Bahkan kepada seluruh calegnya, Gerindra menekankan bahwa memberi janji politik kepada masyarakat bukanlah kewenangan mereka.

Namun demikian, Prabowo Subianto (calon Presiden dari Gerindra), justru berjanji akan memberikan sejuta laptop per tahun kepada para mahasiswa, jika dirinya terpilih sebagai presiden. Alasannya, karena mahasiswa tak boleh ketinggalan teknologi, dan saat ini harga laptop relatif mahal. Selain itu, dalam rangka menarik simpati kalangan kampus, Prabowo juga berjanji akan menghapus Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, karena undang-undang tersebut membuat perguruan tinggi semakin sulit dijangkau masyarakat miskin, akibat diterapkannya swastanisasi perguruan tinggi. Prabowo juga berjanji akan menurunkan pajak terhadap buku-buku pelajaran sehingga harganya tidak melonjak tinggi. Faktanya, harga buku pelajaran di Indonesia sangat mahal dibandingkan negara Singapura dan Australia.

Dalam salah satu kampanye terbukanya di Jogjakarta pertengahan Maret 2009 lalu, Prabowo Subianto calon presiden dari Partai Gerindra berjanji akan melakukan perubahan dan pengentasan kemiskinan rakyat Indonesia yang sudah berpuluh tahun hidup dalam penderitaan. Menurut Prabowo, “… bangsa ini masih miskin karena banyak rakyat yang menderita. Meski bumi Indonesia kaya, tetapi ternyata hanya untuk segelintir orang saja… kekayaan bumi Indonesia banyak yang diambil dan dibawa ke luar negeri sehingga tidak ada kemakmuran bagi rakyat Indonesia.”

Sebelumnya, masih di bulan Maret 2009, Prabowo berjanji bila kelak menjadi Presiden ia tidak akan menjual aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan alasan apapun tetapi justru bertekad menjadikan BUMN sebagai lokomotif kebangkitan ekonomi nasional. Menurut Prabowo, BUMN merupakan benteng terakhir lokomotif ekonomi nasional sehingga tidak sepatutnya dijual kepada pihak asing. Karena, penjualan BUMN merupakan jebakan neo-liberal atau neo-kapitalis untuk melemahkan kemandirian bangsa di bidang ekonomi.

Prabowo juga menyatakan, kecenderung di berbagai negara, termasuk Singapura, Malaysia, Korea Selatan, China dan negara-negara Eropa justru menjadikan BUMN di negaranya sebagai lokomotif ekonomi dan devisa bagi negara. Di Singapura, menurut Prabowo, pemerintahnya menjadikan BUMN untuk menggerakkan 70 persen sektor ekonomi, namun swasta tetap berkembang.

Prabowo juga mengaku prihatin terhadap kebijakan bank-bank BUMN yang lebih banyak mengucurkan dana kredit untuk pembangunan pusat perbelanjaan dan apartemen. Hanya sebagian kecil saja dikucurkan untuk kredit mikro dan kredit untuk pedagang-pedagang di pasar-pasar tradisional. Padahal, ada di antara bank BUMN itu yang memiliki jaringan hingga ke pedesaan, dan jumlah nasabahnya mencapa 31 juta orang. Tabungan bank BUMN itu rata-rata Rp1 juta per nasabah sehingga dana simpanan nasabah mencapai Rp31 triliun. Namun dana itu lebih banyak dimanfaatkan pengusaha besar, antara lain untuk pembangunan pusat perbelanjaan dan apartemen.

Prabowo yang juga Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) ini mengatakan, bahwa ia tidak anti pembangunan pusat perbelanjaan dan tidak anti pembangunan apartemen. Tetapi, ia mengharapkan pemerintah konsisten dengan ketentuan yang diterbitkan sendiri bahwa pembangunan pusat perbelanjaan adalah 2,5 kilometer dari pasar tradisional, untuk melindungi pasar tradisional yang menjadi andalan berusaha bagi pengusaha mikro. Jika pasar tradisional tidak dapat bertahan hidup, maka akan semakin banyak orang yang menjadi miskin.

Menurut Prabowo, keterpurukan pasar tradisional semakin memprihatinkan karena banyak pusat perbelanjaan dan pasar-pasar swalayan yang tidak diarahkan untuk melindungi ekonomi mikro. Penderitaan pedagang Pasar Koja Jakarta Utara menjadi contoh tidak adanya perhatian pemerintah. Hal yang sama juga terjadi di Blok M. Di sana, pusat perbelanjaan ada yang dibangun tepat di atas pasar yang dimiliki pengusaha mikro.

Prabowo juga merasa prihatin dengan seringnya terjadi kebakaran di pasar tradisional. “Kita mendengar hampir setiap minggu terjadi kebakaran. Kebakaran atau dibakar?” Ia menambahkan, hampir selalu insiden kebakaran melahirkan proyek pembangunan pasar yang harganya akan lebih mahal dan tidak terjangkau. Pasar modern yang dibangun di atas pasar yang terbakar itu kemudian dijual sangat mahal sehingga pedagang tradisional tidak bisa membeli kios. Harga per meter persegi pasar modern di Blok M itu lebih mahal dari harga kios di Orchad Road Singapura. Begitu kata Prabowo.

Jika ia kelak terpilih menjadi Presiden, Prabowo berjanji akan menjadwal ulang pembayaran utang luar negeri, dengan 2 jenis. Pertama untuk utang kesehatan, pendidikan dan lainnya yang sejenis. Sementara untuk utang yang lainnya dengan memberikan saham untuk proyek vital pembangunan. Prabowo juga mengaku punya obsesi besar untuk menghentikan sistem ekonomi kapitalisme predator yang kian berkembang di Indonesia.

Menurut Prabowo, sistem perekonomian harus kembali ke koridor konstitusi, berbasis kekeluargaan dengan penguasaan negara terhadap cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Free market liberalisme tanpa regulasi yang kuat hanya mendatangkan kesengsaraan. Bahkan Prabowo mengatakan, bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa kacung karena dijajah secara ekonomi. Karena, faktanya, rakyat makin banyak yang susah. Apa yang dikatakan pemerintah tentang menurunnya angka kemiskinan adalah bentuk kebohongan. Pada kenyataannya, pemerintah makin memiskinkan orang miskin. Demikian pernyataan Prabowo.

Wiranto

Senior Prabowo, Jenderal Wiranto yang pernah menjabat panglima ABRI, juga menjadi calon presiden dari Partai Hanura, pada musim kampanye ini tak ketinggalan mengumbar janji manis. Wiranto berjanji, bila kelak terpilih sebagai presiden, ia tidak akan mendustai rakyat. Jaminannya hati nurani. Jika ingkar, ia menyatakan siap didorong ke bui. Pada musim pemilu kali ini, Wiranto tak ingin partainya, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), hanya menjual janji-janji kosong demi merebut hati masyarakat. Menurut hematnya, Hanura harus lebih banyak bertindak untuk menyelesaikan masalah bangsa ketimbang hanya mengobral janji.

Jangan lupa, pada musim pilpres lima tahun lalu, Wiranto berjanji akan berusaha bekerja keras, selain menciptakan keamanan, juga menjamin rakyat wareg atau kenyang. Ketika itu Wiranto juga pernah berjanji akan membentuk pemerintahan yang demokratis, pemerintahan yang tumbuh dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sayangnya, Wiranto tdak berhasil memenangkan pilpres 2004, padahal kala itu ia berjanji jika terpilih sebagai presiden akan memberi hukuman mati bagi koruptor kakap, untuk membuat jera para koruptor lainnya.

Menurut Wiranto, penerapan hukuman mati bagi koruptor akan membuat jera sehingga upaya pemberantasan korupsi bisa berjalan efektif. Namun demikian, penerapan hukuman mati harus berlangsung tanpa pandang bulu kepada siapa pun, termasuk kepada pejabat tinggi.

Apakah janji-janji di atas juga berlaku pada musim kampanye tahun ini? Hanya Wiranto yang tahu. Yang jelas, rakyat tidak lupa dengan janji-janji yang pernah diumbar para calon presiden. Kalau rakyat lupa, Allah Subhanau wa Ta’ala tidak pernah lupa …

Obral Janji, Syetan pun Bisa

Dalam Tafsir At-Thabari dikemukakan, ayat tentang janji syetan kepada orang musyrikin di Badr (menjelang Perang Badr antara orang musyrikin dan Mukminin pimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang janji itu langsung diingkari:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ اْليَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرآءَتِ اْلفِئَتاَنِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقاَلَ إِنِّي بَرِيْئٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ وَاللهُ شَدِيْدُ اْلعِقَابِ# إِذْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُوْنَ وَالَّذِيْنَ فيِ قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلاَءِ دِيْنُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَإِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

48. Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu“. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah”. dan Allah sangat keras siksa-Nya.

49. (ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS Al-Anfal: 48, 49).

Sampai di akherat kelak pun syetan masih berkilah tentang janjinya, hingga ketika sehabis dihisab (diperhitungkan amal-amal manusia) maka syetan pun berkata, sebagaimana di dalam ayat:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ اْلأَمْرُ إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ اْلحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ ليِ عَلَيْكُمْ ِمنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلاَ تَلُوْمُوْنِي وَلُوْمُوْا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا ِبُمصْرِخِكُمْ وَمَا أُنْتُمْ بِمُصْرِخِي إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

22. Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah Telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS Ibrahim: 22).

Syetan telah mencontohi keburukan dalam hal obral janji dan kemudian mengingkari. Seandainya orang-orang yang berkampanye dengan berjanji manis seperti tersebut di atas –dan masih banyak lagi yang tidak disebutkan di sini–, kemudian mereka menang dalam pemilihan atas janji manisnya itu, lalu setelah menduduki kursi jabatannya, yang dilaksanakan bahkan sebaliknya, maka masyarakat pun tidak dapat memprotesnya. Misalnya kemudian yang dilaksanakan justru menaikkan harga, menaikkan pajak, menghalangi hak Ummat untuk melaksanakan agamanya, misalnya menghalangi sekuat-kuatnya bahkan pakai undang-undang agar poligami dilarang atau ditutup pintunya rapat-rapat, dan yang melakukannya dipenjarakan (itu sudah dirancang bahkan Departemen Agama sudah menyerahkan RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan ke secretariat negara, yang di antara isinya menjerat poligami dan mengubah hukum waris Islam, lihat artikel nahimunkar.com Hukum Waris Islam Digoncang Lagi, February 13, 2009 10:28 pm admin Artikel, https://www.nahimunkar.org/?p=243#more-243), sebaliknya memberi kebebasan seluas-luasnya terhadap aneka kemaksiatan, perzinaan, kumpul kebo, bahkan kemusyrikan dan bid’ah serta khurofat, masih pula mengangkat para pembela aliran sesat sebagai pejabat ataupun penasehat –baik formal maupun informal, sampai dukun keparat rekanan syetan pun diam-diam dijadikan penasehat–; maka sudah persis syetan, baik tingkahnya berupa ingkar janji maupun program-programnya. Sementara itu rakyat cukup jadi penderita, kemudian kampanye lima tahun lagi diberi janji manis lagi. Kalau sudah demikian, maka ucapan yang tepat untuk mereka itu adalah: Obral janji, syetan pun bisa! (haji/tede)