Ilustrasi/ Umat Islam pawai berkaos anti syiah di Solo 25/12/203. Foto kiblat.net

.

 

Inilah beritanya.

***

“Aher Hadiri Deklarasi Anti-Syiah, Intoleransi Berkalung Surban”

16 Apr 2014

By : Indonesia Today

intelijen – Kelompok liberal bereaksi keras, setelah muncul poster “Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah” yang akan digelar di Masjid Al Fajr, Buah Batu, Bandung, Jawa Barat, 20 April 2014.

Apalagi dalam poster itu tercantum nama Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher). Seperti tertulis di poster, Aher akan menghadiri deklarasi anti-Syiah yang bakal dihadiri seratus ulama di Indonesia.

Aktivis muda Nahdlatul Ulama di Amerika Serikat, Akhmad Sahal menyebut deklarasi itu sebagai insiden “intoleransi berkalung surban”.  Di akun Twitter ‏@sahaL_AS, Akhmad Sahal menyatakan: “Saya menolak doktrin Syiah tentang imamah, tapi saya bela hak mereka. Mereka juga harus hormati hak saya.”

Tak ketinggalan, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), Luthfie Assyaukanie melalui akun @idetopia menulis: “Gubernur Jabar menghadiri acara intoleran gini?”/ itoday.co.id

***

Kedok oknum-oknum NU liberal dibongkar

Untuk mengetahui para oknum NU liberal perlu baca tulisan kyai NU, di antaranya ini Membuka Kedok TokohTokoh Liberal dalam Tubuh NU

Faham liberal yang di pasaran disebut sepilis (sekulerisme, pluralime agama, dan liberalisme) telah difatwakan haram oleh MUI tahun 2005. Faham itu disamping merusak Islam masih pula membela aliran-aliran sesat seperti Ahmadiyah, syiah, LDII, Inkar Sunnah, Isa Bugis, bahkan sampai nabi palsu pun dibela.

Pembelaan terhadap nabi palsu oleh orang liberal bukan hanya lewat jalur pasaran bebas, namun orangnya aktif di jalur resmi, perguruan tinggi Islam. Contohnya Abdul Moqsit Ghazali yang dikenal membela nabi palsu Ahmad Mosadeq dan memlintir tafsir Ibnu Katsir dalam disertasinya untuk meraih doktor di UIN Jakarta, ternyata justru lulus. Dosen penguji yang memprotes kasus itu ternyata suaranya seakan dinafikan oleh tim penguji. Itu dimuat di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat.

Keruan saja muncul tulisan yang menyoroti masalah itu dalam judul UIN Jakarta Telah Memproduk Nabi Palsu, dan Pembela Nabi Palsu

 www.nahimunkar.com/uin-jakarta-telah-memproduk-nabi-palsu-dan-pembela-nabi-palsu/

Harus bersikap keras terhadap orang munafik dan pembela ksesatan

{ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ} [التحريم: 9]

9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali. (QS At-Tahriim/66: 9).

Memerangi orang munafiq adalah dengan lisan/ hujjah argumentasi, dan dengan sikap keras dalam pembicaraan, dengan mengemukakan ancaman siksa (di akherat), tidak boleh bersikap lunak terhadap mereka, menurut Al-Jazairi dalam Aisarut Tafaasiir.

Suara keras terhadap orang-orang munafik dan gerombolan sesat telah dicontohi oleh MUI dengan fatwa-fatwanya tentang haramnya faham Sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalism), murtadnya Ahmadiyah, sesatnya syiah, sesatnya Inkar Sunnah, dan rekomendasi tentang sesatnya Ahmadiyah, LDII dan sebagainya.

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.780 kali, 1 untuk hari ini)