Biasanya oleh-oleh dari Mekkah kota suci itu sebangsa air zamzam, kurma, siwak dan sebagainya. Tapi ternyata tidak musti pula seperti itu. Karena namanya juga oleh-oleh, buah tangan, ya terserah orangnya lah, mau ini mau itu terserah saja. Bahkan tidak bawa oleh-oleh ya ga’ apa-apa. Namanya lenggang, ga’ masalah. Yang penting itu perjumpaannya sesama Muslim, bisa saling salaman, rangkulan ketika habis bepergian dan sebagainya.

Ada yang datang dari Mekkah kota suci. Dia bilang, saya mencari-cari antum. Maka saya mampir atau bahkan datang ke sini, singgah dulu di Jakarta ini. Saya sendiri tinggal di Sulawesi. Tapi ingin ketemu  langsung ke antum, ucap sang tamu.

Ya, terimakasih. Bagaimana  kabarnya? tanya tuan rumah.

Al-hamdulillah baik-baik. Saya pulang dari bekerja di sekitar Masjidil Haram Mekkah. Suatu ketika saya kepingin belajar agama lebih intensif lagi, mencari-cari buku-buku ke toko buku di sana. Saya temukan buku ini, langsung saya baca-baca, lalu saya beli. Dan setelah itu saya baca terus. Ternyata ini tulisan orang Indonesia. Maka saya berniat, kalau sampai ke Indonesia, saya mau menemui penulisnya. Saya tertarik tulisannya, Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan. Jadi saya berusaha mencari-cari alamat penulisnya. Alhamdulllah sekarang sampai di Jakarta. Apakah benar, antum penulisnya? Ucap sang tamu sambil menunjukkan sebuah buku bersampul hitam ada warna kuning semu coklat.

Ya, Alhamdulillah. Terimaksih atas  perhatiannya. (Lalu berpandangan antara sang tamu dan tuan rumah).

Itulah oleh-oleh dari Mekkah, namun oleh-oleh itu dibawa pulang lagi oleh pemiliknya yang datang dari Mekkah itu. Karena bukan untuk dihadiahkan kepada sang tuan rumah, tapi hanya karena untuk membuktikan dengan nyata, apakah benar sang tuan rumah itu penulis buku yang jadi oleh-oleh dari Mekkah itu. Setelah nyata memang benar, ya sudah. Al-Hamdulillah, bisa ketemu penulisnya.

Demikianlah kisah singkat oleh-oleh dari Mekkah.

Para jamaah haji, jamaah umroh dan bahkan pelajar ataupun pekerja di Mekkah dan sekitarnya bisa juga nyangking oleh-oleh semacam itu untuk dihadiahkan sebagai alat dakwah. Bahkan ada tenaga kerja di Kuwait yang sengaja menyisihkan gajinya untuk khusus beli buku guna dihadiahkan kepada siapa saja, bahkan sampai yang belum jadi muallaf, sengaja dihadiahi buku-buku Islam. Dan ada yang kemudian masuk Islam, menurut Pak Nuruddin dar Jawa yang pernah bercerita tentang itu. Dia penjaga toko, suka bincang-bincang dengan pengunjung. Lalu dia menghadiahkan buku-buku Islami. Begitulah salah satu cara berdakwah dia.

Semoga itu semua besar manfaatnya.

***

Apa Saja Kesesatan Syi’ah Itu?

Kesesatan syi’ah dan  berbagai aliran dapat dibaca di buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia.  Sesatnya syi’ah dan aneka penyimpangan lain serta Ahmadiyah dan kitab Tadzkirah dan rangkaiannya, dapat dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Kyai kok Bergelimang Kemusyrikan, terbitan Saudi Arabia, dan terbitan Surabaya, Pustaka Nahi Munkar. (Pustaka Nahi Munkar Surabaya, 031 70595271, 5911584 atau 08123125427, dan Jakarta Toko Buku Fithrah 021 8655824, 71490693, HP. 081319510114). Baca lebih lanjut →

foto https://votreesprit.wordpress.com/2012/05/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 542 kali, 1 untuk hari ini)