Omongan Pejabat Ini Berindikasi Pro Kumunis atau Benci Islam Ya?

Di saat Umat Islam mengecam keras atas tingkah penguasa China Komunis yang menghina Islam dengan menghancurkan masjid lalu dibangun padanya wc alias toilet, eh pejabat di Indonesia memuji komunis China.

Omongan sengak itu pertanda benci Islam atau pro komunis ya?

Silakan simak.

***

Luhut Nilai China Maju karena Komunisme juga, Tifatul: Enggak Cocok di Indonesia, Dulu PKI Bunuh Beberapa Jenderal

“Bgmn mungkin pejabat negara memuji ideologi yg dulu pernah melakukan pemberontakan kepada RI dgn membunuh para Jendral TNI AD & pembantaian keji kepada para Ulama dan Santri”


HARIAN TERBIT

Luhut Binsar Panjaitan.

Hidayatullah.com Anggota DPR RI Tifatul Sembiring menilai Komunisme tidak cocok di Indonesia, menanggapi penilaian Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) terkait Komunisme di China.

Luhut sebelumnya menilai bahwa paham Komunis menjadi salah satu penyebab majunya China. Tifatul menilai Komunisme tidaklah cocok diterapkan di Indonesia. Politisi PKS ini mengingatkan aksi pembantaian terhadap sejumlah jenderal dalam Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia atau dikenal G30S/PKI.

Tifatul menilai, daripada Komunisme, lebih baik Pancasila sebagaimana yang selama ini digunakan bangsa Indonesia.

“Mohon maaf, tapi komunis nggak cocok di Indonesia, Bang. Kita pakai Pancasila saja. Kan PKI dulu sudah bunuh beberapa Jenderal AD…🤔,” tulis Tifatul melalui akun Twitternya, Selasa (18/08/2020), seraya menggunggah –sekaligus menanggapi– tautan sebuah berita salah satu media online yang berjudul “Luhut: Salah satu yang membuat China maju karena ideologi komunis”.

Pantauan hidayatullah.com semalam, Selasa (18/08/2020) sekitar pukul 19.45 WIB, unggahan Tifatul itu ramai ditanggapi beragam komentar warganet. Banyak yang setuju dengan Tifatul, ada pula yang mendukung Luhut.

Akun @AiraAfniAmalia, misalnya, berkomentar:

“Bgmn mungkin pejabat negara memuji ideologi yg dulu pernah melakukan pemberontakan kepada RI dgn membunuh para Jendral TNI AD & pembantaian keji kepada para Ulama dan Santri⁉️Bahkan dia begitu bangga mempekerjakan TKA China Komunis‼️#AntiKOM.

Begitu pula akun @trisenka yang menyayangkan pernyataan Luhut tersebut.

“Apakah Pernyataan LBP , dapat diartikan bahwa Ideologi KOMUNIS bisa menjadikan NEGARA MAJU !

Lebih jelasnya agar NKRI menjadi Negara MAJU , harus mengikuti China menjadi Negara Komunis !  

Sangat disayangkan Jenderal TNI PNW , mantan Prajurit Sapta Marga melupakan pANCASILA .,” komentar warganet tersebut.

Sebagaimana diwartakan, dalam Pidato Ilmiah Indonesia In The Exta Ordinary Time di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (14/08/2020), Luhut menilai sistem pemerintahan komunis yang dianut China sudah tepat. Sebab menurutnya China punya penduduk yang tak sedikit.

“Kadang kita tidak mau mengakui itu, kita sibuk ngomongin slogan komunis. Komunis itu memang dia perlukan untuk negara dia, karena kalau tidak 1,4 miliar penduduk dia itu tidak akan bisa menjadi satu,” sebutnya kutip Liputan6.com.

Luhut menganggap hal tersebut perlu dilakukan pemerintah di sana supaya tak ada kritik yang tak perlu. Kemudian pemerintah dapat fokus dalam pembangunan.

“Sehingga tingkat kemiskinan yang diselesaikan di China itu lebih besar, dibandingkan negara negara di dunia,” sebutnya.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

hidayatullah.com, Rabu, 19 Agustus 2020 – 05:18 WIB

 

***

China Dinilai Mendeklarasikan Perang terhadap Islam, Masjid yang Dihancurkan di China Dijadikan Toilet Umum

Posted on 18 Agustus 2020

by Nahimunkar.org

 

 
 



Seorang pejabat setempat di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang (XUAR) barat laut China, menyebut di bekas bangunan masjid yang telah dihancurkan di kota Atush (di China, Atushi), telah dibangun sebuah toilet umum.

 
 

Oleh beberapa pengamat, hal ini dinilai sebagai bagian dari kampanye dengan tujuan menghancurkan semangat Muslim Uighur yang ada di sana.

 
 

Dilansir di Radio Free Asia, Sabtu (15/8), laporan pembangunan kamar kecil di bekas situs Masjid Tokul, Desa Suntagh Atush ini, datang beberapa hari setelah Layanan Uyghur RFA mengetahui pihak berwenang merobohkan dua dari tiga masjid di sana.

 
 

Tindakan ini dilakukan guna melaksanakan arahan menghancurkan tempat ibadah Muslim secara massal yang diluncurkan pada akhir 2016, dikenal sebagai “Perbaikan Masjid”.

 
 

Upaya ini merupakan bagian dari serangkaian kebijakan garis keras di bawah pemimpin tertinggi Xi Jinping. Sebelumnya, mereka melakukan penahanan massal sebanyak 1,8 juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan luas kamp interniran XUAR, yang dimulai pada April 2017.

 
 

RFA juga baru-baru ini melakukan wawancara telepon dengan Ketua Komite Lingkungan Uyghur dari desa Suntagh di Atush. Kota setingkat kabupaten ini berpenduduk sekitar 270 ribu orang di bawah administrasi prefektur Kashgar, wilayah penghasil kapas dan anggur di barat daya XUAR.  

 
 

Dalam wawancara tersebut, ketua komite meminta agar namanya dibuat anonim dengan alasan keamanan. Ia juga menyebut toilet telah dibangun sebagai ganti bangunan lama oleh rekan-rekan Han (China). “Ini toilet umum … mereka belum membukanya, tapi sudah dibangun,” katanya. 

 
 

Saat ditanya apakah memang ada kebutuhan WC umum di masyarakat sekitar, ia menyebut warga punya WC di rumah masing-masing. Sehingga tidak ada masalah terkait keberadaan toilet.

 
 

Ketua komite juga mengatakan, Suntagh terletak sekitar tiga kilometer di luar pusat Atush. Area itu hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali wisatawan yang sekiranya memerlukan akses ke kamar kecil.

 
 

Dia mengakui, pembangunan toilet tersebut kemungkinan besar untuk menutupi reruntuhan Masjid Tokul yang hancur. Selain itu untuk keperluan pemeriksaan kelompok atau kader yang berkunjung ke daerah tersebut.

 
 

Kepala desa mengatakan tidak jelas berapa banyak orang yang bisa ditampung oleh kamar kecil itu. “Itu masih tutup, jadi aku bahkan belum masuk,” katanya.

 
 

Warga Suntagh lainnya, yang juga menolak disebutkan namanya, mengatakan salah satu dari dua masjid yang baru-baru ini diketahui dirobohkan sekitar musim gugur 2019, Masjid Azna, telah diganti dengan “toko serba ada”. Toko ini menjual alkohol dan rokok yang penggunaannya tidak disukai dalam Islam.

 
 

Sebelumnya, seorang petugas keamanan publik di Suntagh membenarkan jika Masjid Azna dan Masjid Bastaggam telah dihancurkan. Sementara masjid yang berdiri sendiri, Masjid Teres, adalah yang terkecil dan dalam kondisi paling buruk dari ketiganya.

 
 

Dinasti Tang Tiongkok pertama kali mengenal Islam pada abad ketujuh. Masa ini lebih dari 1.000 tahun sebelum Dinasti Qing menetap di tempat yang sekarang disebut Xinjiang.

 
 

China sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 22 juta Muslim, termasuk sekitar 11 juta orang Uyghur. Masjid dan situs keagamaan lainnya di Xinjiang rusak parah selama pergolakan politik pada Revolusi Kebudayaan 1966-1976 China.

 
 

Melalui penyelidikan awal terhadap kampanye Perbaikan Masjid, RFA menemukan pihak berwenang telah menghancurkan sekitar 70 persen masjid di seluruh XUAR.

 
 

Pada saat itu, pihak berwenang menyebut “keamanan sosial” sebagai alasan kampanye tersebut. Tampaknya hal itu berlanjut hingga tahun-tahun setelah 2016 dan terjadi intensifikasi penindasan komprehensif pihak berwenang terhadap Uighur.

 
 

Dalam satu laporan di tahun 2016, seorang pejabat lokal di daerah Lop (Luopu) prefektur Hotan (Hetian) melaporkan, pihak berwenang berencana menggunakan situs bekas masjid untuk membuka “pusat kegiatan” yang berfungsi sebagai tempat hiburan.

 
 

Pejabat lain di kotapraja Ilchi kota Hotan mengatakan, bekas situs masjid di sana dijadwalkan untuk diubah menjadi pabrik. Nantinya pabrik akan memproduksi pakaian dalam untuk perusahaan yang berbasis di Sichuan.

 
 

Selain masjid, pihak berwenang Tiongkok secara sistematis telah menghancurkan kuburan Muslim dan bangunan serta situs keagamaan lainnya di seluruh XUAR sejak 2016.

 
 

Investigasi yang dilakukan Agence France-Presse mengungkapkan, setidaknya 45 kuburan di XUAR telah dihancurkan dari 2014 hingga Oktober lalu, dan 30 kuburan diratakan sejak 2017. Situs tersebut diubah menjadi taman, tempat parkir, atau tetap menjadi lahan kosong.

 
 

Tahun lalu, Proyek Hak Asasi Manusia Uyghur (UHRP) yang berbasis di Washington, menerbitkan sebuah laporan yang merinci kampanye ini. Laporan tersebut diberi judul “Menghancurkan Iman: Penghancuran dan Penodaan Masjid dan Kuil Uyghur”.

 
 

Laporan ini menggunakan geolokasi dan teknik lain untuk menunjukkan di mana saja antara 10 ribu hingga 15 ribu masjid, tempat suci, dan situs keagamaan lainnya di wilayah tersebut yang dihancurkan antara 2016 dan 2019.

 
 

Seorang sejarawan Uyghur, Qahar Barat, baru-baru ini mengatakan penodaan rumah ibadah oleh pihak berwenang di XUAR merupakan semacam usaha untuk memecah semangat umat Muslim.

 
 

Dia mendesak pemerintah dan organisasi di dunia Muslim untuk mengambil tindakan terhadap China atas penodaan tersebut. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai deklarasi perang terhadap Islam. []

@geloranews

16 Agustus 2020

(nahimunkar.org)

 

 

 

(Dibaca 914 kali, 1 untuk hari ini)