ilustrasi


Sudah zamannya juga, qari’ ditampilkan seperti anak gaul. Tidak perlu penampilan ala ustadz atau qari’, karena segmennya bukan untuk thullab al-ilm. Masing-masing qari’ dibuat fashion-nya khusus. Qari’ A mengenakan form pakaian A. Qari’ B mengenakan form pakaian B. Sampai tiap-tiapnya dikenal dengan pakaiannya pula. Sampai di point ini, masih relatif. Karena menyelisihi kebiasaan pakaian ustadz atau qari’, mungkin sebagian akan merasa kurang sreg. Termasuk saya. Tolong beri saya ruang untuk merasa kurang sreg.

Iya. Saya termasuk yang memandang seorang dai dan qari’, ketika dalam konteks dakwah atau qira’ah, dari pakaiannya juga. Wajar. Karena saya tumbuh bukan di kalangan anak gaul. Makanya tadi saya sebut, ini masih relatif. Kalau saya kini anak gaul pun, saya berharap semoga kewibawaan pakaian ‘ngustadz’ lebih dipakai dibandingkan harus ikut ‘selera pasar’, alias ‘selera anak gaul’.

Kalau Anda tidak memberi saya ruang untuk merasa kurang sreg, berarti Anda melakukan dua kesalahan. Pertama, tidak ada manfaatnya juga menyempitkan ruang perasaan saya, dan Kedua, Anda di thread yang tidak selayaknya Anda baca.

Ada beragam video sekarang ini, menampilkan qari’-qari’ muda membaca al-Qur’an. Saya bersyukur anak-anak muda yang luar biasa pandai membaca kalam Allah. Walau disayangkan, penampilan mereka seperti ‘dirancang’. Mereka pun dipromosikan ke sana sini. Digencarkan media.

Alasannya pasti banyak. Alasan paling mulianya adalah memperkenalkan al-Qur’an ke kalangan awam, anak gaul, para pemuda dan seterusnya. By the way, kalau mau dialasankan, pasti para designer dan pegiatnya akan memberikan bertumpuk alasan yang diupayakan diterima.

Cuma, saya ini lumayan kesulitan mengatakan ‘kamu bagus’ padahal ‘kamu jelek’. Saya kesulitan mengatakan ‘tompelmu hilang’ padahal ‘tompelnya masih kereng’. Maksudnya, kalau memang ada yang saya tidak sreg, ya saya kesulitan berbohong. Walaupun bisa. Rasanya pula, tidak harus ‘tabayyun’; karena toh sudah jelas. Kalau merasa tidak jelas, silakan klik ctrl dan + sehingga lebih besar terlihat. Atau dekati layar. Nah, itu setabayyun-nya tabayyun untuk hal-hal yang sudah terlalu jelas bergulir di Internet.

Begini, akhi…

Kalau memang mau bisnis, jangan pakai atau atas nama al-Qur’an. Meroketkan qari’ atau ayat-ayat Allah, tapi ujung-ujungnya duit juga. Menyertakan bisnis di video. Dunia kan?

Begini, akhi…

Apapun usaha kebaikan antum untuk al-Qur’an, al-Hadits, atau ilmu syariah, kalau dari awal niatannya untuk dunia, sekalipun di awal antum berusaha menyembunyikan niatan itu, kelak akan kebelet juga untuk menampakkannya.

Begini, akhi…

Kalau kita ingin memajukan kaum Muslimin kembali ke Islam yang benar, berusahalah selalu muhasabah soal niat. Kalau memang mau dagang dan cari uang, tolong jangan pakai label dakwah. Jangan menjadi oportunis. Jangan mendompleng nama ustadz. Jangan mendompleng keberadaan qari’-qari’ muda. Nanti kalau mereka sudah digandrungi kemudian mulai menampung basis fans, bisnis makin lancar kan, ya? Sementara qari’-qari’ ini polos dan husnuzhan kita ke mereka, mereka memang murni cinta pada al-Qur’an sekalipun mungkin ada point kritikan untuk mereka.

Otak bisnis itu berbahaya jika ditaruh di dakwah. Awam tentu tidak mencium sengatan itu.

Yang kemarin menginginkan mushalla kelolaannya ditegaskan sebagai wakaf supaya ada i’tikaf pun, ternyata tetap saja bisnis di ‘masjid wakaf’. Karena kadang hukum dan masalah khilafiyyah dijadikan tunggangan demi melegalisir datangnya income buat pribadi. Tabarruk kuburan wali pun akan jadi khilafiyyah, karena ini masalah dapuriyyah.

Ini baru soal bisnis. Bagaimana jika ternyata bukan bisnis saja, melainkan kelak ke masalah politik dan hizb tertentu? Tahukah Anda, bahwa sebagian dai berprinsip ‘yang penting kumpul dulu’ urusan kemurnian agama nanti dulu? Salah satu cara bagus untuk mengumpulkan basis massa adalah mendesign figur-figur segar nan polos. Umat ini memang rindu akan kehadiran mereka, terutama umat yang biasa berposisi di balik hijab. Umat yang ini biasa disebut akhawat atau ummahat.

Dan sebagaimana yang pernah saya bilang, “Emak-emak jika sudah suka dengan suatu figur, mereka akan fanatik dengannya.”

Dan jika sudah benci dengan suatu figur, mereka siap mengghibahinya.

Maka coba bagi yang merasa dari para designer dan donatur, pikirkan lagi soal niat. Mau bisnis atau menjayakan umat dengan al-Qur’an?! Kalau tujuannya untuk mempopulerkan bisnisnya, saya sarankan jangan pakai qari’-qari’ ini. Support mereka tapi tolong taring syahwat bisnisnya disimpan di ranah lain yang cocok. Jangan di lembaran-lembaran suci itu. Jangan di dada pemuda-pemuda itu. Mereka adalah imam di beberapa masjid. Kalau memang sayang dengan pemuda-pemuda itu, jangan manfaatkan mereka untuk dunia.

Juga…

Kalau sayang sama mereka, jangan buat mereka kelak kesulitan untuk kembali ke niat yang murni

[Operasi Taring Viper]

Sudah zamannya juga, qari’ ditampilkan seperti anak gaul. Tidak perlu penampilan ala ustadz atau qari’, karena segmennya bukan untuk thullab al-ilm. Masing-masing qari’ dibuat fashion-nya khusus. Qari’ A mengenakan form pakaian A. Qari’ B mengenakan form pakaian B. Sampai tiap-tiapnya dikenal dengan pakaiannya pula. Sampai di point ini, masih relatif. Karena menyelisihi kebiasaan pakaian ustadz atau qari’, mungkin sebagian akan merasa kurang sreg. Termasuk saya. Tolong beri saya ruang untuk merasa kurang sreg.

Iya. Saya termasuk yang memandang seorang dai dan qari’, ketika dalam konteks dakwah atau qira’ah, dari pakaiannya juga. Wajar. Karena saya tumbuh bukan di kalangan anak gaul. Makanya tadi saya sebut, ini masih relatif. Kalau saya kini anak gaul pun, saya berharap semoga kewibawaan pakaian ‘ngustadz’ lebih dipakai dibandingkan harus ikut ‘selera pasar’, alias ‘selera anak gaul’.

Kalau Anda tidak memberi saya ruang untuk merasa kurang sreg, berarti Anda melakukan dua kesalahan. Pertama, tidak ada manfaatnya juga menyempitkan ruang perasaan saya, dan Kedua, Anda di thread yang tidak selayaknya Anda baca.

Ada beragam video sekarang ini, menampilkan qari’-qari’ muda membaca al-Qur’an. Saya bersyukur anak-anak muda yang luar biasa pandai membaca kalam Allah. Walau disayangkan, penampilan mereka seperti ‘dirancang’. Mereka pun dipromosikan ke sana sini. Digencarkan media.

Alasannya pasti banyak. Alasan paling mulianya adalah memperkenalkan al-Qur’an ke kalangan awam, anak gaul, para pemuda dan seterusnya. By the way, kalau mau dialasankan, pasti para designer dan pegiatnya akan memberikan bertumpuk alasan yang diupayakan diterima.

Cuma, saya ini lumayan kesulitan mengatakan ‘kamu bagus’ padahal ‘kamu jelek’. Saya kesulitan mengatakan ‘tompelmu hilang’ padahal ‘tompelnya masih kereng’. Maksudnya, kalau memang ada yang saya tidak sreg, ya saya kesulitan berbohong. Walaupun bisa. Rasanya pula, tidak harus ‘tabayyun’; karena toh sudah jelas. Kalau merasa tidak jelas, silakan klik ctrl dan + sehingga lebih besar terlihat. Atau dekati layar. Nah, itu setabayyun-nya tabayyun untuk hal-hal yang sudah terlalu jelas bergulir di Internet.

Begini, akhi…

Kalau memang mau bisnis, jangan pakai atau atas nama al-Qur’an. Meroketkan qari’ atau ayat-ayat Allah, tapi ujung-ujungnya duit juga. Menyertakan bisnis di video. Dunia kan?

Begini, akhi…

Apapun usaha kebaikan antum untuk al-Qur’an, al-Hadits, atau ilmu syariah, kalau dari awal niatannya untuk dunia, sekalipun di awal antum berusaha menyembunyikan niatan itu, kelak akan kebelet juga untuk menampakkannya.

Begini, akhi…

Kalau kita ingin memajukan kaum Muslimin kembali ke Islam yang benar, berusahalah selalu muhasabah soal niat. Kalau memang mau dagang dan cari uang, tolong jangan pakai label dakwah. Jangan menjadi oportunis. Jangan mendompleng nama ustadz. Jangan mendompleng keberadaan qari’-qari’ muda. Nanti kalau mereka sudah digandrungi kemudian mulai menampung basis fans, bisnis makin lancar kan, ya? Sementara qari’-qari’ ini polos dan husnuzhan kita ke mereka, mereka memang murni cinta pada al-Qur’an sekalipun mungkin ada point kritikan untuk mereka.

Otak bisnis itu berbahaya jika ditaruh di dakwah. Awam tentu tidak mencium sengatan itu.

Yang kemarin menginginkan mushalla kelolaannya ditegaskan sebagai wakaf supaya ada i’tikaf pun, ternyata tetap saja bisnis di ‘masjid wakaf’. Karena kadang hukum dan masalah khilafiyyah dijadikan tunggangan demi melegalisir datangnya income buat pribadi. Tabarruk kuburan wali pun akan jadi khilafiyyah, karena ini masalah dapuriyyah.

Ini baru soal bisnis. Bagaimana jika ternyata bukan bisnis saja, melainkan kelak ke masalah politik dan hizb tertentu? Tahukah Anda, bahwa sebagian dai berprinsip ‘yang penting kumpul dulu’ urusan kemurnian agama nanti dulu? Salah satu cara bagus untuk mengumpulkan basis massa adalah mendesign figur-figur segar nan polos. Umat ini memang rindu akan kehadiran mereka, terutama umat yang biasa berposisi di balik hijab. Umat yang ini biasa disebut akhawat atau ummahat.

Dan sebagaimana yang pernah saya bilang, “Emak-emak jika sudah suka dengan suatu figur, mereka akan fanatik dengannya.”

Dan jika sudah benci dengan suatu figur, mereka siap mengghibahinya.

Maka coba bagi yang merasa dari para designer dan donatur, pikirkan lagi soal niat. Mau bisnis atau menjayakan umat dengan al-Qur’an?! Kalau tujuannya untuk mempopulerkan bisnisnya, saya sarankan jangan pakai qari’-qari’ ini. Support mereka tapi tolong taring syahwat bisnisnya disimpan di ranah lain yang cocok. Jangan di lembaran-lembaran suci itu. Jangan di dada pemuda-pemuda itu. Mereka adalah imam di beberapa masjid. Kalau memang sayang dengan pemuda-pemuda itu, jangan manfaatkan mereka untuk dunia.

Juga…

Kalau sayang sama mereka, jangan buat mereka kelak kesulitan untuk kembali ke niat yang murni

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 757 kali, 1 untuk hari ini)