Ustadz Muhammad Afifuddin As Sidawi

Saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beserta para shahabatnya menuju Tabuk ada segerombolan munafiqin di antaranya adalah Nadi’ah bin Tsabit dan Mukhsyi bin Himyar tengah memperbincangkan Rasul Shallallahu’alaihi wasallam dan para shahabat Radhiallahu’anhum. Mereka berkata : “Kita tidak pernah melihat para pembaca (Al Qur’an) seperti itu. Paling gendut perutnya (suka makan, pent.), paling dusta omongannya, dan paling takut bertemu (musuh)!” Mendengar perkataan itu, Mukhsyi bin Himyar dengan ketakutan mengatakan, “Demi Allah, saya lebih senang kalau masing-masing diri kita dicambuk 100 kali daripada Allah menurunkan Al Qur’an berkenaan tentang kita menerangkan ucapan kalian!!” Maka Allah Tabaroka wata’ala pun menurunkan ayat di atas.

Riwayat lain menyebutkan, tatkala mereka melontarkan kata-kata ejekan tentang Rasul Shallallahu’alaihi wasallam dan shahabatnya Radhiallahu’anhum, Auf bin Malik Al Anshari Radhiallahu’anhu dengan berang mengingkari : “Engkau dusta! Engkau adalah munafik! Sungguh akan aku laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam!?” Beliau pun langsung mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk melaporkan ucapan sang munafik tersebut. Ternyata wahyu Allah Subhanahu wata’ala lebih dahulu turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah menerangkan dalam ayat-Nya,

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”(At Taubah : 64-66) 

(Lihat Fathul Majid halaman 524-525)

Ayat 64 surat At Taubah di atas disebut para ulama ahli tafsir sebagai “ayat fadhilah” yaitu ayat yang membongkar makar jahat orang-orang munafik, demikian Qatadah rahimahullah menegaskan. (Lihat Jami’ul Bayan 6/408, Tafsir Ibnu Katsir 2/367, Ad Durul Mantsur 4/229, dan Ma’alimut Tanzil 3/75)

Ibnu Jarir Ath Thabari juga menegaskan tentang hal itu dalam tafsirnya, Jami’ul Bayan 6/408.

Al Imam Al Baghawi dalam Tafsir-nya 3/75 menjelaskan, “Yakni (orang-orang munafik takut apabila turun suatu surat yang menerangkan) kedengkian dan rasa permusuhan terhadap kaum Mukminin yang ada dalam hati mereka, mereka berbincang-bincang di kalangan mereka sendiri dan mereka merahasiakannya karena takut turun ayat Al Qur’an yang membongkar rahasia mereka … .”

Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah ‘Azza wa Jalla telah menepati janji-Nya. Allah pun menurunkan surat yang menjelaskan tentang mereka (munafiqin), membongkar makar jahat mereka, dan menerangkan rahasia (yang mereka sembunyikan).” (Tafsir As Sa’di 3/258)

Ayat di atas serupa dengan firman Allah Ta’ala,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَى ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَةِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri : “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka jahanam yang akan mereka masuki dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (Al Mujadilah : 8 )

Al ‘Allamah Al Mufassir Muhammad Al Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya, Adlwa’ul Bayan 2/471 menjelaskan, “Dalam ayat yang mulia ini, Allah ‘Azza wa Jalla dengan tegas menjelaskan bahwa orang-orang munafik merasa takut bila Allah menurunkan ayat atau surat yang membongkar dan menjelaskan kekejian yang ada dalam hati mereka. Kemudian Allah Azza wajalla menerangkan bahwa ia benar-benar akan membongkar apa yang mereka takutkan. Dalam ayat lain Allah Azza wajalla menyebutkan,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

“Atau apakah orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?” (Muhammad : 29)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala menggambarkan kekhawatiran mereka yang amat sangat,

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai berpaling (dari kebenaran)?” (Al Munafiqun : 4)

Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari dalam tafsirnya, Jami’ul Bayan 12/101-102 menjabarkan, “Orang-orang munafik mengira bahwa setiap teriakan yang keras tertuju kepada mereka. Ini disebabkan kekejian mereka, su’udhan (buruk sangka), dan kurangnya keyakinan mereka, karena mereka sangat takut bila Allah menurunkan tentang mereka ayat yang membongkar rahasia dan makar jahat mereka. Mereka khawatir Allah membolehkan kaum Mukminin membunuh mereka, menawan anak cucu mereka, dan merampas harta benda mereka. Karena ketakutan yang amat sangat pada mereka, maka setiap ada wahyu yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya mereka mengira bahwa wahyu itu turun menjelaskan kebinasaan dan kehancuran mereka.”

Al ’Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat ini hanya menyebutkan kriteria mereka (munafiqin) tanpa menyebutkan person/individunya karena dua faidah :

a) Allah adalah Dzat yang senang menutup aib hamba-hamba-Nya.

b) Celaan ini tertuju kepada setiap munafik yang memiliki kriteria tersebut sampai hari kiamat.

Penyebutan kriteria lebih umum dan lebih tepat sehingga mereka tetap selalu diselimuti rasa takut. Allah Ta’ala berfirman,

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلا

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar. Dalam keadaan terlaknat di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.” (Al Ahzab : 60-61) ]
(Tafsir As Sa’di 3/258)

Ayat yang sedang kita bahas menjelaskan salah satu kriteria mereka yaitu mereka adalah orang-orang yang sangat takut kritikan.

[Dinukil dari majalah SALAFY edisi XXIX/1419/1999/TAFSIR dengan judul asli, “Orang-orang Yang Takut Kritikan]

Sumber : sunniy.wordpress.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 24.854 kali, 1 untuk hari ini)