{ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ} [المنافقون: 4]

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) [Al Munafiqun4]

Bagaimana tidak galau. Lha setiap ada teriakan keras dikira ditujukan kepada dirinya (si munafik).

Munafik yang satu bisa-bisa berbisik kepada munafik lainnya, ada suara keras tuh, di sana. Lalu dikerahkan tenaga-tenaga untuk mencari-cari suara keras itu. Ada yang bilang adanya di sana, yang lain bilang sumbernya dari sekitar sana, dan yang lainnya menyebut ada sejumlah suara keras dari berbagai arah. Semuanya menuju kepada kita (kaum munafik-munafik).

Masing-masing mereka dibayangi ketakutan, hingga setiap ada suara dikira membongkar aib kemunafikannya. Dan yang paling meresahkan, bila suara yang akan menyakitkan bagi si munafik itu wujudnya adalah ayat.

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”(At Taubah : 64-66)

Al ‘Allamah Al Mufassir Muhammad Al Amin Asy Syinqithi dalam tafsirnya, Adlwa’ul Bayan 2/471 menjelaskan, “Dalam ayat yang mulia ini, Allah ‘Azza wa Jalla dengan tegas menjelaskan bahwa orang-orang munafik merasa takut bila Allah menurunkan ayat atau surat yang membongkar dan menjelaskan kekejian yang ada dalam hati mereka. Kemudian Allah Azza wajalla menerangkan bahwa ia benar-benar akan membongkar apa yang mereka takutkan. Dalam ayat lain Allah Azza wajalla menyebutkan,

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ

“Atau apakah orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?” (Muhammad : 29)

(Lihat majalah SALAFY edisi XXIX/1419/1999/TAFSIR dengan judul asli, “Orang-orang Yang Takut Kritikan]

Lantaran datangnya ayat-ayat suci dari Allah Ta’ala itu bagi orang munafik sangat tidak mengenakkan, makanya dalam kenyataan, ketika ada manusia yang berani menista ayat-ayat al-Qur’an, maka ramai-ramai orang-orang munafik bersusah payah untuk membelanya sekuat tenaga. Ada yang sampai langsung tenaganya terkuras hingga makin lemah makin lemah, dan matilah dia…  Rugi besar lah dia. Hidupnya diakhiri dengan keadaan dipanggil Tuhannya dalam keadaan membela orang yang menista Tuhannya. Mau ditaruh di mana mukanya?

Munafik-munafik yang masih hidup pun masih dirundung galau se galau-galaunya, tanpa merasa bahwa pada hakekatnya mereka menunggu giliran seperti yang sudah mati itu tadi. Betapa ruginya bila sisa umurnya tidak dimanfaatkan untuk bertaubat se taubat-taubatnya, yang disebut dengan taubatan nashuha, sebenar-benarnya taubat.

Sekali lagi: Rugi besar lah dia. Hidupnya diakhiri dengan keadaan dipanggil Tuhannya dalam keadaan membela orang yang menista Tuhannya. Mau ditaruh di mana mukanya? Sedang azab di akherat akan abadi menimpanya tanpa dapat ditebus dari harta yang diperoleh dalam mengantek kepada orang kafir penista Islam di dunia. Betapa malangnya. Na’udzubillahi min dzalik!

Hartono Amad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 13.400 kali, 1 untuk hari ini)