Ormas Islam Geruduk DPRD Balikpapan soal Kampanye Terselubung LGBT 

  • Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity
  • Tak sesuai dengan Balikpapan sebagai kota Madinatul Iman

IDN Times/Maulana

Balikpapan, – Sejumlah perwakilan masa dari Banser NU dan GP Ansor mendatangi kantor DPRD Kota Balikpapan menuntut penyelesaian kasus dugaan kampanye terselubung komunitas LGBT dalam kegiatan pentas dan lomba tari bertema KPop di  Pentacity Shopping Mall, Balikpapan pada Sabtu, (9/11) lalu.

Mereka menuntut agar instansi dan aparat terkait menelusuri kasus ini, karena sudah meresahkan masyarakat Kota Balikpapan.

“Kami menuntut agar event organizer yang melaksanakan kegiatan ini mempertanggungjawabkan pelaksanaan acara tersebut karena sudah meresahkan masyarakat,” kata Sekretaris GP Ansor Kota Balikpapan Irwan ketika melakukan rapat dengar pendapat dengan DPRD Kota Balikpapan, Rabu (13/11).

1. Ormas Islam minta polisi usut tuntas

IDN Times/Maulana

Dalam kegiatan rapat dengar pendapat yang digelar di ruang rapat 1 DPRD Kota Balikpapan, sejumlah perwakilan ormas Islam menuntut agar kasus dugaan kampanye terselubung LGBT diproses sampai tuntas oleh aparat yang berwenang.

Irwan menjelaskan kehadiran para perwakilan ormas Islam kali ini untuk meminta keterangan secara langsung ke event organizer terkait modus dibalik pelaksanaan kegiatan kompetisi dance tersebut, termasuk dugaan keterlibatan komunitas LGBT.

“Kami mau menanyakan langsung modus apa yang ada di balik terlaksananya acara tersebut langsung kepada EO nya,” ujarnya.

Menurutnya, event seperti sudah beberapa kali terjadi di Kota Balikpapan, dan sudah menimbulkan keresahan di masyarakat karena tidak sesuai dengan motto “Kota Balikpapan sebagai Kota Madinatul Iman,” kata Irwan.

Sementara, Kasat Intel Polresta Balikpapan AKP Sarbini menjelaskan pihaknya telah meminta keterangan kepada EO yang bersangkutan. EO yang bersangkutan saat ini sudah dikenai wajib lapor terkait dugaan pelanggaran yang dilakukannya.

Ia menjelaskan pelaksanaan event pentas dan lomba tari tersebut dilaksanakan tanpa adanya surat pemberitahuan kegiatan ke Polresta Balikpapan. 

Baca Juga: Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity 

2. Pemkot Balikpapan akui kecolongan

IDN Times/Maulana

Dalam kegiatan tersebut, Asisten 1 Setda Kota Balikpapan Saiful Bahri yang hadir mewakili Pemkot Balikpapan mengakui bahwa pihaknya telah kecolongan atas  terlaksananya acara tersebut. Kedepan, Pemkot Balikpapan akan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang.

 “Sekarang hal ini menjadi perhatian kita, supaya tidak terulang kembali di masa akan datang. Kami akui Pemkot Balikpapan kecolongan,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua Komisi 4 DPRD Kota Balikpapan Muhammad Taqwa yang hadir mengaku merasa malu dengan kejadian ini. Karena hal ini sudah terjadi sebanyak 2 kali di Kota Balikpapan.

Sehingga memerlukan regulasi yang jelas, sehingga tidak terulang kembali di masa akan datang. “Hal ini sangat memalukan, ini harus menjadi perhatian agar tidak terulang kembali,” tegasnya.

3. Rapat ditunda hingga 2 jam menunggu EO

IDN Times/Maulana

Puluhan massa yang memadati ruang rapat 1 DPRD Kota Balikpapan sempat mengajukan protes karena sejak dimulainya acara pada pukul 13.00 Wita, pihak event organizer tidak kunjung hadir dalam rapat. Rapat dengar pendapat akhirnya ditunda sementara hingga 15.00 Wita menunggu perwakilan event organizer hadir.

Setelah menunggu selama beberapa jam, akhirnya perwakilan event organizer dari Shagy Wicky yakni Nasrullah hadir memenuhi undangan. Dalam rapat dengan pendapat tersebut, Nasrullah menjelaskan tidak mengetahui akan ada penampilan tarian dengan menggunakan busana wanita dalam lomba tari yang dilaksanakannya. Karena banyak perwakilan kontestan yang tidak hadir ketika dilaksanakan technical meeting sebelum acara berlangsung.

“Saya tidak tahu akan penampilan seperti itu, karena waktu technical meeting banyak yang tidak hadir. Yang tampil dengan menggunakan busana wanita tersebut merupakan kontestan dari Samarinda,” jelasnya.

Ia menjelaskan selaku pelaksana acara, pihaknya melaksanakan lomba yang menghadirkan grup tari dari beberapa daerah di Samarinda dan Balikpapan. Tarian yang ditampilkan adalah dengan menirukan gaya artis idola mereka (KPop). 

Foto IDN Times/Maulana   

Verified

Muhammad Maulana/ IDN Times 13 November 2019

***

 

Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity

 

EO kegiatan wajib lapor ke Polresta Balikpapan

Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity IDN Times/Maulana

Muhammad Maulana    

Verified

Muhammad Maulana

 

Balikpapan, IDN Times – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan mengecam keras kegiatan pentas tari yang digelar di kawasan pusat perbelanjaan Pentacity pada 11 November 2019 lalu. Kegiatan pentas atau kompetisi tari tersebut disinyalir merupakan kampanye terselubung komunitas LGBT yang dikemas dalam kegiatan pentas tari kawula muda dengan nuansa KPop.

 

“Meski alasannya kecolongan, Ini harus menjadi yang terakhir, jangan sampai terulang kembali,” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan M. Jailani ketika diwawancarai usai menghadiri pertemuan dengan Manajemen Pentacity Shopping Mall, Selasa (12/11).

 

 

 

 

1. Bentuk kemungkaran apapun tidak boleh diizinkan

Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity IDN Times/Maulana

Kegiatan pentas tari itu mendapat banyak sorotan dari masyarakat Kota Balikpapan setelah di-upload di media sosial, karena menampilkan laki-laki yang menari dengan mengenakan busana seperti perempuan, dan bergaya ‘kemayu’.

 

Menanggapi laporan masyarakat tersebut, Polresta Balikpapan telah meminta keterangan pihak manajemen Pentacity selaku penyedia lokasi kegiatan. Sedangkan event organizer yang menyediakan kegiatan ini dikenakan wajib lapor.

 

Menanggapi hal tersebut, MUI Kota Balikpapan bersama dengan ormas islam diantaranya GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) menyatakan mengecam keras kegiatan tersebut.

 

Menurut Jailani, pihaknya sudah meminta penjelasan kepada pihak manajemen Pentacity terkait izin penggunaan lokasi yang diberikan.

 

 

“Ini sudah beberapa kali, manajemen Pentacity mengaku kecolongan, kami minta agar tidak terulang kembali, karena segala bentuk kemungkaran tidak diperoleh,” ujarnya.

 

Baca Juga: Balikpapan Segera Siapkan Perda Pemilik Mobil Mesti Punya Garasi

 

2. Balikpapan kerap menjadi lokasi kegiatan LGBT

Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity IDN Times/Maulana

Kasus kampanye kegiatan LGBT di Kota Balikpapan bukan pertama kalinya. Pada awal Oktober 2019 lalu, masyarakat Kota Balikpapan juga sempat dibuat heboh dengan rencana pertunjukan selebgram Jovi Adhiguna di Mal Pentacity. Namun kegiatan tersebut akhir dibatalkan setelah mendapat protes dari masyarakat dan ormas Islam di Kota Balikpapan.

 

Menanggapi hal tersebut, Jailani menegaskan pihaknya bersama masyarakat Kota Balikpapan akan terus memantau kegiatan yang ada , sehingga tidak kembali terulang kasus serupa di waktu yang akan datang.

 

“Pihak Pentacity sudah minta maaf, kita akan terus pantau supaya tidak kecolongan lagi,” ujarnya.

 

3. Pentacity berkomitmen tidak akan memberi ruang LGBT

Kampanye LGBT Terselubung, MUI Kecam Pentas Tari di Mal Pentacity IDN Times/Maulana

Setelah mendapat reaksi keras dari masyarakat dan ormas islam, Manajemen Pentacity menyatakan komitmennya untuk menolak izin segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan LGBT.

 

“Ini sudah yang kedua kalinya, kami akui kecolongan,” ungkap General Manager Pentacity Yudi Saharuddin.

 

Menurut Yudi, pihaknya akan lebih selektif dalam memberikan izin kepada pelaksana event sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

 

“Ini adalah kecolongan, awalnya izinnya untuk kegiatan ulang tahun komunitas, ternyata dalam pelaksanaannya diisi kegiatan seperti itu. Gak sesuai dengan surat yang diajukan,” terangnya.

https://kaltim.idntimes.com/
12 November 2019

 

Polisi Periksa Manajemen Pentacity, Dituding Nekat Gelar Kegiatan LGBT

admin diskalPOSTED ON NOVEMBER 11, 2019

 
 


Balikpapan, DiswayKaltim.com – Polres Balikpapan memanggil manajemen Pentacity dan event organizer (EO) yang menggelar kegiatan yang diduga mendukung LGBT (lesbi, gay, biseksual, dan transgender) pada Senin (11/11) siang.

Pemanggilan ini dilakukan lantaran Pentacity tetap menggelar kegiatan tersebut pada Minggu (10/11) malam. Acara itu dihadiri seseorang yang dianggap tokoh LGBT. Ini ditolak beberapa ormas Islam Balikpapan.


Yudi Saharudin, GM Penta City Balikpapan


Polres Balikpapan turut memanggil ormas Islam yang kecewa karena acara tersebut telah terlaksana di Kota Beriman. “Tak ada surat izin keramaian dari polisi. Kan acara begitu juga sebelumnya dibatalkan,” ujar Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta, melalui Kasat Intel Polres Balikpapan AKP Sarbini.

Sekretaris FPI Balikpapan Oky M Alfiansyah mengatakan, seluruh ormas Islam Balikpapan merasa kecolongan atas terjadinya kegiatan tersebut. Jauh hari saat beredar info kegiatan ini, mereka telah berkomunikasi dengan Pentacity dan EO. Supaya acara tersebut tidak berlangsung.

“Meresahkan kami. Acara laki-laki bergaya seperti perempuan ini tidak sesuai. Kami sudah pernah ketemu pihak mal dan EO. Tapi masih dilakukan,” ujarnya.

Ia pun terkejut soal tidak adanya izin keramaian dari pihak polisi atas acara tersebut. Oky berharap, Pemkot bersama aparat mengawasi setiap kegiatan di Balikpapan. Supaya tidak terulang di Balikpapan.

Kegiatan berbau LGBT di Pentacity tersebut diakui manajemen Pentacity. “Saya mengakui kesalahan ini tanggung jawab Pentacity,” ujar GM Pentacity Balikpapan Yudi Saharudin, usai diperiksa polisi.

Lanjut Yudi, manajemen mal baru mengetahui acara tersebut pada Senin pagi. “Digelar komunitas Tiki Wiki. Katanya acara itu untuk mereka latihan. Kami hanya menyediakan fasilitas panggung untuk latihan. Tapi ternyata ada kompetisi dan ada pesertanya,” jelasnya.

Atas nama manajemen ia meminta maaf. Ke depan akan menjadi pelajaran untuk memastikan surat izin keramaian. “Kami pikir itu acara untuk latihan, bukan show. Akhirnya kami biarkan. Setelah ini kami konsisten menanyakan surat izin,” terang Yudi. (K/bom/hdd)

https://diswaykaltim.com/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 435 kali, 1 untuk hari ini)