ilustrasi foto: News Okezone


Syafii Maarif menilai yang menyatakan Ahok itu menista Islam Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Siapa yang dimaksud? Tentunya para ulama di MUI yang telah menetapkan keputusan bahwa Ahok menghina Al-Qur’an. Bahkan bukan hanya MUI yang terkena sebutan otak sakit yang dilontarkan syafii Maarif itu, namun jutaan Umat Islam.

Lantas, sebenarnya seberapa sehat otak Syafii Maarif? Kenyataannya, Hanya Otak Syafii Maarif yang Umumkan hasil riset lembaganya (Mei 2016) bahwa Denpasar Bali adalah Kota Paling Islami walau penduduknya mayoritas beragama Hindu Bali, dan banyak patung atau berhala di sana.

Waduh, patung atau berhala itu saja kalau ada di dalam rumah maka menurut Islam, rumah itu tidak akan dimasuki malaikat (rahmat), lha kok malah disebut kota paling Islami? Siapa yang sakit otaknya ini?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ )قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ(

(yang artinya) : “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing, juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits shahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]

Dinilai sebagai kota paling Islami? Padahal di sana banyak wanita umbar aurat berseliweran di jalan-jalan, apalagi di pantai. Itu belum masalah tempat-tempat minum yang dipenuhi oleh para peminum minuman yang memabukkan. Apakh itu ciri Islami, hingga disebutnya kota paling Islami? Otaknya waras atau sakit ya.

Hasil riset lembaganya Pak Syafi’i Maarif Mei 2016 itu tentu berkaitan dengan otak beliau pula, yang kini otak itu untuk membela Ahok.

Kini, ramai di masyarakat, Syafii Maarif membela Ahok karena menurutnya tidak menistakan Islam. Hingga Syafii Maarif yang dikenal memimpin Maarif Institute itupun mengkritik MUI. Karena MUI secara resmi menyatakan: “pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) dikategorikan: (1) Menghina Al-Quran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.”

Syafii Maarif pun menulis kritikan terhadap MUI, maka ditanggapi oleh Prof Didin Hafiduddin.

***

Didin Hafidhuddin: Tulisan Syafi’i Maarif Sangat Menyakiti MUI

Oleh Alfian Risfil Auton – ( Senin, 07 Nov 2016 – 19:01:44 WIB ) di Rubrik TSBerita

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Guru Be‎sar Ilmu Agama Islam Institut Pertanian Bogor‎ (IPB), Didin Hafidhuddin menyesalkan pernyatan pernyataan Buya Safi’i Maarif yang bertentangan dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait Al-Maidah 51 oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Buya Safi’i sebelumnya menyatakan bahwa Ahok tidak menghina Al-Qur’an. Sehingga memicu kontroversi dikalangan masyarakat.

“Ada beb‎erapa hal yang saya minta klarifikasi dari Buya. Sebab, tulisan Buya terus terang sangat tendensius dan menyakiti perasaan para pengurus MUI termasuk saya pribadi,” kata Didin dalam keterangannya, Jakarta, Senin (7/11/2016).

Pasalnya, kata Didin, pihaknya bersama para ulama perwakilan ormas Islam sudah mendengar, membaca dan sekaligus melakukan kajian mendalam terkait unsur penistaan Agama Ahok.

“Pengurus MUI tidak ada yang penjilat apalagi mengeluarkan fatwa murahan. Buya kan khawatir MUI tidak berlaku adil pada Ahok, sementara Buya sendiri tidak adil pada MUI. Jadi jangan asal menuduh,” sesal Ketua Umum Badan

Amil Zakat Nasional RI periode 2004 – 2015 ini.

“Demikian pula dengan peserta aksi damai. Mereka datang dengan biaya sendiri tidak ada yang merekayasa selain panggilan Aqidah Islamiyyah. Jadi, keyakinan pada kesucian Al-Qur’an lah yang menggerakkan mereka,” katanya.
Sebelumnya tulisan Buya Syafii Maarif beredar di WAG dan medsos. Catatan itu berjudul ‘Ahok Tidak Menghina Al-Qur’an.

Berikut‎ tulisan Buya Syafii selengkapnya :

AHOK TIDAK MENGHINA AL-QUR’AN

Oleh Buya Syafii Maarif

Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang menghebohkan itu, substansi tulisan ini semestinya sudah disampaikan saat Karni Ilyas, Presiden Lawyers Club, mengundang saya pada 11 Oktober 2016 melalui studio Yogyakarta. Karena semula audio-visual TVONE dari Yogya beberapa saat tidak berfungsi, sehingga saya tidak sempat mengikuti fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi malam itu. Baru belakangan saya dapat membaca isi fatwa itu melalui internet.

Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama dan harus diproses secara hukum. Tetapi malam itu, akal sehat saya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Yang menghujat saya cukup banyak, yang membela pun tidak kurang. Semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu. Semestinya lembaga sebagai MUI mestilah menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab.
Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri via internet, keterangan lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…” Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya.

Pokok masalah di sini adalah pernyataan Ahok di depan publik di sana agar “jangan percaya sama orang…karena dibohongin pakai surat surat al-Maidah 51.” Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong. Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya. Bung Zuhairi Misrawi dalam pembicaraan telepon dengan saya pada 3 Nopember 2016 mengatakan bahwa di beberapa masjid di Jakarta sudah lama dikobarkan semangat agar rakyat tidak memilih Ahok dalam pilkada 2017 karena dilarang oleh ayat di atas. Bagi saya, apakah Ahok terpilih atau tidak terpilih bukan urusan saya. Itu sepenuhnya urusan para pemilih DKI.

Saya tidak akan memasuki perang penafsiran tentang ayat itu. Pusat perhatian tulisan ini adalah bahwa tidak benar Ahok telah menghina al-Qur’an berdasarkan kutipan lengkap keterangannya di Pulau Pramuka di atas. Fatwa gegabah MUI ini ternyata telah berbutut panjang. Demo 4 Nopember 2016 adalah bentuk kongkretnya. Semoga demo itu akan berlangsung tertib, aman, dan damai.

Tetapi jika terjadi insiden yang tidak diinginkan, MUI harus bertanggung jawab, karena gara-gara fatwanya, demo itu digelar. Kelompok garis keras merasa dapat amunisi untuk tujuan duniawinya. Kekerasan telah jadi mata pencarian. Adapun beberapa politisi yang membonceng fatwa ini, itu bukan untuk mencari kebenaran, tetapi semata-mata untuk mendapatkan keuntungan politik kekuasaan dalam rangka pilkada DKI Feb. 2017. Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil!

Tulisan yang senada dengan ini dapat dicari di internet, seperti ditulis oleh Ahmed Zainul Muttaqien di bawah judul: “Soal Kalimat Ahok,” dan tiga artikel Zuhairi Misrawi dengan beberapa judul yang saling berkaitan.

Yogyakarta, 3 Nov. 2016.

(icl)

Editor : Redaktur | teropongsenayan.com/http://www.teropongsenayan.com

***

Lembaga yang dipimpin Syafii Maarif pernah mengumumkan hasil riset di antaranya Denpasar Bali termasuk kota paling Islami. Keruan saja mendapatkan sanggahan keras. Di antaranya ini.

***

Kekeliruan Maarif Institute terkait Indikator Kota Islami Indonesia

Rabu, 18 Mei 2016 – 12:00 WIB

Kota atau masyarakat yang Islami adalah kota/masyarakat yang mendasarkan tata cara hidupnya berdasarkan keimanan pada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir. Bukan sekedar aman

TEMPO

Ilustrasi: Wisatawan asing melintas di depan upacara umat Hindu Bali mejelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1937 di Pantai Prerenan, Badung, Bali, 18 Maret 2015

Oleh: A. Kholili Hasib

BARU-baru ini Maarif Institute merilis hasil riset tentang Indeks Kota Islami (IKI). Hasilnya mengungkap tiga kota paling Islami adalah; Yogyakarta, Bandung dan Denpasar. Yang sangat ganjil, menempatkan Kota Denpasar — kota yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, bukan Islam, sebagai salah satu kota Islami.

Sebelumnya, Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais saat merilis hasil ini di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (17/05/2016) mengatakan, kalaupun Denpasar – Bali yang penduduknya banyak Hindu bisa disebut ISLAMIkarena Rais konteks Islam dalam penelitian ini merujuk pada kota dan bukan perilaku masyarakatnya. Dia menekankan, pemahaman Islami ini bukan berarti harus orang Islam.

Bagamaina logikanya, Hindu tapi Islami? Ternyata indikator yang digunakan belum betul-betul disebut ‘Islami’. Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais menerangkan, ada tiga tolak ukur yang digunakan dalam penelitian ini. Yaitu aman, sejahtera, dan bahagia.

Kota aman diukur dari indikator kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan, hak anak, dan hak difabel. Selanjutnya indikator sejahtera diukur dari pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan kesehatan. Semantara tolok ukur bahagia diukur dari indikator berbagi dan kesetiakawanan serta harmoni dengan alam.

Kategori aman, sejahtera dan bahagia adalah kategori umum, padahal riset tersebut tentang IKI (Indeks Kota Islami) yang harusnya spesifik dengan tolak ukur ISLAM.

Bukan Ranting

Pertama-tama, yang harus diperjelas adalah indikator. Masalah riset model seperti ini bukan pertama kali Maarif Institute yang melakukan. Sudah banyak riset dengan indikator yang sama baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Rata-rata kategori yang digunakan LSM tentang indikator Islami cukup ngawur.

Atas dasar apa sesuatu itu disebut Islami? Apa syaratnya sesuatu itu Islami dan non-Islami? Jika indikator itu kategori “Islami”, maka grand theory riset itu tentu saja harus merujuk kepada diktum-diktrum pokok Islam.

Apa saja diktum-diktum pokok yang menjadi syarat sesuatu itu Islami? Aman, sejahtera dan bahagia sudah banyak dimaklumi merupakan bagian dari ajaran Islam. Cukup banyak dalil dari sumber-sumber Islam tentang pentingnya hidup aman, toleransi, dan bahagia (sa’adah).

Namun, harap dipahami dengan betul, bahwa dalam agama Islam ada bagian pondasi dan ada bagian ranting. Hidup aman, sejahtera dan bahagia merupakan ranting dari pondasi Islami yang dibangun kokoh. Seperti rumah. Jendela, pintu, kamar dan lain-lain adalah ranting. Pondasinya adalah tiang dan batu-batu besar yang ditanam di tanah.

Semua ranting berdiri di atas pondasi yang kuat. Ada ranting tapi tidak ada pondasi, pasti rontok. Ada pintu, ada jendela, tetapi tidak punya tiang. Pasti rumah itu roboh. Dan tidak akan terbentuk rumah lagi. Sebuah mobil yang ada roda bagus, pintu mobil, kaca mengkilap, dan rangka tetapi tidak ada mesin. Pasti mobil itu tidak bisa jalan. Orang akan menyebutnya ‘mobil-mobilan’.

Indikator Islam sudah diterangkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallah. Pondasinya disebut Rukun Islam. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallah bersabda: Islam dibangun atas lima pekara. (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. [HR Bukhari dan Muslim].

Apa saja jika ingin dinisbatkan Islami, maka harus berdasarkan pondasi ini. Seseorang yang disebut beperilaku Islami, maka asasnya harus dengan pondasi rukun Islam tersebut.

Dalam hadis nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallah di atas, Islam digambarkan sebagai sebuah bangunan. Adapun tiang-tiang bangunan tersebut berupa kelima hal tersebut. Jadi, bangunan tidak akan kuat tanpa tiang-tiangnya. Sedangkan ajaran-ajaran Islam lainnya berfungsi sebagai penyempurna bangunan.

Jika salah satu dari ajaran-ajaran tersebut hilang dari bangunan Islam, maka bangunan itu berkurang, namun tetap bisa berdiri dan tidak ambruk, meskipun berkurangnya salah satu dari penyempurnanya. Ini berbeda jika kelima tiang tersebut ambruk, maka Islam akan runtuh disebabkan tidak adanya kelima tiang penyangga tersebut.

Islam akan runtuh dengan hilangnya dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dengan dua kalimat syahadat ialah, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semua etika, akhlak atau adab Islam ‘digantung’kan dengan lima pondasi tersebut. Dalam beberapa pernyataan Nabi Saw, akhlak sosial dihubung-erat dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memulyakan tetangganya.” (HR. Bukhari-Muslim). Allah Swt berfirman: Allah Subhanahu Wata’alaberfirman: “Dan sembahlah Allah serta jangan menyekutukan sesuatu denganNya. Juga berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman seperjalanan, sepekerjaan, sesekolah dan lain-lain – orang yang dalam perjalanan dan – lalu kehabisan bekal -hamba sahaya yang menjadi milik tangan kananmu.” (QS. al-Nisa’:36).

Dalam ayat itu, setelah larangan untuk menyekutukan-Nya, Allah Subhanahu Wata’alamemerintahkan berbuat baik kepada tetangga, orang tua, kerabat dan kepada manusia lainnya. Pengaitan ini bukan tanpa maksud atau tujuan.

Denpasa Kota Islami?: Bali menjadi surga kaum ekspatriat dan wisatawan asing menemukan kebebasannya

Salah satu karateristik Islam adalah menjaga adab kepada Allah Subhanahu Wata’ala sekaligus adab kepada sesama manusia. Adab kepada-Nya dengan percaya dan beribadah kepada-Nya. Sedang adab kepada manusia adalah memenuhi hak-hak yang mesti diberikan kepada mereka. Dua-duanya adalah kewajiban yang sifatnya hierarkis.

Berbuat baik kepada manusia, akan tetapi meninggalkan shalat misalnya bukan karakter seorang Muslim. Begitu pula, menyembah kepada Allah akan tetapi berbuat buruk kepada tetangga, adalah bukan karakter muslim bertauhid. Dua perilaku ini tidak bisa disebut ISLAMI.

Artinya, seseorang yang bertauhid, mesti berbuat baik kepada manusia. Jika pun akhlaknya buruk, maka ia belum menjadi muslim bertahid yang sempurna. Sebaliknya, berbuat baik kepada sesama juga mesti didasari dengan tauhid, keimanan, bukan yang lainnya. Inilah yang disebut berperilaku ISLAMI. Seharusnya, hal seperti itu menjadi pertimbangan dasar untuk dijadikan indikator utama.

Kota atau masyarakat yang Islami adalah kota atau masyarakat yang mendasarkan tata cara hidupnya berdasarkan keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir.

Dengan berdasarkan pada indikator yang semestinya seperti di atas, maka tidak akan mungkin seseorang itu disebut “Hindu-Islami”, “Kristen-Islami”. Seorang Hindu tidak percaya kepada Allah Yang Maha Esa mustahil disebut Islami. Seorang Kristen yang tidak percaya risalah Nabi Muhammad Saw tidak masuk akal disebut Islami.

Hindui-Islami atau Kristiani-Islami adalah dua hal yang bertolak belakang. Jadi, tidak mungkin masyarakat yang Kristen pada saat sama Islami. Jika masyarkat Non-Muslim itu mengamalkan sebagian kecil ranting-ranting Islam pun tidak serta merta disebut Islami. Sebab, pondasinya saja tidak Islam. Sesuatu itu tegak tergantung pondasi dan akar. Bukan pada ranting dan cabang.

Dual hal yang bertolak belakang konsepsinya tidak bisa salah satunya menjadi nisbat kepada yang lainnya. Sebagaimana tidak mungkin kita mengatakan segitiga yang bulat atau bola yang trapesium. Dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, dalam penelitian Maarif Institut yang menempatkan Denpasar yang mayoritas Hindu sebagai Islami, merupakan kesalahan yang sangat fatal dalam metodologi.

Belum lagi jika kita lihat tiga wilayah tersebut dari perspektif yang lebih komprehensif. Akan terlihat kesalahan metodologis Maarif Institut tersebut. Yogyakarta menduduki tempat kelima sebagai kota dengan pengguna Narkoba terbesar di Indonesia. Dalam catatan BNN (Badan Narkotika Nasional), 2,37 pengguna Narkoba ada di kota Yogyakarta. Sementara Bali menempati urutan ke-8 dengan angka 2,22 persen. Artinya, dua wilayah ini masuk 10 besar di antara propinsi di Indonesia yang penduduknya mengkonsumsi Narkoba (sumber: metronews.com 9 Maret 2015).

Sedangkan, dari segi maksiat seks, kota Bandung dan Yogyakarta menempati urutan tiga dan empat sebagai kota dengan prostitusi terbesar. Sedangkan Bali menempati urutan urutan ketujuh. Meski urutan ketujuh, tetapi Bali dikenal dengan kehidupan hedonism yang banyak dibawa oleh turis asing Eropa.

Belum lagi, indikasi kemaksiatan lainnya. Bagaiaman mungkin daerah yang banyak maksiatnya disebut Islami?Lantas Islami dari mana? Maka riset tersebut tidak metodologis, dalam arti gagal menarasikan indikator kota Islami.
Indikasi sholah adalah ada

Prof.Syed Naquib al-Attas, menjelaskan indikator pertama untuk menilai seorang itu sholeh atau tidak adalah adabnya kepada Allah. Orang yang tidak percaya Tuhan, atau atheis adalah orang yang tidak beradab kepada Tuhannya, alias biadab.

Meskipun si atheis atau si kafir itu orang berdisiplin, jujur dan suka menolong orang lain tetap disebut biadab, bukan beradab. Sebab, amalnya batal atau tidak sah di depan Allah Subhanahu Wata’ala.

Seperti firman Allah: “Dan orang-orang kafir amal-amalnya mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi ‘air’ itu, maka dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.(QS. Al-Nur: 39).

Karenanya, karakter masyarakat non-Muslim yang kita anggap berbudaya disiplin, jujur, sejahtera itu sesungguhnya hanya karakter palsu, laksana fatamorgana.

Makanya, mereka tidak dapat disebut masyarakat yang islami. Yang islami apanya? Percaya kepada Allah saja tidak, shalat tidak, bertauhid-pun juga tidak.*

Penulis adalah Peneliti InPAS

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

www.hidayatullah.

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 27.237 kali, 1 untuk hari ini)