• Rupanya Gereja GPIB memasang kawat berduri yang dialiri arus listrik di pagar depan gereja. Kawat itu dililitkan di sebuah pipa yang melintang di atas saluran air yang ada di depan gereja itu. Menurut Rainis, pihak gereja beralasan pemasangan itu untuk menjaga keamanan gereja.

“Sebenarnya itu bangunan rumah bukan gereja, dan itu jamaahnya kebanyakan bukan warga situ, izinnya juga mungkin ga ada. Dan mereka memasang listrik di pagarnya dengan alasan keamanan juga aneh, karena lokasinya di perumahan bahkan dekat dengan pos satpam. Jadilingkungandisanasudahamanselamaini,” ujarRainis.

***

Bantu TemanAmbil Bola, Abdullah Tewas Kesetrum Pagar Gereja

Jakarta (SI Online) – Abdullah alias Muhammad Penji Saputra (19) harus kehilangan nyawa karena tersengat listrik pagar gereja di dekat rumahnya. Kejadiannya saat Penji mengambil bola yang jatuh di saluran air depan pagar gereja GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) Jemaat Kharis kawasan Pulogebang, Jakarta Timur pada 8 Mei 2013 lalu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ibunya Rainis (48). Sebagai seorang janda yang membesarkan anak-anaknya dari kecil seorang diri, Rainis mengaku berat menerima kejadian ini.

“Saat itu anak saya sedang duduk-duduk di trotoar dekat gereja sama abangnya, lalu diseberang jalan ada anak-anak sedang bermain bola. Dan kebetulan bolanya jatuh di saluran air didepan gereja itu. Lalu anak saya masuk ngambilin, karena kakinya basah terus dia tertarik kesetrum,” ungkap Rainis kepada Suara Islam Online, Kamis (17/7/2014) di Mapolres Jakarta Timur.

Rupanya Gereja GPIB memasang kawat berduri yang dialiri arus listrik di pagar depan gereja. Kawat itu dililitkan di sebuah pipa yang melintang di atas saluran air yang ada di depan gereja itu. Menurut Rainis, pihak gereja beralasan pemasangan itu untuk menjaga keamanan gereja.

“Sebenarnya itu bangunan rumah bukan gereja, dan itu jamaahnya kebanyakan bukan warga situ, izinnya juga mungkin ga ada. Dan mereka memasang listrik dipagarnya dengan alasan keamanan juga aneh, karena lokasinya diperumahan bahkan dekat dengan pos satpam. Jadi lingkungan disana sudah aman selama ini,” ujar Rainis.

Penji sudah berada di rumah sakit saat ibunya diberi tahu mengenai kondisinya oleh seorang tetangga. “Saya sampai ke rumah sakit, dia enggak ada lagi. Saya nggak sadar disitu,” ungkap ibu kelahiran Padang itu sambil melelehkan air matanya.

Tak cukup sampai di situ, Rainis mengaku harus mengurus persyaratan yang cukup rumit untuk mengambil jenazah anaknya di rumah sakit. Sungguh cobaan berat bagi seorang ibu.

red: adhila

(nahimunkar.com)

(Dibaca 915 kali, 1 untuk hari ini)