Saat ini nama Pak Kyai sedang akan ditorehkan dalam sejarah ‘penghinaan terhadap Islam di Indonesia dalam satu abad (1918-2018)’.

Pak Kyai pasti tahu siapa ahli sejarah yang sedang akan menorehkan nama Pak Kyai dalam jajaran yang kemungkinan digolongkan dalam barisan yang berhadapan dengan jutaan Umat Islam. Hal ini akan lebih terasa tajam, karena justru ahli sejarah itu adalah seorang yang telah Pak Kyai percayakan bersama para pimpinan MUI zaman Kyai Hasan Basri, untuk menulis buku ‘Sejarah Umat Islam Indonesia’ prakarsa MUI di bawah Menteri Agama Munawir Sjadzali. Dialah Ahmad Mansur Suryanegara.

Silakan simak tulisan ahli sejarah ini, agar menjadi pertimbangan benar-benar bagi Pak Kyai untuk kembali atau tega tetap mnceburkan diri yang tercatat dalam sejarah sebagai tokoh di barisan yang berhadapan dengan jutaan Umat Islam.

Inilah tulisan beliau yang baru saja ditampilkan di akun beliau dan kemudian saya kutip untuk ditaruh di link ini.

https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/posts/1888633261253681?__tn__=K-R

Penghinaan terhadap Islam di Indonesia dalam Satu Abad (1918-2018)

Ahmad Mansur Suryanegara

Satu Abad (1918-2018) Penghinaan Terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Oleh Boedi Oetomo 1918 – Diulang Dengan Penghinaan Islam Oleh Ahok (2016). Diulang Lagi Dengan Pembakaran Bendera Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Di Upacara Hari Santri Oleh Banser Limbangan Garut Jabar 2018.

***

Allah Murka, Dibangkitkanlah Keberanian Umat Islam , walau sedang terjajah oleh Kerajaan Protestan Belanda, dengan terbentuknya Demo Akbar, Tentara Kandjeng Rasoeloellah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Menuntut Keadilan kpd Penerintah Kolonial Belanda (1918) yang membiarkan pelaku penghinaan thd Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam .

Seratus Tahun Kemudian, Hari Ini, Allah Yang Maha Kuasa, Membangkitkanlah Keberanian Dan Keikhlasan Hati Umat Islam, untuk Mengadakan Demo Super Damai, Reuni 212 Silaturrahim Di Monas Jakarta, 2 Desember 2018.
Sejarah Berulang. Mengapa. Apa, Di mana, Bilamana, dan Bagaimana?

BOEDI OETOMO didirikan, 20 Mei1908. Oleh Siswa Bangsawan STOVIA di Batavia atau Jakarta, sebagai Reaksi thdp bangkitnya gerakan edukasi kalangan para HABIB dan SAYID dgn gerakan DJAMIATUL CHOIR (17 Juli 1905) di Tanah Abang Krukut, Betawi atau Jayakarta.

Didirikanlah gerakan edukasi dgn Guru Guru Tanpa Honor, oleh Sayid Al Fakhir bin Abdurrahman Al Mashur, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Syihab, Sayid Idrus bin Ahmad bin Syihab, dan Syehan Abdullah bin Syihab.

Gerakan Pendidikan yang dipelopori kalangan Bangsawan Arab,
DJAMIATOEL CHOIR ( 17 Juli 1905) dikembari oleh siswa bangsawan Jawa, dgn nama yang mirip, dgn bahasa budaya Jawa, BOEDI OETOMO ( 20 Mei 1908).

Para Sayid atau Bangsawan Arab, dgn gerakan edukasinya, dikembari dgn memberikan fasilitas Siswa Bangsawan Jawa dari STOVIA, Soetomo dkk nya.

BOEDI OETOMO, melancarkan aksi penghinaan thd RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sbg PENZINA dan PEMABUK. Melalui Buletin DJAWI HISWORO ( 11 Jan 1918). Mengapa ?

HOS TJOKROAMINOTO, HADJI AGOES SALIM, ABDIEL MOEIS, WIGNJADISASTRA, DEWI SARTIKA, melalui NATIONAL CONGRES ( Natico) CENTRAL SJARIKAT ISLAM ( CSI), di Gedung Concordia atau Gedung Merdeka, 16-24 Juni 1916, menuntut Zelf Bestuur, Pemerintahan Sendiri atau Indonesia Merdeka serta Indonesia Berparlemen.

Pemerintah Kol. Belanda sbg kepanjangan tangan imperialis Kerajaan Protestan Belanda, kedua-duanya menolak tuntutan Natico CSI di Bandung Jabar. Sangat ketakutan bila umat Islam bersatu. Maka, Martodharsono dan Djojodikoro, melalui Buletin Djawi Hisworo, melancarkan penghinaan thd Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Diluar perhitungan Boedi Oetomo, ALLAH membangkitkan keberanian Umat Islam menjawabnya, dgn DEMO AKBAR TENTARA KANJENG RASOELOELLAH Shallallahu ‘Alaihi Wasallam .

Saat itu, Demo tidak lagi menggunakan nama organisasi apapun dan nama Indonesia dari manapun. Tumbuh seperti jamur tertimpa hujan, istilahnya saat itu. Umat Islam bangkit bersatu bersama.

Pemerintah Kol. Belanda, bingung gemetaran ketakutan. Eropa sedang terbakar Perang Dunia I (1914 – 1918). Kerajaan Protestan Belanda netral. Tapi takut kebangkitan Islam yang dipimpin oleh RATU ADIL HOS TJOKROAMINOTO. Rakyat saat itu percaya, HOS TJOKRIAMINOTO sbg RATU ADIL.

Sejarah terulang lagi. Timbullah Gerakan Islam Nusantara, Anti Arab setelah Demo Super Damai, 2 Desember 2016 yang sangat dahsat dipimpin oleh HRS thd penghinaan Agama Islam oleh Ahok. Walau pelaku penghina Agama, dijatuhi hukuman. Tapi penjaranya beda.

Tiba tiba diulang lagi, di Limbangan, Garut, Jabar, pembakaran BENDERA RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, di Hari Santri. Oleh Pengadilan, pelakunya dijatuhi Hukuman 10 hari.

ALLAH YANG MAHA KUASA, memperlihatkan kembali MAHA KUASA dan MAHA PERKASANYA. Berjuta halangan yang dibuat oleh Pemerintahan, dikecilkan dgn digerakkanlah UMAT ISLAM tua, muda, pria, wanita, dan Tuna Netra, para Pedagang Kelapa, dllnya dgn DANA PRIBADI dan KEMAUAN DIRI SENDIRI, mengadakan REUNI 212 DEMO SUPER DAMAI SILATURRAHIM, 2 -12- 2018.

Dihilangkannya RASA TAKUT UMAT ISLAM. Dilarangnya Perusahaan Bus, dilarang mengangkut Umat Islam Peserta Demo. Dijawabnya dgn Jalan Kaki. Membludaklah Bandara Udara Laut, Darat, Relawan Demo yang dipimpin oleh MALAIKAT. Langit pun tersibak. Bersih tanpa ada hujan. Siapa dan mengapa ?

Ulang Tahun Satu Abad Penghinaan Thdp Islam Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (1918 -2018).

كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغۡلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِيٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ  ٢١ [ الـمجادلـة:21-21]

Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [Al Mujadilah:21]

Via fb Ahmad Mansur Suryanegara/ diberi teks ayat oleh NM

***

Pak Kyai akan tetap tega di barisan pembela penista Islam?

Pak Kyai, penghinaan terhadap Islam dalam satu abad dalam catatan ahli sejarah itu yang sudah dia kemukakan ada tiga. Satu Abad (1918-2018) Penghinaan Terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Oleh Boedi Oetomo 1918 – Diulang Dengan Penghinaan Islam Oleh Ahok (2016). Diulang Lagi Dengan Pembakaran Bendera Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Di Upacara Hari Santri Oleh Banser Limbangan Garut Jabar 2018.

Pak Kyai tentunya menyaksikan yang kedua dan ketiga. Posisi Pak Kyai di barisan penghina-penghina Islam itu, ataukan di barisan jutaan Umat Islam yang terasa sakit hati karena Islam dihina?

Ketika ternyata kini Pak Kyai Ma’ruf Amin berada di barisan kelompok-kelompok yang sudah diketahui umum sebagai pembela Ahok Penista Islam (karena melecehkan QS Al-Maidah ayat 51 dan divonis penjara 2 tahun), maka ahli sejarah yang dulunya telah MUI percayakan untuk menulis buku ‘Sejarah Umat Islam Indonesia’ itu akan mencatat Pak Kyai dalam sejarah sebagai sosok yang di barisan pembela penista Islam.

Sebagaimana ketika istri Nabi Luth ‘alaihissalam ternyata pro kepada pihak mujrimin pelaku-pelaku sodomi homoseks kaum Sodom dan berkhianat terhadap Nabi Luth ‘alaihissalam, maka Allah pun mengabadikannya dalam Al-Qur’an termasuk di barisan mereka yang diazab.

وَلُوطًا إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِۦٓ أَتَأۡتُونَ ٱلۡفَٰحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنَ ٱلۡعَٰلَمِينَ  ٨٠ إِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ  ٨١ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَخۡرِجُوهُم مِّن قَرۡيَتِكُمۡۖ إِنَّهُمۡ أُنَاسٞ يَتَطَهَّرُونَ  ٨٢ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ  ٨٣ وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرٗاۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ  ٨٤ [ الأعراف:80-84]

  1. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” [Al A’raf:80]
  2. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. [Al A’raf:81]
  3. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. [Al A’raf:82]
  4. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [Al A’raf:83]
  5. Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. [Al A’raf:84]

Peristiwa penistaan terhadap Islam di zaman penjajahan Belanda sudah berlalu, para pelakunya telah mati. Sebagaimana istri Nabi Luth ‘alaihissalam telah mati dalam keadaan diazab bersama kaum sodom pelaku homoseks. Mereka tidak ada berita bertobatnya, dan tentu saja setelah mati tidak dapat bertobat. Sementara itu dua penista Islam yang disebutkan belakangan ini baru terjadi baru-baru ini dan mereka masih hidup. Para pembelanya pun masih hidup. Orang yang bergabung dengan kelompok-kelompok pembela penista Islam itu (dalam hal yang dibicarakan ini Kyai Ma’ruf Amin) juga masih hidup.

Dalam Islam, ketika seorang muslim masih hidup, maka masih ada kesempatan untuk bertaubat, dan kembali kepada kebenaran. Tetapi kalau nyawa sudah sampai di tenggorokan tepat menjelang dicabutnya roh itu, maka tidak diterima lagi taubatnya. Sebagaimana Fir’aun yang kafir dan zalim, kemudian tiba-tiba ketika kena azab tenggelam di laut, dan sudah pada detik-detik akhir hampir mati baru mengakui Tuhannya Musa yakni Allah Ta’ala, maka pengakuannya itu sia-sia.

Oleh karena itu, Pak Kyai Ma’ruf Amin, kembalilah. Kasihanilah dirimu. Mumpung masih ada waktu. Bila nanti sampai tak ada waktu lagi, dan pena ahli sejarah itu menorehkan nama Pak Kyai dalam sejarah  ‘deretan penghina Islam dalam satu abad dan para pembelanya’, betapa ruginya. Bahkan yang paling dikhawatirkan, catatan ahli sejarah itu akan menjadi saksi tambahan dalam pengadilan Allah Ta’ala di hari qiyamat kelak. Betapa mengerikannya…

Jangan salahkan siapa-siapa bila nantinya di akherat akan menyesal-semenyesal nyesalnya. Karena paparan ayat dan pidato yang mengingatkan itu, telah terpampang nyata di dunia ini sekarang. Di antaranya ini.

Bergabung dengan kelompok yang membela penista Islam itu ada larangan dari Allah Ta’ala.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالٗا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ [ آل عمران:118-118]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [Al ‘Imran:118]

Pihak yang membela penghina Islam atau bahkan membenci atau memusuhi Islam, atau menolak perda-perda syariat Islam bahkan mencabutnya, atau diam saja tidak bereaksi ketika di depannya ada yang jelas-jelas menyebarkan perkataan penolakan terhadap perda syariat, padahal sebenarnya mampu bereaksi untuk menepisnya, maka itu jelas termasuk dalam بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ tersebut, yang tidak boleh menjadikan mereka sebagai teman kepercayaan.

Ada juga pidato yang disampaikan kepada jutaan umat Islam yang sedang berkumpul di Monas Jakarta, dalam Reuni 212, 2 Desember 2018.

Kata HRS (dalam pidato rekaman suara karena dia di Makkah kota suci), tidak ada sedikit pun keraguan, bahwa “(Pada) Pilpres dan Pileg 2019, haram kita memilih capres dan caleg yang diusung partai-partai pendukung penista agama,” serunya tiga kali.

“Saya ulangi sekali lagi, di Pilpres dan Pileg 2019, haram, haram, haraam kita memilih capres dan caleg yang diusung partai-partai pendukung penista agama,” tegasnya.

“Sekali lagi haram, haram, haram, memilih capres dan caleg dari kalangan mereka siapa pun orangnya yang jadi calonnya,” serunya.

Kami kutip inti pidato tersebut bukan karena akan adanya pilpres dan pileg 2019. Tetapi hanya untuk menunjukkan bukti bahwa selain ditampilkannya peringatan berupa ayat, masih pula ada peringatan berupa pidato.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya atas ditulisnya ini. Peduli apa kamu sok menasihati ketua umum MUI (Majlis Ulama Indonesia) KH Ma’ruf Amin. Toh beliau lebih tahu tentang ayat-ayat Al-Qur’an, tentang seluk beluk agama, bahkan juga politik yang dijalaninya.

Pertanyaan itu kalau secara Islam sebenarnya tidak usah ada pertanyaan, karena sudah jelas ada ayat wa tawaashau bil haq wa tawaashau bisshabr. Saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Bahkan dalam keadaan sudah jelas-jelas terhadap manusia-manusia pelanggar, durjana yang telah hampir diazab dengan azab yang menghinakan pun, menurut Islam tetap perlu ada yang menyampaikan nasihat.

{وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (164) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (165) فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ } [الأعراف: 164 – 166]

  1. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa. [Al A’raf:164]
  2. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. [Al A’raf:165]
  3. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina. [Al A’raf:166].

Pak Kyai, di depan mata ada kisah Istri Nabi Luth ‘alaihissalam beserta kaum sodom durjana homoseks yang telah diazab hingga binasa. Juga ada Fir’aun dengan wadyabalanya yang ditenggelamkan di laut dalam kadaan hina atas permusuhannya terhadap agama Allah Ta’ala.

Azab untuk mereka di alam kubur berlangsung terus, sedang di akherat dimasukkan ke dalam azab yang sangat keras.

{… وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ } [غافر: 45، 46]

45. …, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. [Ghafir:45]

46. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [Ghafir:46]

Di balik itu ada Nabi Musa ‘alaihissalam beserta para pengikutnya yang diselamatkan Allah Ta’ala.

Juga ada Nabi Luth ‘alaihissalam beserta keluarga dan pengikutnya yang diselamatkan oleh Allah Ta’ala (selain istri Nabi Luth, karena istrinya itu termasuk yang dibinasakan Allah Ta’ala lantaran pro LGBT sebagaimana para kelompok pembela penista agama yang kini Pak Kyai Ma’ruf Amin amini).

Benar-benar kisah nyata itu seperti di depan pelupuk mata. Tinggal pilih. Mau di barisan Fir’aun dan Istri Nabi Luth yang diazab, atau di barisan Nabi Luth ‘alaihissalam dan Nabi Musa ‘alaihissalam yang diselamatkan oleh Allah Ta’ala.

Sebagai penutup, inilah firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an mengisahkan perkataan Nabi  Syu’aib ‘alaihissalam.

{إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ} [هود: 88]

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. [Hud:88]

Wallahu a’lam bisshawab.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.082 kali, 14 untuk hari ini)