Ilustrasi gambar dukun/ bagindaery

(Merasa dapat pahala padahal menunjuki jalan ke dukun)

Ada semacam pak ogah di suatu pertigaan di sebuah kampung. Pagi itu jalanan tidak seramai hari-hari biasa. Konon karena ada libur nasional, entah karena ada pilkada nasional entah apa, tapi yang jelas tidak seramai biasanya.

Pak ogah yang ini pun santai, bahkan senyum-senyum, sambil berkata: “Pagi-pagi sudah dapat pahala.”

“Pahala apa?” tanyaku

Lhah, pagi-pagi gini sudah ada yang minta ditunjukin jalan, tiga orang lagi.

Tunjukin ke mana?

Ke dukun, semuanya.

Ha?

Ya, yang satu ke dukun sebelah selatan, yang satunya ke dukun sebelah barat. Yang satunya lagi ke dukun yang barat agak jauhan. Kan dapat pahala, kita nunjukin.

Hus! Bukan dapat pahala itu Bang. Justru dapat dosa.

Habis, dia tanya, masa’ tidak kita tunjukin.

Dapat pahala itu kalau kita nunjukin kepada hal yang baik. Tanya kepada tujuan yang benar, lalu kita tunjukin, itu baru dapat pahala. Lha ini tanya ke yang tidak benar, ke tempat yang dilarang Allah Ta’ala, ya malah dapat dosa dong Bang.

‘Ooo gitu, untungnya saya hanya nunjukin sono… nunjukin arah jauh (ga’ nunjukin tempat sebenarnya)’, kilahnya, setelah dia tidak lagi bangga, dan berbalik agak merasa bersalah.

Ya, tapi itu sudah nunjukin namanya.

***

Kejadian itu mengandung makna, betapa bersemangatnya orang mendatangi dukun, hingga pagi-pagi saja di satu jalan kampung sudah ada tiga orang (masing-masing membawa keluarganya dengan mobil) menanyakan tempat dukun yang dituju. Itu belum yang tidak bertanya, langsung datang ke dukun yang dituju karena sudah tahu tempatnya atau bahkan sudah bolak-balik ke sana. Berarti hari itu saja banyak banget manusia-manusia Indonesia ini yang ke dukun. Padahal baru satu kampung. Mungkin kampung-kampung lain yang ada dukunnya pun begitu juga. Na’udzubillahi min dzalik.

Di sisi lain, betapa awamnya di kalangan Umat Islam ini, hingga menunjuki kepada hal yang dilarang Allah pun dianggapnya berpahala. Mungkin karena tidak mengerti bahwa ke dukun itu dilarang dalam Islam, dan tidak mengerti, menunjuki kepada hal yang dilarang itu tidak boleh, bahkan mendapatkan dosa.

Larangan mendatangi dukun

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

Dalam Shahih Muslim disebutkan:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافًا لمَ ْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً

Barangsiapa mendatangi dukun maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

Hukum ini sebagai akibat dari hanya mendatangi dukun saja. Karena (sekadar) mendatanginya sudah merupakan kejahatan dan perbuatan haram, walaupun ia tidak memercayai dukun tersebut. Oleh karenanya, ketika sahabat Mu’awiyah Ibnul Hakam radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam perihal dukun beliau menjawab: ‘Jangan kamu datangi dia.’ Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam melarangnya walaupun sekadar mendatanginya. Jadi hadits ini menunjukkan tentang haramnya mendatangi dukun walaupun tidak memercayainya, walaupun yang datang mengatakan: ‘Kedatangan saya hanya sekadar ingin tahu’. Ini tidak boleh.

“Tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” dalam sebuah riwayat “40 hari 40 malam.”

Ini menunjukkan beratnya hukuman bagi yang mendatangi dukun, di mana shalatnya tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak ada pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun ia tidak diperintahkan untuk mengulangi shalatnya, karena secara lahiriah ia telah melakukan shalat. Akan tetapi, antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya karena tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala  terima. Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan haramnya mendatangi dukun, sekadar mendatangi walaupun tidak memercayai. Adapun bila memercayainya maka hadits-hadits yang akan dijelaskan berikut telah menunjukkan ancaman yang keras, kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu memercayai apa yang dia katakan maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam .”

Dalam hadits ini ada dua masalah:

Masalah pertama: mendatangi dukun.

Masalah kedua: memercayainya pada apa yang ia beritakan dari perdukunannya. Hukumnya ia telah dianggap kafir terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena tidak akan bersatu antara membenarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membenarkan berita dukun yang itu adalah pekerjaan setan. Dua hal yang tidak mungkin bersatu, memercayai Al-Qur’an dan memercayai dukun.

Yang nampak dari hadits itu bahwa ia telah keluar dari Islam.

Dari riwayat dari Al-Imam Ahmad ada dua pemahaman dalam hal kekafiran semacam ini. Satu riwayat, bahwa maksudnya kekafiran besar yang mengeluarkan dari agama. Riwayat yang lain: kekafiran kecil, di bawah kekafiran tadi.

Ada pendapat ketiga: tawaqquf, yakni kita baca hadits sebagaimana datangnya tanpa menafsirkan serta mengatakan kafir besar atau kecil. Kita katakan seperti kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan cukup.

Tapi yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat yang pertama, bahwa itu adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama. Karena tidak akan bersatu antara iman kepada Al-Qur’an dengan iman kepada perdukunan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala  telah mengharamkan perdukunan, dan memberitakan bahwa itu adalah perbuatan setan, maka orang yang memercayai dan membenarkan berarti telah kafir dengan kekafiran besar. Inilah yang nampak dari hadits. (I’anatul Mustafid)

Demikian penjelasan beliau tentang mendatangi dukun. Adapun tentang bertanya-tanya atau konsultasi dengan para dukun, telah dijelaskan dalam rubrik Manhaji secara lebih detail.

Ada satu hal yang perlu lebih kita sadari, yaitu kecanggihan teknologi yang ada ternyata digunakan para dukun untuk mencari mangsa. Sehingga tidak mesti seseorang datang ke tempat praktik dukun tersebut, tapi justru dukunnya yang mendatangi seseorang melalui radio, televisi, internet, atau SMS. Dengan itu, bertanya kepada dukun jalannya semakin dipermudah. Cukup dengan ketik: ”reg spasi ….” selanjutnya mengirimkannya ke nomor tertentu melalui ponsel, seseorang sudah bisa mendapatkan layanan perdukunan. Bahkan, sampai-sampai ada sebuah stasiun televisi yang membuat program khusus untuk menayangkan kompetisi di antara dukun/ tukang sihir.

Subhanallah, cobaan nyata semakin berat. Kaum muslimin mesti menyadari hal ini. Jangan sampai kecanggihan teknologi ini membuat kita semakin jauh dari ajaran agama. Justru seharusnya kita gunakan kemajuan teknologi ini untuk membantu kita agar semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Semoga kaum muslimin menerima dan memahaminya dengan baik sehingga menyadari akan bahaya perdukunan, untuk kemudian kaum muslimin pun bersatu dalam memerangi perdukunan. (tentang ciri-ciri dukun, silakan baca di link ini: https://www.nahimunkar.org/ciri-ciri-dukun-atau-penyihir/ ).

Menunjuki keburukan mendapatkan dosa

Ketika seseorang menunjuki sesuatu yang dilarang atau keburukan, kemaksiatan dan semacamnya, maka dia sama dengan ikut andil dalam keburukan itu. Tentu saja akan mendapatkan dosanya pula.

{مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا} [النساء: 85]

  1. Barangsiapa yang memberikan pertolongan dengan pertolongan yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu [An Nisa”85]

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [المائدة: 2]

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [Al Ma”idah2]

Dalam hadits juga disebutkan,

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Begitu pula aliran pahala atau dosa tersebut didapati dari mengajarkan ilmu, ibadah, adab dan lainnya.”

Sedangkan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Lalu diamalkan oleh orang setelah itu“, maka maksudnya adalah ia telah memberi petunjuk (kebaikan atau kesesatan) lalu diamalkan oleh orang lain setelah itu ketika yang contohkan masih hidup atau sudah meninggal dunia. Demikian penjelasan Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits di atas. (lihat judul Menolong dalam Maksiat Dihitung Maksiat, rumaysho.com).

Menghindari dosa dengan tauriyah

Ketika ditanya di mana tempat dukun, kalau dijawab dengan sebenarnya justru mendapat dosa, maka perlu dijawab dengan tauriyah. Tauriyah dari sisi bahasa adalah menyembunyikan sesuatu.

Sementara arti tauriyah dari sisi istilah (terminologi) adalah ucapan seseorang dengan perkataan, yang nampak artinya difahami oleh orang yang mendengarkan, akan tetapi orang yang mengatakan menginginkan arti lain yang terkandung makna dalam perkataan itu. seperti  perkataan kepada seseorang: ‘Saya tidak ada dirham di sakuku’ , dari situ difahami kalau tidak punya uang sama sekali. Akan tetapi maksudnya, dia tidak memiliki dirham akan tetapi mempunyai dinar. Ini dinamakan ta’rid atau tauriyah.

Tauriyah ini termasuk solusi agama untuk menghindari kondisi-kondisi sulit yang terjadi pada seseorang. Dikala ditanya oleh seseorang tentang suatu urusan, sementara dia tidak ingin memberitahukannya secara apa adanya pada satu sisi, disisi lain dia tidak ingin berbohong.

Diantara contoh tauriyah pula,

Kalau seseorang bertanya kepada anda, ‘Apakah anda melihat si fulan, sementara anda khawatir kalau anda beritahukan akan tercederai. Maka anda mengatakan, ‘Saya tidak melihatnya’. Sementara yang anda maksudkan adalah tidak jelas dan tegas melihatnya. Ini dibenarkan dalam Bahasa Arab. Atau tidak melihat, sementara maksud hati anda di waktu atau di tempat tertentu anda tidak melihatnya.( lihat  APAKAH TAURIYAH DIBENARKAN? DAN APA DHORURAT (KEBUTUHAN MENDESAK) DI DALAMNYA? /http://islamqa.info/id/27261 ).

Cara tauriyah itu hanya boleh dilakukan ketika keadaan daurat seperti tersebut. Bila dilakukan untuk menipu maka justru merupakan kebohongan yang jelas dilarang.

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama’ mengatakan, ‘Kalau hal itu dibutuhkan untuk kemaslahatan agama yang lebih kuat untuk mengecoh orang yang diajak berbicara, atau ada keperluan, tidak ada peluang kecuali dengan berbohong, maka hal itu tidak mengapa. Kalau tidak ada kemaslahatan tidak ada juga keperluan, maka hukumnya adalah makruh bukan haram. Kalau hal itu menghantarkan mengambil sesuatu yang batil atau menolak kebenaran, maka menjadi haram. Dan ini adalah ketentuan dalam bab ini.” Al-Azkar, hal. 380/ /http://islamqa.info/id/27261.

Kembali kepada Pak Ogah yang ditanya tentang di mana tempat dukun (atau kadang disebut dengan ‘orang pintar’ atau paranormal) itu tadi, dia sebenarnya dapat melakukan tauriyah. Misalnya dengan mengatakan: ‘Di sini saya baru, Pak.’

Dengan perkataan itu maka kemungkinan sekali Pak Ogah tidak dicecar untuk menjawabnya, karena difahami bahwa dia orang baru di situ. Sedang bagi Pak Ogah, prkataan “Di sini saya baru, Pak” itu maksudnya (untuk dirinya) berada di tempat dia berdiri itu baru. Jadi dia tidak berbohong, tetapi dapat menyembunyikan hal sesungguhnya dari yang ditanyakan.

By: Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.566 kali, 1 untuk hari ini)