Pandemi Corona Membongkar Cacat Sistem Buatan Manusia

 


 

Hari ini tak ada satu negara pun yang bisa berkutik menghadapi wabah corona. Bahkan negara selevel Amerika, Cina, dan Eropa, benar-benar dibuat tak berdaya.

Jutaan penduduk negara-negara adidaya tersebut satu demi satu melepas nyawa. Sementara jutaan lainnya antre dalam keadaan putus asa. Menunggu nasib: Akankah lolos dari screening kematian yang mengerikan?

Indonesia dan negeri muslim lain pun kondisinya sama saja. Corona, si makhluk super kecil nan perkasa ini, benar-benar telah membuat para penguasanya mati gaya. Sementara rakyatnya payah berjibaku dengan keadaan, di tengah negara yang kondisinya antara ada dan tiada.

Ya. Pandemi corona benar-benar telah membongkar cacat sistem sekuler dengan begitu sempurna. Menghancurkan semua sendi kehidupan manusia. Mulai dari aspek politik dan kekuasaan, ekonomi dan keuangan, sosial dan hankam, serta hukum dan yang lainnya.

Di saat sama, pandemi corona telah menguji loyalitas penguasa sistem sekuler ada pada siapa. Yang ndilalahnya, terbukti bahwa sistem ini hanya menjadi alat pemenuh kerakusan segelintir orang saja. Bukan hadir untuk menebar rahmat bagi seluruh umat manusia.

Wajar jika rakyat mulai banyak yang kecewa dan terbuka mata. Bahwa sistem ini hanya pandai menjanjikan angan-angan soal hidup bahagia dan sejahtera. Apalagi faktanya, negara sebesar dan sekuat apapun di dunia, ternyata tak mampu mengatasi serangan wabah yang tiba-tiba, berikut semua kerusakan global yang dimunculkannya.

Bahkan para penguasa negara-negara ini menampakkan ketidakpedulian pada nyawa rakyatnya. Dan malah sibuk memanfaatkan situasi untuk mempertajam persaingan internasional. Sekaligus mengukuhkan penjajahan melalui cengkeraman skema utang yang justru kian memperburuk krisis global. Dan semuanya, semata demi keuntungan para kapitalis, sponsor kekuasaan negara kapitalisme global.

Sungguh pandemi ini, juga telah gamblang membuktikan bahwa sistem ini benar-benar tak bisa dijadikan pegangan. Apalagi diharapkan menjadi tempat naungan yang bisa memberi manusia rasa nyaman, kebahagiaan dan penjagaan.

Asasnya yang rusak, nyata telah membuat kehidupan tak tentu arah. Membuat manusia –demi dan atas nama kebebasan– sibuk mengejar segala hal yang serba profan. Membangun peradaban materialistis yang menjauhkan manusia dari fitrah penciptaan: sebagai hamba Allah dan khalifah bagi alam dan kehidupan.

Asas ini pulalah yang membuat manusia bak makhluk tanpa jiwa dan akal. Terbiasa saling berebut, rela saling sikut. Bahkan meniscayakan si kuat menjadi serigala kejam bagi yang lainnya.

Maka tak perlu heran, jika di tengah situasi pandemi corona, watak rakus tak pernah padam. Tak orang biasa, tak pula negara dan penguasanya. Mereka lumrah mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan. Mencari sebesar-besar keuntungan.

Halal-haram? Jangan ditanya. Nilai-nilai kebaikan? Entah bersembunyi di mana. Kalaupun ada, dipastikan hanya tersisa pada individu-individu yang terpelihara saja. Yang jumlahnya minoritas di antara miliaran jiwa manusia.

Paradigma kepemimpinan sekuler pun kian nyata kebusukannya. Selain nampak hanya sekadar nama, pada praktiknya kepemimpinan dalam sistem ini hanya bermakna penguasaan si kuat atas si lemah. Bukan pengurusan dan penjagaan pemimpin pada yang dipimpinnya.

Tak heran jika banyak kebijakan –termasuk di tengah situasi wabah– justru cuma sekadar artifisial dan propaganda. Alih-alih mampu memberi solusi dan meringankan beban rakyatnya, kebijakan negara sekuler justru seringkali melegitimasi kezaliman rezim penguasa hingga menjadi sumber malapetaka.

Lihatlah kebijakan negara +62. Saat sebagian dunia menyalakan alarm tentang bahaya corona, penguasa malah sibuk menggenjot pariwisata dan sibuk berpolemik soal ketidakmungkinan Indonesia dilanda wabah yang sama.

Alasannya, pertumbuhan ekonomi sedang di ambang bahaya, dan kondisi ini lebih bahaya dari corona. Padahal yang di ambang bahaya, entah ekonomi siapa… Wajar jika akhirnya, Indonesia benar-benar kolaps dilanda wabah corona.

Pemenuhan hak rakyat di sistem ini pun tak lebih hanya sebatas permainan kata-kata. Dan kondisi ini kian terasa dalam situasi krisis seperti pandemi corona. Kesehatan, pendidikan, dan keamanan menjadi barang mahal yang kian tak terjangkau rakyat jelata. Dan semuanya, berjalan dalam sistem layanan yang serba apa adanya.

Apa yang mereka sebut dengan jaminan sosial, pendidikan untuk semua, world class university, universal health coverage, eliminasi kemiskinan, revolusi industri 4.0, demokratisasi, liberalisasi pasar, dan semacamnya, ternyata berujung pada kalimat yang sama: Kapitalisasi dan perampokan harta rakyat atas nama kemajuan dan pertumbuhan ekonomi global!

Buktinya, kehidupan rakyat bukannya beranjak baik. Ekonomi, terasa kian berat. Kondisi politik pun makin tak karuan. Alih-alih mengayomi, perilaku para pejabat, kian jauh dari karakter politisi dan negarawan. Asal bunyi, hobi mengundang polemik dan sebagiannya malah sibuk membuat program-program kanalisasi demi membangun pencitraan.

Lantas akankah sistem destruktif ini terus dipertahankan? Sementara Islam telah memberi kabar gembira tentang sistem yang dipenuhi kebaikan dan keberkahan. Karena Islam tegak di atas pilar kokoh tentang asas bernegara, paradigma kepemimpinan dan bentuk-bentuk pengaturan sistem kehidupan yang solutif sepanjang zaman.

Ya. Islamlah satu-satunya sistem yang punya pengalaman dan sejarah terbaik mengurus umat manusia di setiap keadaan. Termasuk di masa krisis yang secara sunnatullah bisa menimpa siapa pun di fase-fase tertentu kehidupan manusia, termasuk kehidupan umat Islam.

Asasnya yang sahih, yakni keyakinan akan kemestian peran Allah dalam mengatur kehidupan, telah membuat kehidupan manusia berjalan dengan arah yang jelas. Tak hanya bernilai profan tapi juga transendental. Yakni berupa visi mewujudkan hasanah, tak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Asas inilah yang menjadi landasan kepribadian individu, kehidupan bermasyarakat, bahkan menjadi dasar bagi negara dan kepemimpinan. Hingga lahir dari asas ini peradaban cemerlang yang menebar kerahmatan. Dengan individu-individu yang bertakwa, masyarakat yang saling menjaga dan negara yang berdaulat dan layak menjadi harapan rakyat.

Dengan asas ini, negara dan pemimpinnya siap mengurus umat dan menjaga mereka, sebagaimana layaknya penggembala menjaga gembalaannya. Memenuhi kebutuhan mereka dan menjaga mereka sekuat tenaga dari apapun yang akan membahayakannya.

Dengan asas ini pula, individu, masyarakat maupun negara tak mudah kehilangan nurani dan akal sehat saat diuji dengan kesempitan dan cobaan. Bahkan ketiganya akan selalu tertuntun mengambil jalan keluar yang menyelamatkan, seraya siap mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Hal ini sangat niscaya karena Islam memiliki seperangkat aturan yang hebat tiada tara. Yang ditegakkan oleh sistem politik berupa negara global bernama khilafah Islam.

Sementara pemimpinnya diangkat oleh umat atas nama Allah dengan baiat untuk menjalankan aturan Islam kafah sebagai bukti ketundukan. Sekaligus sebagai bukti atas keyakinan bahwa hanya Islamlah satu-satunya solusi kehidupan.

Sistem politik dan kepemimpinan seperti inilah yang membuat negara khilafah menjadi negara kuat dan berdaulat. Mandiri tak bergantung pada asing. Bahkan bisa menyatukan semua potensi umat yang super besar demi kepentingan mereka dan kemuliaan Islam.

Negara khilafah akan menerapkan seluruh aturan Islam secara kaffah. Mulai dari sistem ekonomi dan keuangan yang menjamin kesejahteraan dan keadilan. Sistem sosial yang bersih dan saling mengokohkan, sistem hankam dan hukum yang menjamin keamanan, dan semua aturan lain yang dibutuhkan manusia dari zaman ke zaman.

Bahkan dalam situasi kritis, sistem islam mampu menunjukkan kemampuan memberi solusi secara mendasar sekaligus dengan paradigma yang benar. Seraya di saat sama, memberi keteladanan yang agung tentang cara negara dan pemimpinnya memenej krisis dengan mengoptimalkan segala potensi yang ada, dan dengan segala upaya yang bisa dilakukan, sebagai wujud tanggung jawab kepemimpinan.

Tak heran jika sistem Islam tak hanya bisa menyelesaikan kasus demi kasusnya saja, tapi juga membawa hikmah berupa meningkatnya kualitas kehidupan umat, berikut melahirkan inspirasi dan penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi umat di masa depan.

Sungguh hari ini, umat manusia dan alam semesta benar-benar membutuhkan sistem Islam. Sebuah sistem pengganti bagi sistem sekuler demokrasi kapitalisme yang telah terbukti rusak dan membawa kerusakan.

Namun berusaha mewujudkan sistem Islam tentu bukan sekadar karena dorongan kebutuhan. Melainkan karena lahir dari kesadaran, bahwa terikat dengan Islam secara keseluruhan adalah sebuah kewajiban.

Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)

Dan firman-Nya:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“…  Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Q$ Al-Baqarah: 85) Wallaahu a’lam [MNews|SNA]

 21 April 2020

MuslimahNews.com, Editorial

(nahimunkar.org)

(Dibaca 305 kali, 1 untuk hari ini)