Panggilan ‘Lur’ Dipakai di Rapat-rapat PKI Sebelum Berontak 1965


Rupanya PKI di Jawa pilih gunakan lafal ‘Lur’ (dari kata sedulur, saudara) itu sebagai terjemahan dari istilah kamerad yang disukai komunis sedunia, yang artinya kawan atau teman.

Wikipedia menyebutkan: Ketika gerakan sosialis dan komunis mendapatkan momentum pada pertengahan abad ke-19, kaum sosialis-komunis mulai mencari alternatif egaliter untuk istilah-istilah seperti “Mister”, “Miss”, atau “Madam”. Mereka lebih memilih “kamerad” sebagai istilah yang mereka sukai. / https://id.wikipedia.org/wiki/Kamerad

Semoga sejarah semacam ini bisa difahami. Sehingg kita tidak asal ikut2an tanpa tahu duduk soalnya.

Masalah panggilan ‘Lur’


panggilan ‘Lur’ itu biasa dipakai orang2 PKI tahun 1960an, terutama dalam rapat2 PKI, kata orang desa saya di Jawa Tengah yang punya famili di desa basis PKI.
Walau sebutan ‘Lur’ itu dari lafal ‘sedulur’ alias saudara, tapi orang desa saya sangat menghindarinya, karena ‘Lur’ itu sebutan yang sering dijadikan ciri khas di kalangan wong PKI zaman itu.

Sampai sekarang pun, sebutan ‘Lur’ itu tetap dihindari, apalagi dalam acara2 formal, apalagi dalam khutbah Jum’at. Misalnya ada khatib berkhutbah, ” Ayo Lur kita tingkatkan taqwa kita agar masuk surga’, maka sang khatib akan dianggap asing ucapannya itu, dan bahkan bagi yang generasi tua, mungkin akan membatin, apakah khatib itu meniru gaya2 PKI atau bagaimana?

Berhati-hati dalam perkara seperti ini, agar selamat aqidah Umat Islam, sebenarnya ada anjurannya, memang. Walau asalnya boleh2 saja, tetapi ketika sebutan itu dipakai sebagai ciri khas di kalangan musuh Islam, maka perlu dihindari. Kadang ada ungkapan yang pada asalnya merupakan ucapan biasa, namun ketika sudah jadi ciri khas suatu golongan tertentu yang bukan Islam, maka Umat Islam tidak perlu memakainya. Misalnya, ungkapan ‘Puji Tuhan’ itu biasanya diucapkan orang Nasrani. Maka orang Muslim tidak perlu menggunakannya, cukup mengucapkan alhamdulillah.

Ada tuntunan dalam Islam mengenai masalah ini.

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلَا بِالنَّصَارَى فَإِنَّ تَسْلِيمَ الْيَهُودِ الْإِشَارَةُ بِالْأَصَابِعِ وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الْإِشَارَةُ بِالْأَكُفِّ

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR Tirmidzi, hasan)

Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan).


foto/ ksks

(nahimunkar.org)

(Dibaca 630 kali, 1 untuk hari ini)