Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen Dudung Abdurachman. Foto/ pejabatpublikcom

Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen Dudung Abdurachman harus memberikan rujukan saat menyebut semua agama sama di mata Tuhan.

Dari mana bapak ini tahu semua agama sama dimata tuhan?, harusnya disebutkan sumber rujukannya pernyataan itu,” kata politikus Golkar Andi Sinulingga di akun Twitter-nya @AndiSinulingga.

Andi Sinulingga khawatir pernyataan Dudung itu membuat orang bisa berpindah-pindah ke tempat ibadah agama lain karena dianggap sama.

“Kalau benar semua agama sama dimata tuhan, maka org bisa dong pindah2 rumah ibadah tiap hari, hari ini ke mesjid, besok ke gereja, besoknya lagi ke sinagok, ke kuil dstnya,” jelas Andi Sinulingga.

Sebelumnya, Letjen Dudung Abdurachman menyatakan semua agama sama di mata Tuhan.”Bijaklah dalam bermain media sosial sesuai dengan aturan yang berlaku bagi prajurit. Hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama. Karena semua agama itu benar di mata Tuhan,” ucap eks Gubernur Akmil tersebut, Senin (13/9).

Dudung juga menekankan dalam setiap melaksanakan latihan ataupun tradisi masuk satuan harus profesional dan proporsional. Dudung meminta tradisi prajurit baru dilakukan secara tegas, namun tidak kasar.

“Laksanakanlah pembinaan tradisi kepada prajurit yang baru masuk secara keras sesuai aturan, tetapi bukan kasar. Karena tujuan dari tradisi satuan adalah untuk membangun kebanggaan dan jiwa korsa tanpa kekerasan maupun tindakan-tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan satuan,” kata Dudung.

suaranasional.com, 4/09/2021ByIbnu Maksum

***

Rujukan Islam Jelas, Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Bagi setiap orang Islam sudah memiliki pegangan pokok sebagai rujukan berIslam yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perkataan siapapun yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tertolak.

Mengenai agama yang benar dan diterima oleh Allah Ta’ala sudah ada ayat-ayatnya dan haditsnya, maka kita tinggal mengikutinya.

Di antaranya ini.

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ وَمَا ٱخۡتَلَفَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ بَغۡيَۢا بَيۡنَهُمۡۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ١٩ [آل عمران: 19]

«Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. Dan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai agama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan yang sah tentang kebenarannya; (perselisihan itu pula) semata-mata kerana hasad dengki yang ada dalam kalangan mereka. Dan (ingatlah), sesiapa yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah Amat segera hitungan hisabNya(19)» [Al-i’Imran: 19]

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ٨٥ [آل عمران: 85]

«Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari akhirat kelak termasuk dari orang-orang yang rugi(85)» [Al-i’Imran: 85]

 

Ketika Allah telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang mengikutinya dengan patuh disebut Muslim -mukmin, sedang yang mengingkarinya disebut kafir. Yang menolak syari’at Islam pun termasuk yang menolak itu. Sedangkan menentang syari’at Allah subhanahu wata’ala Itu ada ancaman kerasnya dari Allah Ta’ala:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً ﴿١١٥﴾

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’/115).

Ummat Islam wajib mewaspadai para penentang Rasul itu dan menghindarkan diri serta keluarga dari aneka kesesatan yang dibawa oleh para penentang Rasul itu, supaya ketika maut menjemput, masih tetap dalam keadaan Muslim. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala telah wanti-wanti (berpesan dengan sungguh-sungguh agar dijaga pesan itu):

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragamaIslam.” (QS Ali Imran: 102).

Dalam hadits ditegaskan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ». (رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”  (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in  naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

 

Menghadapi  Islam Liberal

Untuk menghadapi pemurtadan yang diusung Islam Liberal itu sudah ada tuntunan dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Di antaranya ayat:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.”  (QS Al-Kaafiruun/ 109: 6).

Ibrahim Al-Khalil dan para pengikutnya berkata kepada kaumnya, orang-orang musyrikin:

إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamudan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”  (Al-Mumtahanah/ 60: 4) (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, Darul Fikr, Beirut, hal 509).

   Dalam hadits ditegaskan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ». (رواه مسلم).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”  (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii’in  naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

Faham inklusifisme dan pluralisme agama yang diusung oleh Islam liberal/ JIL jelas bertentangan dengan firman Allah SWT dan sabda Nabi saw. Berarti faham Islam liberal/ JIL itu adalah untuk merobohkan ayat dan hadits, maka wajib diperangi secara ramai-ramai. Kalau tidak maka akan memurtadkan kita, anak-anak kita, dan bahkan cucu-cicit kita.

https://www.nahimunkar.org/bahaya-islam-liberal-dan-pluralisme-agama-pemurtadan-berlabel-islam-1-arsip/

***

Bicara agama tanpa dalil, berbahaya

Bicara agama tanpa dalil, berbahaya, karena bicara atasnama Allah yang punya hak mengenai agama.

Agama itu hak Allah Ta’ala, makanya yang mengutus utusan yakni Rasul dan memberikan wahyu adalah Allah Ta’ala. Ketika Allah sudah mengutus Rasul yang membawa wahyu dari Allah Ta’ala, maka manusia tinggal mengikutinya. Itulah cara beragama.

Oleh karena itu, bila ada orang mengatakan sesuatu mengenai agama, apalagi agama apapun lalu disebut semuanya benar bagi Allah, maka orang yang bicara itu harus menunjukkan wahyu yang mendasari ucapannya. Bila tidak, maka kalau sampai termasuk kategori berdusta atas nama Allah, terkena ancaman keras di antaranya ini:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan siapakah yang lebih zhalim/aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allâh, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. [Al-An’âm/6: 21]

Orang-orang yang membuat kedustaan atas nama Allâh Azza wa Jalla , tidak akan beruntung. Meskipun mereka mendapatkan kesenangan dunia, namun mereka pasti akan menghadap Allâh Azza wa Jalla dan merasakan pedihnya siksa. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ﴿٦٩﴾ مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ

Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh tidak beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. “[Yûnus/10: 69-70].

(nahimunkar.org)

(Dibaca 194 kali, 1 untuk hari ini)