Pelit dan Iman Tidak Bisa Bersatu

Burung Kutilang

Kutilang pantat kuning/foto yahoo

Ungkapan “pantat kuning” itu artinya pelit. Dan itu sudah menyatu, tidak dapat dipisahkan. Tidak bisa pantat diartikan sendiri, kuning diartikan sendiri; itu tidak bisa.

Juga jangan ditanyakan: kenapa. Karena ya sudah begitu adanya. Tetapi kalau masih mau ngejar-ngejar untuk bertanya, ini jawabannya:

Kutilang Pantat Kuning: Berarti “Burung kutilang yang pantatnya kuning”, merupakan ungkapan Betawi yang mempergunakan nama jenis burung. Adapun makna yang terkandung menggambarkan sifat seseorang yang amat kikir. Maksud pemakaian ungkapan ini di kalangan masyarakat Betawi, menasehatkan dan menyindir seseorang yang kikir, supaya tidak bersifat seperti itu lagi./ jakarta.go.id/v2/encyclopedia

Dalam Islam, Kikir Tidak Bisa Berkumpul dengan Iman

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: “خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُؤْمِنٍ: الْبُخْلُ، وَسُوءُ الْخُلُقِ”.

“Dari Abu Sa’id r.a, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua kebiasaan yang tidak bisa berkumpul dalam diri seorang mukmin yaitu kikir dan akhlak yang buruk.”. (H.r. Tirmidzi, Kitab Misykat).

Berbuat bakhil dan berakhlak buruk sama sekali bukanlah sifat seorang mukmin. Orang yang berbuat bakhil dan berakhlak buruk hendaknya meneliti imannya. Orang seperti itu dikhawatirkan akan kehilangan iman. Karena, setiap perbuatan baik akan menyebabkan orang yang melakukannya akan melakukan perbuatan baik lainnya, demikian pula perbuatan buruk juga akan menyebabkan dilakukannya perbuatan buruk lainnya.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda,

وَلَا يَجْتَمِعُ شُحٌّ وَإِيمَانٌ فِي قَلْبِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Syuhh (tingkatan tertinggi dari kekikiran) tidak bisa berkumpul dengan iman dalam hati seorang muslim.”.(Kitab Misykat). (HR Ahmad, shahih). http://teguhtriatmojo.blogspot.co.id

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, ungkapan pantat kuning yang maknanya pelit atau kikir itu termasuk dalam jenis idiom.

Mari kita simak dua tulisan berikut ini mengenai idiom.

***

Idiom Dalam Bahasa Indonesia

Idiom atau ungkapan adalah suatu gabungan kata, yang merupakan penggalan kalimat yang memiliki arti tersendiri. Atau kelompok kata yang menyatakan makna kiasan.

Contoh idiom:

anak emas = anak yang paling disayang
Angkat topi = salut atau hormat
Cagar alam = tempat pelindungan alam
Darah daging = anak
Batang hidung = tampak/ hadir
Buaya darat = penggemar wanita, pembohong
Hidung belang = laki-laki suka selingkuh
Lupa daratan = hilang ingatan
Lintah darat = rentenir
Kucing garong = sifat garang, raut muka yang kurang menyenangkan
Panjang tangan = pencuri
Merah padam = marah
Keras kepala = watak yang keras
Cinta buta = betul-betul cinta
Makan garam = banyak pengalaman
Angkat tangan = menyerah

Ringan kepala = mudah mengerti dan memahami

Idiom dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yakni:

  1. Idiom penuh, yaitu idiom atau ungkapan yang seluruh unsure pembentuknya tidak dapat dikembalikan kepada makna denotasinya/sebenarnya.
    Contoh:
    a Gulung tikar berarti bangkrut.
    b Pantat kuning berarti pelit/kikir.
    Kata gulung dan kata tikar sudah kehilangan makna denotasinya. Demikian juga kata pantat dan kata kuning.
  2. Idiom sebagian, yaitu idiom atau ungkapan yang sebagian unsur pembentuknya masih dapat dikembalikan kepada makna denotasinya.
    Contoh:
    a Kabar burung berarti kabar atau berita yang belum tentu kebenarannya.
    b Daftar hitam berarti daftar nama orang yang terlibat dalam tindak kejahatan.
    Dalam hal ini, kata kabar dan daftar masih dapat dikembalikan pada makna denotasinya.

Idiom ialah ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan unsur makna yang membentuknya.

Contoh

(1) selaras dengan                                  (2) membanting tulang

insaf akan                                                 bertekuk lutut

berbicara tentang                                    mengadu domba

Pada contoh (1) terlihat bahwa kata tugas dengan, akan, tentang, dengan kata-kata yang digabungkannya merupakan ungkapan tetap. Jadi, tidak tepat jika diubah atau digantikan, misalnya menjadi:

                        selaras tentang

insaf dengan

berbicara akan

Demikian pula contoh (2), idiom-idiom tersebut tidak dapat diubah misalnya menjadi:

membanting kulit

bertekuk paha

mengadu kambing

Diposkan oleh Guntur Meruntu di 00.04

IDIOM  ganz-26/26/2013 http://ganzmeruntuguntur.blogspot.co.id/2013/09/idiom-dalam-bahasa-indonesia.html

***

Idiom dan Peribahasa

1. Ungkapan atau idiom

Ungkapan atau idiom ialah bentuk bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan unsure yang membentuknya.

Dalam bahasa Indonesia, idiom dibagai atas beberapa jenis sebagai berikut.

a. Idiom dengan menyebutkan bagian tubuh

Contoh:

  • Selesaikanlah masalah itu dengan kepala dingin !

        (kepala dingin = pikiran yang tenang)

  • Aji kelihatan berat hati meninggalkan tanah kelahirannya.

        (berat hati=bimbang)

b. Idiom yang berhubungan dengan indra.

Contoh:

  • Jangan bermuka masam terus nanti kelihatan tua!

          (bermuka masam = murung)

  • Semenjak perusahaannya mengalami kebangkrutan, dia kelihatan sempit hati.

          (sempit hati = lekas marah)

c. Idiom dengan nama warna

Contoh:

  • Gadis itu tampak merah muka jika bertemu pemuda idamannya.

          (merah muka= tersipu malu)

  • Kasus pencurian kemarin diajukan ke meja hijau.

          (meja hijau = pengadilan )

d. Idiom dengan nama benda-benda alam

Contoh:

  • Sekarang keluarga Pak Harun jadi bumi langit di kampung ini.

          (bumi langit = orang yang sering diharapkan pertolongannya)

  • Karena salah air, anak itu jadi nakal.

          (salah air = salah didikan)

e. Idiom dengan nama binatang

Contoh:

  • Fandi selalu jadi kambing hitam di kampungnya.

           (kambing hitam = orang yang dipersalahkan)

  • Karena berotak udang, Diding sering tidak naik kelas.

          (otak udang = bodoh)

f. Idiom dengan nama bagian tumbuhan

Contoh:

  • Semenjak musibah itu Hendi hidup sebatang kara

          (sebatang kara = hidup sendiri)

  • Buku ini merupakan buah pena penulis yang sangat dikagumi banyak orang

           (buah pena = karangan)

g. Idiom dengan nama bilangan

Contoh:

  • Kita harus bersatu padu jika ingin menang dalam pertandingan nanti.

          (bersatu padu = benar-benar bersatu)

  • Karya seni ini tiada duanya di negeri ini.

          (tiada duanya = tiada bandingnya)

2. Peribahasa

Peribahasa adalah bahasa berkias atau kelompok kata yang tetap susunannya.

Peribahasa dalam bahasa Indonesia dibagi atas pepatah, perumpamaan, Ibarat, tamsil,  dan pameo.

a. Pepatah

Pepatah ialah kiasan yang tepat dan langsung untuk mematahkan pembicaraan seseorang.

Contoh:

  • Tong kosong nyaring bunyinya.

          (orang yang banyak bicara biasanya kurang berilmu)

  • Anjing menyalak biasanya tidak akan menggigit.

          (orang yang banyak bicara biasanya tidak membahayakan)

b. Perumpamaan

Perumpamaan ialah kalimat yang mengumpamakan atau memisalkan pekerti, keadaan, kejelitaan atau budi seseorang dengan alam sekitar.

Contoh:

  • Seperti kerbau dicocok hidung.

         (Orang yang menurut saja diperlakukan apapun oleh orang lain)

  • Bagai air di daun talas.

          (orang yang tidak tetap pndiriannya)

c. Ibarat

Ibarat ialah perumpamaan yang lebih tegas daripada perumpamaan biasa, karena diberi penjelasan lebih lanjut.

Contoh:

  • Ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang

          (Sesuatu yang dihargai hanya pada waktu memerlukan saja)

  • Bagai kerakap yang hidup di batu, hidup segan mati tak mau.

          (Orang yang hidupnya sangat merana)

d. Tamsil

Tamsil ialah perumpamaan yang bersajak dan berirama

Contoh:

  • Tua-tua keladi, makin tua makin jadi.

         (Orang yang makin tua usianya, makin brtabiat seperti anak muda)

  • Ada ubi ada talas ada budi ada balas

         (Tiap berbuatan seseorang akan mendapatkan balasan)

e. Pemeo

Pemeo ialah kalimat pendek yang pada mulanya diucapkan oleh seorang saja, tetapi pada suatu waktu ditiru oleh orang banyak dan akhirnya menjadi umum serta digunakan sebagai semboyan.

Contoh:

  • Sekali merdeka tetap merdeka

         (mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan)

  • Patah tumbuh hilang berganti

          (selalu ada penerus baru bagi generasi pendahulu)

Diposkan oleh Hari Aji R. P. di 10.14

Jumat, 13 April 2012

http://ajisangguru.blogspot.co.id/2012/04/idiom-dan-peribahasa.html

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.527 kali, 3 untuk hari ini)