Para du’at yang kami hormati, ketika (Musdah Mulia) penghalal homosex dari Indonesia masuk di buku  ‘500 Muslim Berpengaruh Di Dunia’. Juga (Azyumardi Azra) pembela aliran sangat sesat Ahmadiyah masuk dalam buku itu. (dapat dilihat di sini: https://www.nahimunkar.org/buku-500-muslim-berpengaruh-di-dunia-dari-penghalal-homosex-sampai-pentolan-aliran-sesat/?fbclid=IwAR0CY0Gb5PKidQq-fTemGTG2bF25Zl1sOx5bFq8EetwaT7VIBH77VjwWQTs ). Tergeraklah tangan ini untuk menulis sesuatu teruntuk para du’at yang kami hormati.

Para du’at yang kami hormati, perusakan Islam dilancarkan secara sistematis, dari tingkat lokal sampai internasional. Mereka menusuk dari dalam dengan membuat pengelabuan-pengeabuan dan syubhat-syubhat untuk mengecoh Umat Islam dari berbagai jurusan dan sarana. Mereka angkat-angkat para penyesat untuk menduduki jabatan dan berkiprah kemudian disiar-siarkan lewat aneka macam media dan sarana. Sedangkan politik dan kekuasaan pun mengusung-usung mereka, dan sebaliknya mereka pun mengusung-usung penguasa yang telah mempromot mereka.

Setelah upaya mereka yang menjerumuskan itu berhasil, banyak Umat Islam terjerumus ke kemusyrikan baru dengan aneka bentuknya, entah itu yang seolah mentereng berlabel pluralisme agama, liberalisme, inklusifisme, multikulturalisme (yang semuanya itu merupakan kemusyrikan baru karena menganggap Islam relatif sama benarnya dengan agama-agama lain) ataupun kemusyrikan warisan nenek moyang seperti sesajen, sedekah laut, sedekah bumi, nadran laut, sesajen Balia di Palu dan sebagainya dengan sebutan kearifan lokal (kejahilan dan kemusyrikan lokal?). Artikel tentang Ritual Ritual Kesyirikan Berkedok Kearifan Lokal di Indonesia silakan simak di sini: https://www.nahimunkar.org/ritual-ritual-kesyirikan-berkedok-kearifan-lokal-di-indonesia/

Kemudian Allah datangkan sebagian bencana: gempa, tsunami, penenggelaman ke bumi dan sebagainya. Seperti gempa-tsunami yang terjadi di Palu Sulawesi Tengah, Jum’at sore 28/9 2018 (18 Muharram 1440H), di pantai Palu sedang diadakan upacara pembangkitan kembali kemusyrikan sesajen Balia dalam upacara Festival Budaya Palu. Walikota dan wakilnya, yang disung oleh PKB dan PAN, yang menang dalam pilkada, diresmikan diangkat 2016, langsung membangkitkan kembali kemusyrikan sesajen Balia yang telah terkubur lama itu. Nah, pada tahun ketiga diadakan secara besar-besaran, dihancurkanlah oleh tsunami, 2018 itu.

Pembangkitan kembali kemusyrikan itu dibesarkan dengan pembangunan perkampungan baru di pantai untuk acara kemusyrikan dengan biaya 4,3 miliar dari pemkot Palu, baru saja selesai untuk digunakan selama 10 tahun,namun langsung dihancurkan Allah dengan tsunami saat acara festival kemusyrikan berkedok festival (tahunan) Kebudayaan Palu Nomoni di pantai Talise, Palu Sulawesi Tengah, 28 September 2018.

Ibrah dari Gempa Tsunami Palu Dibalik Terpilihnya Pemimpin yang Pro Kemusyrikan dan Kemubaziran

by Nahimunkar.com 8 Oktober 2018

Pandangan udara Perumnas Balaroa yang rusak dan ambles akibat gempa bumi Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10). Berdasarkan data Lapan, dari 5.146 bangunan rusak, sebanyak 1.045 di antaranya Perumnas Balaroa yang ambles. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Pelajaran Berharga, Terpilihnya Pemimpin yang Pro Kemusyrikan, Rawan Timbul Bencana

Upacara Kemusyrikan Diamuk Gempa Tsunami Palu, Ribuan Orang Meninggal Dan 5000 Hilang

Ribuan orang meninggal, ribuan bangunan hancur dan amblas diterjang gempa Tsunami Palu di (akibatkan) acara Pembangkitan Kembali Sesajen Kemusyrikan, sedang Walikota Palu dan Wakilnya pencetus dan Penyelenggara kemusyrikan itu Lolos dari Amukan Tsunami.

Dimulainya tradisi sesajen kemusyrikan (yang sudah lama terkubur tapi dibangkitkan kembali) ini sejak 2016, terpilihnya walikota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha).  Kedua pasangan ini diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

1.763 orang meninggal, 5.000 orang diduga hilang

Data terbaru BNPB, Ahad (7/10/2018) pukul 13.00 WIB, 1.763 orang meninggal dunia, 265 orang hilang, 152 orang diduga masih tertimbun reruntuhan, dan 2.632 orang terluka akibata gempa dan tsunami yang terjadi Sulawesi Tengah.

Kepala Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut ada sekitar 5.000 orang diduga hilang akibat likuefaksi di permukiman Balaroa dan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

“Itu berdasarkan laporan dari Kepala Desa Balaroa dan Petobo,” kata Sutopo di Graha BNPB, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2018). https://www.nahimunkar.org/ibrah-dari-gempa-tsunami-palu-dibalik-terpilihnya-pemimpin-yang-pro-kemusyrikan-dan-kemubaziran/

Ulama mendukung kemusyrikan?

Bukan hanya pihak penguasa saja yang mendukung dan mengadakan upacara kemusyrikan. Bahkan tokoh yang duduk di Lembaga ulama dan juga mengetuai perguruan tinggi Islam (IAIN) di Palu pun terindikasi sebagai orang yang mendukung kemusyrikan di samping blusak-blusuk ke gereja.

Itu dapat dilihat dalam berita, ketua umum MUI Kota Palu menyuruh Umat Islam untuk mensukseskan perayaan kemusyrikan.

Terindikasi Syiah, Ketua MUI Kota Palu Minta Umat Islam Sukseskan Perayaan Imlek

by Nahimunkar.com, 9 Februari 2016

Ketua MUI Kota Palu Prof. Dr. H. Zainal Abidin (foto beritapalu.com)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof. Dr. H. Zainal Abidin meminta kepada seluruh penganut agama untuk turut menyukseskan Imlek yang dirayakan oleh penganut agama tertentu.

Hal itu guna menghargai perayaan hari-hari besar agama lain, serta meningkatkan toleransi antarumat beragama dengan baik didaerah tersebut, katanya di Palu, Sabtu, terkait Hari Raya Imlek 8 Februari 2016. (republika.co.id, Sabtu, 06 Februari 2016, 20:15 WIB).

Perlu diketahui, apa yang disebut gejala kemusyrikan dan kesesatan kini bahkan sampai (merasuk) kepada ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia)nya di kota Palu yang juga memimpin STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri – kini IAIN?) yang oleh orang-orang ditengarai sebagai tokoh aliran sesat Syi’ah. Buktinya, Zainal Abidin alumni S3 IAIN (kini UIN) Alauddin Makassar itu menulis buku, dan dia tulis akhir kesimpulannya:

“…antara syi’ah dan sunni atau dengan mazhab Islam lainnya tidak ada pertentangan, yang ada hanya perbedaan dalam interpretasi terhadap ajaran Islam.” (Drs. H. Zainal Abidin, MAg, Konsep Imamah dalam Kalam Syi’ah, LP4M, Palu, cetakan 1, 2005, halaman 131).

Dusta dan penyesatan seperti itu akan membahayakan bagi Ummat Islam, karena kenyataannya, dibanding orang kafir saja Syi’ah seringkali lebih kejam dan sadis serta tidak toleran sama sekali terhadap Islam (Sunni). Contohnya, di dunia ini, sampai di negeri-negeri orang kafir sekelipun, bahkan di Roma sekalipun, di sana ada masjidnya. Namun di Teheran ibukota Iran yang berfaham Syi’ah tidak ada satupun masjid sunni (Ahlus Sunnah). Bahkan Syekh Ali Taskhiri, ulama Syi’ah Iran terkemuka ketika ditanya wartawan di satu Negara di Afrika Utara, apakah tidak bisa di Teheran didirikan masjid sunni. Dijawab, sampai sekarang belum saatnya. https://www.nahimunkar.org/terindikasi-syiah-ketua-mui-kota-palu-minta-umat-islam-sukseskan-perayaan-imlek/

Berarti di Palu menjelang gempa Tsunami itu, sejak 2016 walikota dan wakilnya membangkitkan kembali kemusyrikan sesajen Balia yang sudah terkubur lama tiba-tiba diupacarakan dengan besar di pantai. Sedang ketua MUI Kota Palu yang juga pemimpin perguruan tinggi Islam negeri di kota itu mengajak untuk mensukseskan perayaan kemusyrikan dari agama bukan Islam yakni perayaan Imlek.

Ketika kemusyrikan ada, seharusnya dicegah, diberantas. Tapi ini orang yang terkemuka untuk mencegahnya justru mendukung kemusyrikan. Sedang kemusyrikan yang sudah terkubur lama justru dibangkitkan dan digedekan kembali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهِ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR Ahmad).

Dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman :

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } [الأنفال: 25]

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: (نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ”.

Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,

 “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”

Ayat tersebut menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.

Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.

Imam Ahmad meriwayatkan:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: “بَلَى”، قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: “يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ”

Dari Ummu Salamah, dia berkata :

“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila perbuatan- perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Ia berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih.?’ Beliau menjawab, “Benar.”

Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka.?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang-orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah.” (HR Ahmad).

Sebagian manusia menyadari bahwa bencana di Palu itu bukan sekadar musibah tapi azab dari Allah Ta’ala, hingga menyadari betapa telah jauhnya penyelewengan dari agama Allah. Namun sebagian yang lain tetap dalam pendiriannya yang jauh dari agama Allah sambil meneruskan keterjerumusan yang telah sama-sama dilakukan bersama mereka yang telah dilibas adzab. Sedangkan dampak dari aneka maksiat dan dosa yang mendatangkan adzab itu bukan hanya menimpa mereka yang berdosa saja, namun juga orang-orang baiknya pula, sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut.

Para du’at perlu waspada, syubhat-syubhat dan kiprah mereka yang membahayakan keimanan Umat Islam bukan hanya didukung dan diusung oleh manusia-manusia tingkat local namun tingkat nasional dan bahkan global.

Ketika kondisi dan situasi perusakan Islam yang dihadapi sudah seperti itu, ( diantara penyebabnya adalah ulah para antek hamba dunia mengantek ke sana-sini demi mengejar dunia dengan menjual agamanya), maka apara du’at penegak Tauhid dalam menghadapinya pun perlu sekali mengoreksi diri, agar tidak terganggu oleh hawa nafsu dalam diri sendiri. Dan hal itu telah diingatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita renungi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِى وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَتَنَافَسُوا فِيهَا

“Aku tidak mengkhawatirkan kalian (wahai para sahabat) melakukan kesyirikan kembali sepeninggalku, tetapi aku khawatirkan kalian akan bersaing-saingan dalam kekayaan dunia.”(Shahih al-Bukhari no. 1279).

Bila sampai terpeleset, maka jejak buruk yang ditempuh para pengusung kemusyrikan- baru dan lama–  tersebut justru diikuti oleh yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Di situlah letak betapa tepatnya kekhawatiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Sedangkan pihak yang telah bersekongkol dengan pendonor-pendonor kemusyrikan, walau masih berlabel Islam, namun boleh jadi telah terjerumus dalam apa yang dikhawatirkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Islam Nusantara

Betapa mengerikannya. Dan itulah yang kini muncul dengan apa yang disebut Islam Nusantara.

Pengusulnya, Said Aqil Siradj ketua umum NU (nahdlatul Ulama) membolehkan upacara kemusyrikan seperti mapag (menjemput) Dewi Sri (dianggap sebagai dewa padi), Nadran Laut dan sebagainya.

Ini videonya:

Artikel selengkapnya dapat dilihat di sini:

https://www.nahimunkar.org/said-aqil-siraj-sas-soal-membolehkan-tradisi-menjemput-dewi-sri-walau-itu-kufur-syirik/

Dari kyai NU pun ada yang mengingatkan, Islam Nusantara itu mengembalikan kepada kemusyrikan.

Awas! Islam Nusantara Mengembalikan kepada Kemusyrikan

by Nahimunkar.com10 Oktober 2015

Ilustrasi ruwatan/ foto kbltnet

Ada sorotan tajam dari kalangan kyai NU di Jawa Tengah mengenai Islam Nusantara, di antaranya diberitakan sebaga berikut.

Putra ulama terkenal KH Maemoen Zubair, KH Najih Maemoen (Gus Najih) mengkritik keras Islam Nusantara.

Gus Najih membuat makalah berjudul “Islam Nusantara dan Konspirasi Liberal”. “Islam Nusantara hadir untuk mensinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat di balik lahirnya wacana Islam Nusantara,” ungkap Gus Najih.

Kata pria ini, dengan Islam Nusantara mereka mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dan seterusnya.

Menurut Gus Najih, para pengusung Islam Nusantara juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran).

“Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara. Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah, tidak lagi fanatik dengan ke-Islamannya, luntur ghiroh islamiyahnya,” jelas Gus Najih.

Gus Najih menegaskan, ada misi “Pluralisme Agama” di balik istilah Islam Nusantara, di samping  juga ada tujuan politik (baca; partai) tertentu, yang jelas munculnya ide tersebut telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.
Demikian berita yang dilansir suaranasional.com, 09/10/2015.

Mengembalikan kepada kemusyrikan.

Dalam berita itu disebutkan, Menurut Gus Najih, para pengusung Islam Nusantara juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi.

Ritual bukan dari Islam yang namanya ruwatan, sesajen,  sedekah laut dan sedekah bumi itu bukan sekadar budaya, namun mengandung keyakinan yang kaitannya minta perlindungan (dari aneka bala’ bencana, celaka, sial dan nasib-nasib buruk lainnya) kepada selain Allah Ta’ala.

Padahal, dalam Islam telah ditegaskan,

وَإِن يَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرّٖ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدۡكَ بِخَيۡرٖ فَلَا رَآدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ١٠٧ [سورة يونس,١٠٧]

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [Yunus : 107]

Ketika orang meminta perlindungan kepada selain Allah untuk dientaskan atau dicegah dari bencana dan sebagainya, padahal yang mampu dan yang berhak mengentasnya dan mencegahnya itu hanya Allah Ta’ala, maka berarti orang itu telah membuat tandingan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah kemusyrikan besar (syirik akbar), dosa paling besar yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala bila sampai meninggal tidak bertaubat, dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, segala amal kebaikannya hapus, dan tempatnya di neraka kekal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

Juga firman Allah Ta’ala,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

Selengkapnya dapat dibaca di sini:

https://www.nahimunkar.org/awas-islam-nusantara-mengembalikan-kepada-kemusyrikan-2/

Penjerumusan ke kemusyrikan lama dan baru, bahkan ke LGBT

Dari fenomena yang merata itu ternyata Umat Islam dikepung oleh aneka jurusan penjerumusan yang mengarah kepada kemusyrikan, baik lama maupun baru. Sedang jalur pengepungannya pun jalur-jalur strategis, dari penjerumus yang menggarap masyarakat tradisional awam, sampai mahasiswa Islam di perguruan-perguruan tinggi Islam, dari ormas2 Islam, partai, sampai jalur kekuasaan. Ramai-ramai menjerumuskan dengan menghidupkan kemusyrikan (lama dan baru) pakai dana yang disedot dari Umat Islam maupun dari asing. Bahkan Umat Islam dijerumuskan pula ke penghancuran moral yakni LGBT dengan didanai asing. (dapat disimak di sini: https://www.nahimunkar.org/banjir-dahsyat-lousiana-as-azab-kaum-gay-undp-danai-lgbt-u8-juta-indonesia-dll-2014-2017/ ).

Para du’at yang kami hormati, dulu para rasul telah diutus ke dunia untuk menegakkan Tauhid dan memberantas kemusyrikan (terkhir adalah Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Setelah itu sudah tidak diutus lagi Rasul, maka tugas para ulama dan da’I lah yang melanjutkan risalah para Nabi itu. Yaitu menegakkan Tauhid, agar menyembah hanya kepada Allah, dan menjauhi kesyirikan alias menjauhi segala macam yang mengalihkan penyembahan dari hanya kepada Allah dialihkan ke selain-Nya. Apapun bentuk dan caranya. Itu wajib diberantas. (Tapi kini sedang digalakkan, digencarkan di mana-mana dari tingkat local sampai nasional, bahkan didukung oleh pihak-pihak global).

 Betapa berat tugas para ulama dan da’I dalam menghadapi itu. Namun betapa mulianya tugas itu, di saat agama yang dibawa Rasul sedang gencar dirusak secara sistematis dari berbagai penjuru baik dari local maupun nasional bahkan global.

Semoga Allah memberkahi penerus-penerus risalah para nabi yang ikhlas li’I’lai kalimatillah hiyal ‘ulyaa.. Aamiin ya Rabbal aalamiin.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahmunkar.org)

(Dibaca 573 kali, 1 untuk hari ini)