Ilustrasi GP Ansor NU/ foto panjimas


Para Kyai NU, nuwun sewu, baro’nya ya perlu diwujudkan dan dibuktikan dengan tindakan, Pak Kyai.

Kasus GP Ansor dengan orang-orang yang menghalalkan pilih pemimpin kafir itu tafaddhol diguwak wae mereka dari organisasi biar ga’ ngotor2i. Kan sudah jelas2 menentang ayat 51 Surat Al-Maidah, dan juga keputusan Muktamar NU di Lirboyo Jawa Timur ke-30 / tahun 1999 tentang haramnya memilih pemimpin kafir.

Kalau mereka itu tidak diguwak, berarti sama dengan memelihara penyakit… Nggih tho…?

Dikhawatirkan, nantinya kaum kafirin dan munafiqin akan ramai2 mengusung penyakit itu di acara2 yg mereka bikin2, lalu digedekan namanya di media2 anti Islam, dan nama itu diatas namakan pakar dari organisasi Ulama ini. Apa ga’ kecipratan kebo gupak, Pak Kyai, kalau begitu itu…? Siapa yang dirugikan, dan siapa yang untung?

Kasus GP Ansor sekarang ini semoga jadi pelajaran berharga. Toh Nabi saw sudah mengingatkan:

« لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ »

Ora prayoga kanggo wong sing iman yen diantup kewan nduwe upas (nganti) kaping pindho ing sak bolongan”. ( muttafaqun ‘Alaih)

Tidak layak bagi seorang yang beriman untuk disengat hewan berbisa sebanyak dua kali dari satu lubang”. ( muttafaqun ‘Alaih)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.108 kali, 1 untuk hari ini)