Telah beberapa kali para pejabat dan ulama dari Indonesia mengadakan pertemuan negeri serumpun Melayu untuk membahas dan membuat keputusan tentang membentengi aqidah Umat Islam dari kesesatan dengan sebutan kawalan akidah.

Hasilnya, dalam prilaku sangat jauh berbeda antara pejabat Indonesia dan negeri Melayu lainnya. Kini dapat dilihat, Indonesia mengadakan natalan besar-besaran dan disebut perayaan natal nasional dengan biaya Rp20 miliar, dihadiri Presiden Jokowi dan para pejabat. Tempatnya pun di ujung timur yakni Papua.

Dengan Biaya 20 M, Jokowi dan Isteri Akan Natalan di Papua

By nahimunkar.com on 4 December 2014

“Dijadwalkan akan ada 1 juta umat yang menghadiri perayaan natal itu. Hadir pula sejumlah gubernur seluruh Indonesia dan duta besar tetangga sahabat.” https://www.nahimunkar.org/dengan-biaya-20-m-jokowi-dan-isteri-akan-natalan-di-papua/

Suara para ulama yang memfatwakan haramnya Umat Islam ikut perayaan natal telah digemakan, tapi tak digubris. Anehnya, pejabat pun tidak malu-malu berpidato, mari kita teladani Rasulullah…

Betapa jauhnya antara ucapan dan prilaku pengingkarannya. Bagaimana kalau para pejabat yang mengaku beragama Islam itu meninggal ketika berada di perayaan agama orang kafir itu? Apakah perlu dishalati, dan bolehkah dikuburkan di pekuburan Muslim? Semua itu tidak digubris.

Semoga saja mereka masih ada setitik rasa malu dengan negeri jiran yang tegas-tegas melarang natalan di areal publik. Bahkan hukumannya 5 tahun bagi yang melanggarnya.

Inilah beritanya.

***

Di Brunei, Perayaan Natal di Area Publik akan Dipenjara Lima Tahun

Rabu, 14/01/2015 16:22:49 Ilustrasi : Jemaat GKI Yasmin menggelar perayaan Natal di depan Istana Negara Jakarta (foto: lintas.me)


Brunei (SI Online)
– Negeri jiran, Brunei Darussalam, secara resmi melarang perayaan Natal di area publik. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyesatan terhadap warga.

Larangan juga berlaku untuk semua hal yang berkaitan dengan perayaan Natal, termasuk aksesori natal seperti pemakaian topi santa claus untuk anak-anak atau orang dewasa.

Pelarangan ini juga sesuai dengan pernyataan dari Kementerian Agama Brunei Darussalam tertanggal 27 Desember 2014 yang mengatakan perayaan natal di ruang publik termasuk dalam menyebarkan agama selain agama Islam.

Pernyataan yang sama juga menegaskan bahwa menyebarkan simbol-simbol agama lain melanggar Pasal 207 (1) hukum pidana Brunei, yang sanksinya adalah denda 20.000 dolar Brunei (sekitar Rp190,5 juta) atau penjara selama lima tahun atau keduanya.

“Orang-orang yang memeluk kepercayaan lain yang hidup di bawah kekuasaan negara Islam, dapat mempraktikkan agama mereka atau merayakan hari besar keagamaan mereka di antara komunitas mereka, dengan kondisi tidak menampilkan secara terbuka kepada umat Islam,” ujar seorang juru bicara.

red: abu faza
sumber: daily mail

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.346 kali, 1 untuk hari ini)