.

Media sekuler seperti Tempo yang dikenal liberal dan mengusung isu-isu mengganjal Islam telah menyuarakan calon pengganti Sahal Mahfudh Ketua Umum MUI dan Rais ‘Aam PBNU yang wafat  baru-baru ini.

Bila tidak ada kepentingan apa-apa tentunya media sekuler liberal itu tidak segera menyuarakan siapa calon pengganti  di dua lembaga atau ormas Islam terkemuka itu sepeninggal Ahmad Sahal Mahfudh. Karena selama ini orang yang sudah tua dan tinggal di Pati Jawa Tengah itu belum tentu mampu hadir dalam setiap rapat-rapat. Sehingga jalannya roda dua lembaga atau ormas besar Islam itu belum tentu ditentukan oleh Mbah Sahal.

Buktinya, sampai Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj diam-diam menandatangani kerjasama dengan perguruan tinggi syiah di Qom Iran tanpa sepengetahuan kepengurusan PBNU, lalu ditanya mungkir, kemudian tertangkap basah karena ditunjukkan buktinya ; ternyata yang mencabut « perselingkuhan » SAS (Said Aqil Siradj) itu bukan Mbah Sahal. Lihat artikel berjudul Nah, Said Aqil Siradj tertangkap basah kerjasama dengan Syiah – See more   at: https://www.nahimunkar.org/nah-said-aqil-siradj-tertangkap-basah-kerjasama-dengan-syiah/#sthash.tQsnWcef.dpuf

Demikian pula ketika bawahan Mbah Sahal di NU yaitu A Mustofa Bisri menyuara demi membela aliran sangat sesat yakni Ahmadiyah, ternyata Mbah Sahal tidak terdengar menegurnya apalagi menindaknya. Masalah pembelaan terhadap aliran sangat sesat Ahmadiyah di antaranya dapat dilihat tulisan berjudul Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah https://www.nahimunkar.org/ngawurnya-a-mustofa-bisri/ – See more at: https://www.nahimunkar.org/nu-akan-dipimpin-pasangan-liberal-pembela-aliran-sesat/#sthash.LfGW5vvc.dpuf

Sedangkan di MUI, bawahan Mbah Sahal dan sama-sama NU  yakni Ma’ruf Amin dikenal runtang-runtung bahkan wira-wiri didampingi “petugas khusus” LDII. Padahal LDII adalah aliran yang dinyatakan sesat menyesatkan dan membahayakan aqidah Islam maka MUI dalam rekomendasinya mendesak Pemerintah agar membubarkannya. Ternyata Mbah Sahal tidak terdengar menegur bawahannya yang tidak amanah itu apalagi menindaknya. Padahal rekomendasi MUI secara tegas dapat dibaca:


Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Sangat disayangkan, orang yang oleh media liberal disuarakan untuk menggantikan Mbah Sahal di MUI adalah Ma’ruf Amin, yang komplot dengan aliran sesat LDII. Di antara jejak rekam Ma’ruf Amin dapat dibaca sebagai berikut.

BILA aliran sesat LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) kini kian berani, itu karena memang ada dalihnya.

Pertama, kehadiran KH Ma’ruf Amin Ketua Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) –saat itu– pada acara Rapat Kerja Nasional LDII yang berlangsung di Balai Kartini Jakarta, Selasa 6 Maret 2007. Kehadiran Ma’ruf Amin ketika itu atas nama pribadi. Padahal, MUI telah mengeluarkan ketetapan bagi seluruh pengurusnya berupa larangan menghadiri acara-acara yang diselenggarakan LDII seperti Rakernas dan semacamnya, termasuk kehadiran secara pribadi. Alasannya, karena MUI tetap menyatakan LDII  sebagai aliran sesat, meski mereka secara gencar telah mengkampanyekan (kebohongan) bahwa LDII sudah berubah.

Larangan menghadiri acara LDII itu sejalan dengan hasil Munas Ulama 2005. MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu (seperti tersebut di atas).

– See more at: https://www.nahimunkar.org/aliran-sesat-ldii-semakin-berani-maruf-amin-dan-jusuf-kalla-perlu-waspada/#sthash.IaHiQfRU.dpuf

Sepeninggal Mbah Sahal, apakah di MUI akan digantikan kedudukannya oleh Ma’ruf Amin yang ditengarai telah komplot denga aliran sesat LDII ? Sedang di NU, apakah kedudukan Mbah Sahal sebagai Rais ‘Aam akan digantikan oleh A Mustofa Bisri yang terang-terangan membela aliran sesat Ahmadiyah?

Kalau oran-orang yang di MUI masih mau memperhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga mereka yang di PBNU masih menggubris sabda Nabi Sahallalahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka perlu diperhatikan bahwa Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ ؟ قَالَ : السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ.

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang berbicara dalam masalah umum.”
[HR. Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dishahihkan dalam Shahih Al-Jami’, no. 3650]

 Apakah para ulama di MUI hanya kenal dan mengakui adanya hadits peringatan tegas itu namun justru akan melanggarnya dan tetap mempercayakan amanah kepada yang telah mereka kenal sendiri “kurang amanah”? Semoga saja tidak.

Adapun kepada NU, monggo kerso, samang badhe dadosaken nopo niku urusan samang. (terserah kalian, kalian mau jadikan apa itu NU adalah urusan kalian). Tetapi menyampaikan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam yang telah wanti-wanti seperti itu memang perlu dilakukan, karena gejalanya memang sudah tampak jelas. Sehingga ketika kalian (NU) benar-benar mengangkat orang yang tidak amanah bahkan membela dan pro aliran sesat, maka sebelumnya sudah diingatkan. Itu saja.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.534 kali, 1 untuk hari ini)