parpol-ilustrasi_83265723943453

Ilustrasi : antaranews.com

  • Nampaknya para pemimpin partai-partai politik hanya tinggal menunggu nasib. Kapan mereka akan digelandang KPK, dimasukkan ke dalam penjara militer (RTM), di Guntur. Tidak ada yang dapat selamat. Satu-satu akan menyusul Luthfi Hasan Ishak.
  • Di akhir bulan Februari akan ada langkah-langkah yang sangat penting dari KPK, khususnya membersihkan negara ini dari para “penjahat” yang berbaju partai. Penjahat yang berbaju partai ini lebih menakutkan bagi masa depan Indonesia, dibandingkan dengan ancaman apapun. Negara akan tenggelam, bila tidak ada langkah yang difinitip dari penegak hukum, mengakhiri KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
  • Kita berharap KPK dapat melakukan tindakan yang lebih luas, menangkap dan memenjarakan para tokoh dan pemimpin partai yang korup, tamak, rakus, dan tidak bermoral. Karena negara ini akan menjadi hancur, bila negara ini dipegang dan dipimpin partai yang sangat korup, tamak, rakus, dan tidak bermoral.

Inilah soroitannya.

***

Para Pemimpin Partai Politik Tinggal Menunggu Nasib?

Jakarta (voa-islam.com) Siapa menanam akan memetik buahnya. Siapa berbuat harus menanggung akibatnya. Berbuat baik akan menerima kebaikan. Berbuat jahat akan menerima hukuman atas kejahatannya. Semua apa yang mereka kerjakan, pasti akan kembali kepada diri mereka sendiri. Inilah sebuah kemestian yang bakal dialami oleh siapapun. Tanpa terkecuali.

Nampaknya para pemimpin partai-partai politik hanya tinggal menunggu nasib. Kapan mereka akan digelandang KPK, dimasukkan ke dalam penjara militer (RTM), di Guntur. Tidak ada yang dapat selamat. Satu-satu akan menyusul Luthfi Hasan Ishak.

Semuanya hanya menunggu giliran. Sesuai dengan tingkat kejahatan yang mereka lakukan. Tidak perlu mereka harus mengelak. Berkelit. Mensiasati KPK dengan kekuasaan mereka. Mereka yang sudah melakukan kejahatan, berhak diganjar.

Momentumnya sangat tepat. Menjelang pemilu. Karena para pemimpin partai politik, kebanyakan sudah kalap. Mereka mengeruk uang negara dengan berbagai cara, dan bertujuan kepentingan partainya dan memperkaya diri pemimpinnya. Begitu nampak sangat jelas dan telanjang. Para pemimpin partai menjadikan APBN dan Departemen semata menjadi sapi perahan.

KPK sudah bertindak sangat tepat dan luar biasa. Dengan integritas dan tanggung jawabnya telah menangkap pemimpin tertinggi partai sebuah partai politik, dan dijebloskan ke dalam penjara. Dengan alat bukti yang cukup KPK berhasil menangkap tangan partai politik yang selama ini, menganggap diri mereka “imune” dari tindakan hukum.

Di akhir bulan Februari akan ada langkah-langkah yang sangat penting dari KPK, khususnya membersihkan negara ini dari para “penjahat” yang berbaju partai. Penjahat yang berbaju partai ini lebih menakutkan bagi masa depan Indonesia, dibandingkan dengan ancaman apapun. Negara akan tenggelam, bila tidak ada langkah yang difinitip dari penegak hukum, mengakhiri KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Sesungguhnya, rezim Reformasi ini, seharusnya menjadi antitesa dari rezim Orde Baru, yang sarat dengan KKN, dan telah menghancurkan negara. Tetapi, hanya satu dekade, praktek-praktek KKN ini, sekarang sudah menjadi sebuah gerakan yang sangat menakutkan, dan sebagian besar yang menjadi aktornya, tak lain partai politik.

Partai-partai politik yang lahir di era Reformasi ini, sejatinya sebuah antitesa dari rezim sebelumnya. Para pendiri partai yang lahir pasca Orde Baru, memiliki tujuan ingin memperbaiki kondisi dan keadaan yang rusak, akibat praktek politik yang penuh KKN itu. Selama tiga dekade rezim Orde Baru, melakukan KKN, dan telah menghancurkan negara.

Tetapi, kenyataannya justeru di era Reformasi ini, kembali wajah rezim Orde Baru itu, bermetamorfose di era Reformasi ini, dan partai-partai baru yang lahir ini, justeru mengidap penyakit KKN, dan menjadi kekuatan Neo-KKN, yang lebih destruktif dibandingkan rezim Orde Baru.

Partai-partai politik yang lahir di era Reformasi tidak menampilkan corak pembaharuan politik, dan memperbaiki kondisi dan keadaan, serta menampilkan jati  diri sebagai tauladan. Tetapi, mereka menjadi monster baru, jauh lebih menakutkan bagi bangsa. Mereka lebih rakus dan tamak, dan memakan apa saja, yang sejatinya itu sebuah kejahatan.

Disinilah KPK melakukan perannya mengambil alih tugas penegak hukum yang selama ini mandul. Tidak berdaya menghadapi rezim KKN. Partai politik di era demokrasi ini, mestinya menjadi pilar yang kokoh membangun negara dan bangsa, tetapi justeru kekuatan yang ada di partai-partai ini, menampakkan sisi lain, yang sangat membahayakan bagi masa depan negara.

Penangkan oleh KPK terhadap pemimpin utama partai yang selama ini dikenal dengan jargon, “bersih, peduli, dan profesional”, mengindikasikan bahwa betapa KKN ini, sudah sangat melemahkan semua kekuatan politik, dan tidak ada yang terkecuali. Seharusnya perlu ada kekuatan politik, yang berbasis agama, yang bisa menampilkan sosok yang bersih, moralis, dan para pemimpin lebih menjadi tauladan dengan kemuliaan.

Faktanya, partai yang mengaku berbasis agama, dan dakwah itu, dan para pemimpin lebih paham terhadap agama, tetapi tidak dapat menampilkan pribadi-pribadi yang utuh, tidak tergoda dengan kekuasaan, tidak melakukan kejahatan apapun, dan memberikan tauladan yang mulia.

Semua asumsi dasar tentang kebaikan yang bersumber dari ajaran agama itu, diingkari dan ditinggalkan oleh para pemimpinnya, dan seraya mengikuti langkah-langkah setan. Nilai-nilai luhur dari agama yang mendasari keyakinan mereka, secuilpun tidak diwujudkan dalam kehidupan, dan dalam tata pergaulan sehari-hari. Tetapi, yang ditonjolkan dan nampak, segala yang negatif, dan sangat tidak patut, dan bertentangan dengan moral agama.

Lalu. Dimanakah nilai-nilai agama yang mereka yakini? Dimanakah nilai yang bersifat universal yang selama ini menjadi dasar hidup mereka. Jika mereka masih mengerjakan shalat, tentu mereka akan terjauhkan dari perbuatan yang sangat terkutuk.

Para pemimpin partai politik, terutama yang berbasis agama, mereka sangat faham, bahwa yang memberi suap dan menerima suap, keduanya masuk ke dalam neraka. Masih pula mereka meminta tambahan “perempuan”, yang akan dijadikan pemuas nafsu mereka. Sungguh ini sebuah perbuatan kejahatan yang sangat luar biasa.

Kita berharap KPK dapat melakukan tindakan yang lebih luas, menangkap dan memenjarakan para tokoh dan pemimpin partai yang korup, tamak, rakus, dan tidak bermoral. Karena negara ini akan menjadi hancur, bila negara ini dipegang dan dipimpin partai yang sangat korup, tamak, rakus, dan tidak bermoral.

Para pemimpin partai politik yang bermental “Machiavelis” akan bertindak apa saja, dan membenarkan tindakan yang sangat terkutuk itu. Di era demokrasi ini, di mana partai-partai merupakan unsur-unsur utama dan menjadi pilar kekuasaan, tetapi bila mereka semua merupakan pemimpin tokoh yang tidak bermoral, dan bermental KKN, maka tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka, kecuali kehancuran belaka.

Seluruh bangsa Indonesia, seharusnya berdiri di belakang KPK, guna membersihkan para penjahat yang melakukan kejahatan, dan sangat merugikan rakyat melalui tindkan KKN mereka.

Penangkapan pemimpin dan tokoh partai poltik yang sekarang sedang berlangsung oleh KPK ini, tentu akan membuat rakyat memiliki harapan di tengah-tengah pesimisme yang sangat luas atas masa depan negara. Wallahu a’lam.

Kamis, 07 Feb 2013

***

Harapan salah seorang pendiri PKS

Salah satu pendiri PKS Yusuf Supendi menyebut ada delapan kejahatan yang dilakukan PKS.

“Ada tiga sejoli yang tidak dapat dipisahkan, mereka itu sudah melakukan kejahatan. Saya sudah menulis 60 sampai 80 halaman, judulnya delapan kejahatan PKS,” kata Yusuf saat menghadiri diskusi ‘Lembaga Penegakan Hukum dan Strategi Nasional (LPHSN), Konflik Kepentingan dalam Pemberantasan Korupsi’ di Warung Bumbu Desa Cikini, Jakarta, Minggu (3/2).

Yusuf Supendi juga berharap KPK dapat segera menangkap Presiden PKS Anis Matta dan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Sebab keduanya dinilai sering kali melakukan penyuapan dan penggelapan uang. Ia mengatakan, tidak hanya Luthfi Hasan Ishaaq yang melakukan permainan kotor dalam kasus penyuapan impor daging sapi, namun kata dia, Hilmi Aminuddin pun juga terseret dalam kasus tersebut.

“Hilmi telah melakukan intervensi dengan memasukkan Eman salah seorang pengusaha bersama anaknya yaitu Ridwan yang namanya (dipanggil) Iwan. Dan bulan April saya mendapatkan informasi bahwa Ridwan itu masih aktif melakukan bisnis daging sapi itu. Jadi kalau melihat ini ya jelas ada kaitannya dong,” kata Yusuf usai menghadiri diskusi Lembaga Penegakan Hukum dan Strategi Nasional (LPHSN) dengan tema konflik kepentingan dalam pemberantasan korupsi, di Rumah Makan Bumbu Desa, Jakarta, Minggu (3/2).

Sebelum kasus impor sapi menyeruak, Luthfi Hasan menerima dana dari Jusuf Kalla sebesar Rp 34 miliar saat pemilihan presiden pada 2004. Selain itu, Yusuf juga membeberkan tindak penggelapan dana kampanye Pemilukada DKI Jakarta periode 2007-2012 sebesar Rp 10 miliar pada tahun 2007 lalu. Yusuf mengatakan, pada saat itu dana kampanye untuk pemenangan pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh PKS, Adang Daradjatun dan Dani Anwar dalam periode 2007-2012 sebesar Rp 67 miliar diberikan oleh Adang kepada Anis Matta. Namun, kata Yusuf, saat tim sukses kampanye melakukan kampanye, ternyata uang yang ada kurang sebanyak Rp 10 miliar.

“Pengakuan Anis Matta, dana pilkada itu Rp 67 miliar. Kemudian dari Rp 67 miliar itu diambil oleh Anis Matta. Ketika panitia (Pilkada DKI) melakukan kampanye ternyata duit itu kurang,” jelas Yusuf, di Rumah Makan Bumbu Desa, Jakarta, Minggu (3/2).

Yusuf menambahkan, kehilangan uang tersebut tentu tidak membuat pengurus PKS tinggal diam. Usut punya usut, kata dia, ternyata sebanyak Rp 10 miliar diambil oleh Anis Matta. “Kemudian setelah diperiksa, dia katakan uang itu dikembalikan, oleh karena itu saya tidak berani mengatakan korupsi, itu adalah penggelapan,” terangnya.

Sementara Anis Matta menggelapkan dana Rp 10 miliar dari total “mas kawin” Rp 67 miliar yang diterima PKS dari Adang Daradjatun pada Pilgub DKI pada 2007. Adapun Hilmi Aminuddin mengumpulkan banyak setoran untuk memperkaya diri.

KabarNet pada 04/02/2013, Jika PKS Ingin Selamat, Singkirkan 3 Manusia Ini!

***

{ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44]

44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS Al-An’am: 44).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 187 kali, 1 untuk hari ini)